Oleh : Ps Dion Panomban.
Renungan harian Abba Home Family pada Kamis, 30 April 2026, mengangkat pesan penting tentang kehidupan orang percaya dalam menghadapi tuduhan, konflik, dan kejahatan. Berangkat dari pemahaman iman bahwa iblis adalah “pendakwa saudara-saudara” yang terus menuduh siang dan malam, umat diajak untuk tidak terjebak dalam rasa bersalah, kebencian, maupun pembalasan.
Dalam terang karya keselamatan Kristus, manusia ditegaskan sebagai pribadi yang telah diterima, dikasihi, dan diampuni. Oleh karena itu, respons hidup orang percaya seharusnya mencerminkan kasih, pengampunan, dan damai sejahtera dalam relasi dengan sesama.
Landasan utama renungan ini diambil dari Roma 12:14-21, yang menekankan prinsip hidup dalam kebaikan, bahkan terhadap mereka yang bersikap jahat.
Pokok Ajaran yang Ditekankan
Pertama, ayat 14 mengajarkan agar setiap orang memberkati mereka yang menganiaya, bukan mengutuk. Ini merupakan sikap yang bertolak belakang dengan naluri manusia pada umumnya, namun menjadi ciri khas kehidupan yang dipimpin oleh kasih.
Kedua, ayat 15 menyoroti pentingnya empati sosial: bersukacita dengan yang bersukacita dan menangis dengan yang menangis. Sikap ini menuntut kepekaan hati dan kerendahan diri, bukan sekadar formalitas relasi.
Ketiga, ayat 17 hingga 18 mengingatkan agar tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan mengupayakan kebaikan dan hidup dalam perdamaian sejauh hal itu memungkinkan.
Keempat, dalam ayat 19 ditegaskan bahwa pembalasan bukanlah hak manusia. Keadilan adalah bagian dari otoritas Tuhan, sehingga setiap orang percaya dipanggil untuk memberi ruang bagi murka Allah, bukan mengambil alih peran tersebut.
Kelima, ayat 20 memberikan langkah konkret: jika musuh lapar, berilah makan; jika haus, berilah minum. Tindakan ini bukan bentuk kelemahan, melainkan kekuatan moral dan spiritual yang mampu melunakkan hati.
Terakhir, ayat 21 menjadi penutup yang tegas: kejahatan tidak dikalahkan dengan kejahatan, tetapi dengan kebaikan.
Refleksi Perenungan
Renungan ini mengajak setiap pribadi untuk menguji diri:
- Apakah sudah mampu memberkati orang yang menyakiti?
- Mampukah tetap berbuat baik ketika diperlakukan tidak adil?
- Lebih mudahkah berbagi sukacita daripada ikut merasakan penderitaan orang lain?
- Sudahkah menyerahkan keadilan sepenuhnya kepada Tuhan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi cermin untuk melihat kedewasaan iman dalam kehidupan sehari-hari.
Makna Teologis
Pesan utama dari renungan ini menegaskan bahwa tuduhan dan rasa bersalah bukan berasal dari Allah, melainkan bagian dari strategi penghancuran oleh kuasa kegelapan. Sebaliknya, karya Kristus di kayu salib menghadirkan penerimaan, pengampunan, dan pemulihan.
Dengan demikian, hidup dalam kasih bukan sekadar pilihan moral, tetapi merupakan konsekuensi iman atas keselamatan yang telah diterima.
Sebagaimana firman Tuhan dalam Roma 12:21:
“Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.”
Inilah panggilan hidup orang percaya: tidak dikuasai oleh kebencian, tidak dikendalikan oleh luka, tetapi berdiri dalam kasih yang aktif mengampuni, menerima, dan berbuat baik bahkan kepada mereka yang menyakiti. (A27)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini