Yogyakarta, Sinata.id – Sejumlah pengusaha truk yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia wilayah Jawa Tengah dan DIY melayangkan protes keras terhadap kebijakan PT Pertamina (Persero) yang memblokir barcode pembelian BBM. Kebijakan ini dinilai merugikan pelaku usaha, terutama di tengah melonjaknya harga BBM nonsubsidi.
Harga BBM nonsubsidi seperti Pertamina Dex dan Dexlite dilaporkan naik hingga sekitar 70 persen dibandingkan kondisi normal. Per April, harga Pertamina Dex berada di kisaran Rp23.900–Rp24.250 per liter, sementara Dexlite mencapai Rp23.600 per liter.
Sekretaris DPD Aptrindo Jateng-DIY, Dedi Untoro, menyatakan bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi sebenarnya tidak terlalu berdampak bagi pengusaha truk, karena mayoritas armada menggunakan bio solar bersubsidi. Namun, pemblokiran barcode justru menjadi persoalan utama.
Menurutnya, sejak kenaikan harga BBM nonsubsidi diberlakukan, banyak barcode kendaraan angkutan barang tiba-tiba diblokir. Ia mengungkapkan, lebih dari 200 barcode telah dinonaktifkan tanpa solusi yang jelas dari pihak terkait.
Dampaknya langsung terasa pada operasional. Banyak armada truk terpaksa berhenti beroperasi karena tidak bisa mengakses BBM solar. Dalam beberapa kasus, perusahaan dengan puluhan truk kini hanya mampu menjalankan sebagian kecil armadanya.
Aptrindo menilai kondisi ini berpotensi mengganggu distribusi logistik nasional. Jika terus berlanjut, dampaknya bisa merembet pada kenaikan harga kebutuhan pokok serta meningkatnya angka pengangguran, khususnya di kalangan sopir truk.
Para pengusaha pun mendesak Pertamina untuk segera memberikan kejelasan serta solusi konkret. Selain itu, mereka meminta adanya sosialisasi yang lebih transparan terkait kebijakan barcode, agar tidak menimbulkan kebingungan di lapangan.
Di sisi lain, Aptrindo menegaskan bahwa mereka tidak mempermasalahkan jika terjadi penyesuaian harga BBM subsidi, selama ketersediaan solar tetap terjamin bagi operasional angkutan barang.(A07)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini