Info Market CPO
🗓 Update: Senin, 18 Mei 2026 |17:55 WIB |Volume: 0.5K • 0.5K • 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • DMI • DMI • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15225 15200 (TON) 15170 (AGM) 15300 EUP ACC
N4 N4 (N4)
Vol: 0.5K · DMI
15225 15170 (AGM) 15150 (IBP) 15300 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · LOCO PARINDU
15225 15170 (AGM) 15150 (IBP) 15300 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · FOB PALOPO
14785 14550 (PBI) 14445 (MNA) 14950 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi transaksi DMI dengan ACC di level 15.300. Persaingan harga masih kompetitif antar bidder. Tender LOCO PARINDU berakhir WD, sementara tender FOB PALOPO belum terdapat bidder.
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Wisata & Kuliner

Kue Talam Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi, Jajanan Tradisional Favorit Semua Generasi

kue talam tetap bertahan di tengah modernisasi, jajanan tradisional favorit semua generasi
Ilustrasi kue talam ubi merah. (shutterstock)

Pematangsiantar, Sinata.id – Di tengah derasnya arus modernisasi kuliner dan menjamurnya makanan cepat saji dari luar negeri, keberadaan jajanan tradisional Indonesia masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.

Salah satu kuliner tradisional yang tetap bertahan dan digemari hingga kini adalah kue talam.

Advertisement

Kue berbahan dasar tepung dan santan tersebut dikenal memiliki cita rasa lembut, manis, dan gurih yang khas. Perpaduan rasa itu membuat kue talam menjadi sajian yang mampu menghadirkan nostalgia bagi banyak orang.

Kue talam termasuk salah satu jajanan pasar yang mudah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Meski memiliki variasi bentuk dan bahan di setiap wilayah, ciri khas utamanya tetap sama, yakni tekstur lembut dengan penyajian dalam cetakan kecil berbentuk bulat atau persegi.

Warna kue talam pun beragam, mulai dari hijau pandan, putih santan, hingga ungu ubi, tergantung bahan dasar yang digunakan.

Popularitas Kue Talam Kembali Meningkat

Sejumlah pelaku usaha kuliner tradisional menyebut popularitas kue talam kembali meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Tren masyarakat yang mulai kembali menyukai makanan tradisional menjadi salah satu faktor meningkatnya permintaan terhadap jajanan pasar.

Baca Juga  15 Kuliner Nusantara Favorit GrabFood 2026, Ada Gudeg Mercon dan Kwetiau Medan

Selain dianggap lebih alami, makanan tradisional juga dinilai memiliki nilai budaya yang tinggi.

Seorang pedagang kue tradisional di Bandung, Siti Nurhayati, mengaku penjualan kue talam meningkat terutama saat akhir pekan dan musim liburan.

“Sekarang banyak anak muda yang mencari jajanan pasar untuk acara keluarga atau sekadar nostalgia. Kue talam menjadi salah satu yang paling diminati karena rasanya ringan dan cocok dinikmati bersama teh atau kopi,” ujarnya.

Warisan Kuliner Nusantara

Kue talam dipercaya berasal dari budaya kuliner Melayu yang kemudian berkembang di berbagai daerah Nusantara.

Di Sumatera, misalnya, terdapat talam ubi yang menggunakan ubi ungu atau ubi kuning sebagai bahan utama. Sementara di Pulau Jawa, kue talam lebih sering dibuat dari campuran tepung beras, tepung tapioka, santan, dan pandan.

Proses pembuatannya tergolong sederhana, namun membutuhkan ketelitian agar menghasilkan tekstur lembut dan tidak mudah pecah.

Adonan umumnya dibuat dalam dua lapisan. Lapisan bawah memiliki rasa manis dengan aroma pandan atau ubi, sedangkan lapisan atas dibuat dari santan gurih yang menciptakan keseimbangan rasa.

Baca Juga  Sejarah Rempeyek Kacang, Camilan Tradisional dengan Nilai Budaya Tinggi

Harga Terjangkau dan Mulai Masuk Kafe Modern

Selain lezat, kue talam juga dikenal sebagai makanan yang relatif terjangkau. Harga satu potong kue talam di pasar tradisional berkisar antara Rp2.000 hingga Rp5.000 tergantung ukuran dan bahan yang digunakan.

Hal tersebut membuat kue talam tetap menjadi pilihan masyarakat dari berbagai kalangan.

Kini, kue talam tidak hanya dijual di pasar tradisional, tetapi juga mulai hadir di kafe dan toko roti modern. Beberapa pelaku usaha bahkan menghadirkan inovasi baru seperti talam matcha, talam cokelat, hingga talam keju untuk menarik minat generasi muda.

Meski demikian, banyak pecinta kuliner berharap cita rasa asli kue talam tetap dipertahankan agar tidak kehilangan identitas tradisionalnya.

Simbol Pelestarian Budaya

Pemerhati budaya kuliner, Rahmat Hidayat, menilai keberadaan kue tradisional seperti kue talam memiliki peran penting dalam menjaga warisan budaya Indonesia.

Baca Juga  Bika Ambon Medan: Sejarah, Resep, dan Keistimewaannya sebagai Ikon Kuliner Sumut

Menurutnya, makanan tradisional bukan sekadar konsumsi sehari-hari, melainkan bagian dari identitas bangsa yang harus terus dilestarikan.

“Kue tradisional menyimpan cerita sejarah dan budaya. Jika generasi muda tidak dikenalkan sejak sekarang, lama-kelamaan bisa tergeser oleh makanan modern,” katanya.

Sejumlah pemerintah daerah juga mulai aktif mempromosikan jajanan tradisional melalui festival kuliner dan kegiatan UMKM.

Dalam berbagai acara budaya, kue talam kerap menjadi salah satu sajian utama yang diperkenalkan kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.

Di era digital, promosi kue talam juga semakin berkembang melalui media sosial. Banyak pelaku usaha membagikan tampilan menarik kue talam secara daring untuk menarik perhatian konsumen muda.

Meski menghadapi tantangan seperti kenaikan harga bahan baku dan persaingan dengan makanan modern, kue talam diperkirakan tetap bertahan sebagai salah satu jajanan tradisional favorit masyarakat Indonesia.

Perpaduan rasa manis dan gurih yang khas, harga terjangkau, serta nilai budaya yang kuat menjadi alasan utama mengapa kue talam tetap diminati lintas generasi. (palposdisway/AO2)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini