Pematangsiantar, Sinata.id – Seorang pria berinisial SZ (33) mengaku menjadi korban dugaan ancaman pembunuhan yang terekam kamera CCTV di sebuah warung kopi (warkop) yang sebelumnya ia kelola.
Dalam rekaman tersebut, disebutkan adanya percakapan yang mengarah pada rencana menghilangkan nyawa korban, termasuk upaya untuk menghilangkan jasadnya. Peristiwa itu diduga terjadi pada Rabu (1/5/2026).
“Dari rekaman CCTV itu terdengar ada rencana pembunuhan, bahkan dibahas agar jasad tidak ditemukan,” ujar SZ saat ditemui, Selasa (7/4/2026).
SZ menjelaskan, permasalahan bermula dari kerja sama pengelolaan warkop dengan sistem bagi hasil. Namun, seiring berjalannya waktu, keuntungan usaha tersebut dinilai tidak sebanding.
“Total keuntungan hanya Rp61 ribu, itu pun belum termasuk biaya gaji pekerja,” ungkapnya.
Ia menambahkan, lahan dan bangunan warkop disewa oleh pihak lain berinisial IAT, sementara dirinya bertanggung jawab atas penyediaan bahan baku dan peralatan.
Selain persoalan usaha, konflik juga dipicu masalah tempat tinggal. Rumah yang ditempati SZ diketahui atas nama dr. JAS, sementara pembayaran kredit pemilikan rumah (KPR) ditanggung oleh SZ.
“Rumah ini atas nama dr. JAS, tapi saya yang membayar KPR dan renovasi. Karena itu, mereka bersikeras atas kepemilikan,” jelasnya.
SZ mengaku telah menempati rumah tersebut selama sekitar satu tahun.
Diduga Berujung Pengeroyokan
Sebelumnya, SZ juga mengaku menjadi korban pengeroyokan oleh sekelompok orang di teras rumahnya pada Minggu (5/4/2026) malam.
Ia menyebut sejumlah pelaku, di antaranya diduga melibatkan aparatur sipil negara (ASN) yang bekerja di RSUD Djasamen Saragih Pematangsiantar, yakni dr. JAS (dokter spesialis forensik), IAT (pegawai pajak di Tanjung Pinang), serta beberapa orang lainnya.
Peristiwa bermula sekitar pukul 23.30 WIB, saat korban bersama keluarga sedang beristirahat. Tiba-tiba, rombongan pelaku datang menggunakan dua mobil dan memanggil korban dengan suara keras.
“Awalnya kami di dalam rumah, lalu mereka datang dan menggedor pintu,” ujar SZ.
Situasi kemudian memanas hingga berujung kekerasan. SZ mengaku menjadi sasaran pemukulan secara bersama-sama.
“Kepala saya dibenturkan ke dinding, lalu mereka memukul dan menginjak saya,” katanya.
Laporan Polisi
Atas kejadian tersebut, SZ telah membuat laporan resmi ke Polres Pematangsiantar pada Senin (6/4/2026) dini hari. Ia menegaskan tidak akan menempuh jalur damai.
“Saya tidak akan berdamai. Saya ingat betul kejadian itu,” tegasnya.
Ia berharap aparat penegak hukum segera menindaklanjuti laporan tersebut secara profesional.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Polres Pematangsiantar belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan kasus tersebut.
Sementara itu, dr. JAS melalui pesan singkat menyatakan bahwa dirinya hanya berupaya melerai pertikaian yang terjadi. (SN14)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini