Info Market CPO
🗓 Update: Rabu, 13 Mei 2026 |18:41 WIB |Volume: 0.5K • 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • DMI • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14535 14399 (MNA) 14400 (PBI) 14750 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi transaksi DMI Persaingan harga masih cukup kompetitif antar bidder Tender LOCO PARINDU berakhir WD Tender FOB PALOPO belum terdapat bidder
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Nasional

Madrasah Harus Cetak Generasi Muslim Melek Teknologi, Bukan Hanya Fiqih dan Tauhid

kini madrasah tidak hanya mengajarkan fiqih dan tauhid, tetapi juga menumbuhkan generasi islam melek teknologi dan menguasai sains.
Romo Muhammad Syafi’i. (Ist)

Sinata.id – Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan adanya transformasi besar dalam dunia pendidikan madrasah. Tak lagi terbatas pada pelajaran fiqih dan tauhid, madrasah kini berorientasi pada penguasaan sains, riset digital, dan astronomi sebagai bagian dari upaya mencetak generasi Islam melek teknologi yang berdaya saing global.

Hal itu ditegaskan Wakil Menteri Agama, Romo Muhammad Syafi’i, dalam acara Welcoming Dinner Grand Final Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2025 di Kantor Wali Kota Tangerang, Senin (10/11/2025) malam.

Advertisement

Dalam pidatonya yang penuh semangat, Romo Syafi’i menyatakan bahwa pendidikan madrasah harus menjadi garda depan dalam membangun generasi Muslim yang unggul di bidang sains dan teknologi.

“Madrasah hari ini tidak lagi terbatas pada pelajaran fikih atau tarikh Islam saja. Mereka juga sudah mempelajari teknologi dan sains modern,” tegasnya.

Revolusi Pendidikan Islam

Romo Syafi’i menjelaskan, Islam sejatinya tidak pernah menolak ilmu pengetahuan.

Sejak masa keemasan peradaban Islam, ilmuwan Muslim telah berjasa besar dalam bidang kedokteran, astronomi, dan matematika.

Baca Juga  KPK Segera Umumkan Tersangka Kasus Korupsi Kuota Haji 2023–2024

Karena itu, menurutnya, pengajaran Islam harus diredefinisi agar selaras dengan tuntutan zaman.

“Kita ingin redefinisi pengajaran Islam. Ilmu agama tak hanya untuk ibadah mahdah, tapi juga untuk menjalani kehidupan di seluruh lini, termasuk bidang teknologi,” ujarnya.

Perubahan paradigma ini, lanjutnya, telah menghasilkan prestasi konkret.

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia Serpong, Banten, bahkan dinobatkan sebagai sekolah terbaik tingkat nasional, mengungguli berbagai sekolah umum favorit lainnya.

Dukungan DPR

Kebanggaan atas kemajuan madrasah juga disampaikan Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang, yang turut hadir dalam acara tersebut.

Ia menilai bahwa hasil diskusi panjang antara DPR dan Kemenag kini mulai membuahkan hasil.

“Sebagai Ketua Komisi VIII, saya bahagia melihat pengakuan terhadap pendidikan agama semakin luas. Ini bukti bahwa madrasah telah naik kelas,” ujarnya.

Marwan menambahkan, sejarah perjuangan bangsa Indonesia tak bisa dipisahkan dari peran santri dan siswa madrasah.

Mereka, katanya, bukan hanya pejuang spiritual, tetapi juga pejuang kemerdekaan yang menanamkan semangat nasionalisme dan cinta tanah air.

Baca Juga  Bencana Terjang Sumatera, DPR Minta Bulog Gerak Cepat Amankan Pangan

“Pelaku perjuangan kemerdekaan banyak berasal dari kalangan santri. Itu bukti nyata kontribusi madrasah dalam sejarah bangsa,” tambahnya.

Olimpiade Madrasah Indonesia, Panggung Inovasi Santri

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Prof. Amin Suyitno, menjelaskan bahwa Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) merupakan ajang baru hasil penggabungan berbagai kompetisi sains madrasah sebelumnya. Tahun ini menjadi momen perdana penyelenggaraannya.

“Kami satukan seluruh kompetisi sains madrasah menjadi satu wadah bernama OMI. Tujuannya mendukung Asta Cita Presiden, khususnya cita keempat, yakni menciptakan SDM unggul yang berdaya saing global,” ujar Amin.

Dari lebih dari 204.000 peserta madrasah di seluruh Indonesia, hanya 484 siswa terbaik yang berhasil melaju ke grand final. Mereka datang membawa inovasi penelitian mulai dari bidang kesehatan, teknologi, hingga kecerdasan buatan (AI).

“Anak-anak madrasah kini tidak hanya belajar kitab, tapi juga melakukan riset empiris. Ada yang membuat alat kesehatan digital, bahkan proyek teknologi ramah lingkungan,” jelasnya.

Baca Juga  Prabowo Panggil Menteri ke Hambalang, Bahas Apa?

Islam dan Teknologi Digital

OMI 2025 mengusung tema “Islam dan Teknologi Digital: Inovasi Sains untuk Generasi Indonesia Maju yang Berdaya Saing Global.”

Acara ini berlangsung di Kota Tangerang hingga 14 November 2025, diikuti peserta dari seluruh provinsi.

Ajang ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga wadah kolaborasi dan pertukaran ide antar generasi muda madrasah untuk membangun masa depan pendidikan Islam yang modern, terbuka, dan inovatif.

Baca Juga: Sinopsis “Nia”, Film Kisah Nyata Gadis Penjual Gorengan yang Jadi Korban Kejahatan di Sumbar

Madrasah adalah Masa Depan

Kemenag menegaskan, dengan arah baru ini, madrasah bukan lagi dipandang sebagai lembaga pendidikan alternatif, melainkan sebagai pusat lahirnya generasi Muslim yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan moralitas.

“Madrasah adalah masa depan. Dari sinilah akan lahir generasi yang religius sekaligus cerdas digital,” pungkas Romo Syafi’i. [a46]


penulis: zainal efendi
sumber: –

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini