Kudus, Sinata.id — Jumlah siswa SMA Negeri 2 Kudus yang diduga mengalami keracunan setelah mengkonsumsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus bertambah. Hingga Kamis (29/1/2026), total siswa yang terdampak mencapai 107 orang.
Untuk mempercepat penanganan, sebanyak 50 unit ambulans dikerahkan guna mengevakuasi para siswa ke sejumlah rumah sakit di wilayah Kudus. Iring-iringan ambulans tampak memenuhi ruas jalan di sekitar SMA Negeri 2 Kudus, dengan tujuan antara lain RS Islam Sunan Kudus, RS Sarkies, RS Mardi Rahayu, dan RS Kumala Siwi.
Bupati Kudus Samani Intakoris turun langsung ke lokasi untuk memimpin koordinasi evakuasi dan penanganan medis terhadap para siswa.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada TNI, Polri, rumah sakit swasta, serta para camat. Sebanyak 50 ambulans kami kerahkan agar penanganan di IGD rumah sakit dapat berjalan cepat dan maksimal,” ujar Samani dalam keterangan resminya.
Baca juga:Keracunan MBG Terulang di Sejumlah Daerah, DPR Desak Pengawasan Pangan Diperketat
Ia menjelaskan, berdasarkan data awal, jumlah siswa yang tercatat mengalami gangguan kesehatan mencapai 97 orang, namun angka tersebut terus bertambah seiring proses evakuasi yang masih berlangsung.
“Penanganan kami sebar ke beberapa rumah sakit. Kami juga menyiagakan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) sebagai posko sementara untuk mengantisipasi indikasi keracunan,” tambahnya.
Insiden ini kembali menyoroti program MBG setelah ratusan siswa SMA Negeri 2 Kudus mengalami gangguan kesehatan massal hingga aktivitas belajar mengajar terhenti total. Kejadian berlangsung pada Kamis (29/1/2026) pagi, saat sejumlah siswa mulai mengeluhkan pusing dan mual di dalam kelas.
Dalam waktu singkat, kondisi memburuk dan jumlah siswa yang mengalami keluhan meningkat drastis. Beberapa siswa dilaporkan muntah, lemas, bahkan sempat kehilangan kesadaran. Situasi tersebut memicu kepanikan di lingkungan sekolah, sehingga pihak guru segera menghentikan kegiatan belajar dan melakukan evakuasi.
Deretan ambulans silih berganti keluar masuk halaman sekolah. Suara sirene yang terus meraung membuat suasana berubah menjadi seperti zona darurat. Sejumlah siswa tampak menangis melihat teman-temannya dibawa menggunakan tandu ke rumah sakit.
Baca juga:Irma Suryani Kritisi Wacana Sopir MBG Berkostum Power Rangers
Orang tua siswa pun berdatangan dengan wajah cemas. Sebagian memilih langsung menuju rumah sakit untuk memastikan kondisi anak mereka. Aparat kepolisian dan petugas terkait turut dikerahkan guna membantu pengamanan dan kelancaran proses evakuasi.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kudus, dr. Mustiko Wibowo, membenarkan adanya kejadian gangguan kesehatan massal tersebut. Ia menyebut seluruh siswa yang terdampak masih dalam pemantauan intensif tim medis.
“Data sementara ada 32 siswa yang harus mendapatkan perawatan. Penanganan sudah dilakukan secepat mungkin, dan kondisi mereka masih terus kami pantau,” ujarnya.
Menurut dr. Mustiko, keluhan yang dialami siswa cukup beragam, mulai dari pusing, mual, muntah, diare, hingga gangguan pernapasan yang membutuhkan observasi lanjutan.
“Mayoritas mengeluh gangguan saluran pencernaan, namun ada juga yang mengalami sesak napas,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, berdasarkan penelusuran awal, sebagian siswa telah merasakan gejala sejak masih berada di rumah. Dugaan sementara mengarah pada konsumsi makanan dari program MBG sehari sebelumnya.
Baca juga:Polisi Ungkap Penyebab Sopir Mobil MBG Tabrak Kerumunan Siswa SD di Jakarta Utara
“Makanan yang dikonsumsi merupakan MBG pada hari sebelumnya. Saat ini penyebab pastinya masih kami dalami,” ungkapnya.
Hingga kini, Dinkes bersama pihak sekolah dan instansi terkait masih melakukan penyelidikan menyeluruh, termasuk pemeriksaan sampel makanan, proses pengolahan, serta distribusi MBG.
Sebagai langkah antisipasi, pihak sekolah memutuskan menghentikan sementara kegiatan belajar tatap muka hingga situasi dinyatakan aman. Publik pun menantikan hasil investigasi resmi, sementara kasus ini menjadi peringatan serius terkait pentingnya pengawasan ketat terhadap keamanan pangan di lingkungan sekolah. (A02)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini