Info Market CPO
🗓 Update: Rabu, 13 Mei 2026 |18:41 WIB |Volume: 0.5K • 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • DMI • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14535 14399 (MNA) 14400 (PBI) 14750 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi transaksi DMI Persaingan harga masih cukup kompetitif antar bidder Tender LOCO PARINDU berakhir WD Tender FOB PALOPO belum terdapat bidder
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Nasional

Hari Suci Siwaratri: Makna, Pantangan, dan Kisah Lubdaka Lengkap

hari suci siwaratri: makna, pantangan, dan kisah lubdaka lengkap
Ilustrasi Hari Raya Siwaratri. (unsplash)

Pematangsiantar, Sinata.id — Hari Suci Siwaratri dirayakan setahun sekali setiap purwaning Tilem atau panglong ping 14 sasih kapitu (bulan ketujuh). Pada tahun ini, umat Hindu di Bali kembali merayakan Siwaratri pada Sabtu (17/1/2026).

Siwaratri berasal dari kata Siwa, yakni Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam fungsinya sebagai pelebur atau pemralina. Sementara itu, ratri berarti malam atau kegelapan. Perayaan Siwaratri menjadi momentum bagi umat Hindu untuk melakukan introspeksi diri atas dosa-dosa yang telah diperbuat selama hidup.

Advertisement

Di Bali, Siwaratri kerap dikaitkan dengan kisah Lubdaka, seorang pemburu satwa yang mendapat pengampunan dosa dari Dewa Siwa. Berikut ulasan lengkap mengenai Hari Suci Siwaratri, pantangan, hingga kisah Lubdaka.

Baca juga:Makna Kulit dalam Perspektif Iman Kristen: Mensyukuri Ciptaan Tuhan dan Menjaga Kekudusan Tubuh

Apa Itu Siwaratri?
Menurut ajaran Hindu, Siwaratri merupakan malam paling gelap dalam satu tahun sekaligus waktu yang paling tepat untuk melakukan pemujaan kepada Dewa Siwa. Malam ini dimanfaatkan oleh umat Hindu untuk melakukan refleksi dan penyadaran diri.

Untuk mencapai kesadaran tersebut, umat Hindu melaksanakan Brata Siwaratri, yaitu serangkaian prosesi perenungan dosa, pengendalian hawa nafsu, serta permohonan pengampunan kepada Dewa Siwa.

Dalam konsep Hindu, manusia dibelenggu oleh bhuta kala atau sifat-sifat buruk dalam dirinya. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengembalikan keseimbangan jasmani dan rohani agar selaras dengan jalan dharma melalui Brata Siwaratri.

Brata Siwaratri dilaksanakan dengan tiga pantangan utama, yakni upawasa (berpuasa), mona atau monabrata (tidak berbicara), dan jagra (tidak tidur). Tujuan dari brata ini adalah menghilangkan papa dalam diri manusia, yang berarti kesengsaraan, keburukan, kejahatan, dan kehinaan.

1. Upawasa (Berpuasa)
Upawasa merupakan bentuk pengendalian diri dengan tidak makan dan minum. Praktik ini juga mengajarkan manusia untuk lebih bijak dalam memilih makanan dan minuman yang baik bagi tubuh.
Upawasa melatih kesadaran diri agar manusia mampu mengendalikan hawa nafsu serta memiliki keteguhan dalam menghadapi keinginan duniawi.

Baca juga:Jaksa Agung Ganti 19 Kajari Sekaligus, Ini Daftar Lengkapnya

2. Monabrata (Tidak Berbicara)
Monabrata bukan sekadar diam, melainkan melatih kehati-hatian dalam bertutur kata dan membiasakan diri berbicara secara sadar. Umat Hindu diajak untuk merenung dan mengamati pikiran sendiri, karena kata-kata memiliki dampak besar, baik maupun buruk.
Melalui Monabrata, manusia diajarkan untuk berpikir sebelum berbicara dan membangun ketenangan batin melalui sikap diam yang penuh makna.

3. Jagra (Tidak Tidur)
Jagra berarti berjaga sepanjang malam Siwaratri. Hal ini melambangkan kewaspadaan dan kesadaran penuh terhadap diri sendiri. Dengan berjaga, umat Hindu dilatih untuk melawan kemalasan dan kelemahan batin.
Ketiga brata ini saling melengkapi dalam membentuk kesadaran diri agar manusia tidak sepenuhnya terikat pada kehidupan duniawi dan mampu melepaskan diri dari sifat buruk.

Nilai-nilai Brata Siwaratri dinilai sangat relevan di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan dan godaan. Pengendalian diri, kesadaran batin, dan kemampuan menahan hasrat menjadi bekal penting untuk menjaga keseimbangan hidup.

Kisah Lubdaka dan Siwaratri
Kisah Lubdaka bermula ketika ia pergi berburu ke tengah hutan. Namun hingga hari menjelang gelap, ia tak memperoleh hasil buruan. Malam itu, Lubdaka beristirahat di atas pohon bila di pinggir telaga.

Untuk berjaga agar tidak tertidur, ia memetik daun bila satu per satu dan menjatuhkannya ke bawah. Tanpa disadari, daun-daun tersebut mengenai lingga pemujaan Dewa Siwa. Lubdaka juga tidak mengetahui bahwa malam itu bertepatan dengan Hari Suci Siwaratri.

Baca juga:Isra Miraj 2026: Tanggal, Sejarah, dan Makna Perjalanan Nabi Muhammad SAW

Pada malam itu, Lubdaka menyesali perbuatan buruk yang pernah dilakukannya dan bertekad meninggalkan profesi sebagai pemburu untuk menjadi petani. Setelah meninggal dunia, konon rohnya hendak dibawa ke neraka oleh pasukan Cikrabala. Namun, Dewa Siwa mencegahnya dan memberikan pembelaan atas pertobatan Lubdaka.

Akhirnya, roh Lubdaka dibawa ke Siwa Loka atau surga. Meski demikian, kisah ini juga memunculkan perdebatan karena dinilai tidak sepenuhnya sejalan dengan hukum karma.

Oleh karena itu, Hari Suci Siwaratri dipandang lebih tepat dimaknai sebagai momentum penyadaran diri dan perbaikan hidup berdasarkan ajaran dharma.

Waktu Pelaksanaan Siwaratri
Hari Suci Siwaratri dirayakan setiap tahun menurut kalender Saka, tepatnya pada purwaning Tilem atau panglong ping 14 sasih kapitu. Dalam kalender Masehi, perayaan ini umumnya jatuh pada bulan Januari. Pada tahun 2026, Siwaratri diperingati pada Sabtu, 17 Januari 2026.

Tata Cara dan Rangkaian Upacara Siwaratri
Brata Siwaratri dilaksanakan sesuai kemampuan masing-masing individu dengan tiga pantangan utama, yaitu Mona Brata, Upawasa, dan Jagra. Rangkaian upacara Siwaratri meliputi maprayascita, persembahyangan kepada Sang Hyang Surya dan Sang Hyang Siwa, nunas tirta, masegeh, serta ditutup dengan dana punia atau sedekah. (A02)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini