Info Market CPO
🗓 Update: Senin, 11 Mei 2026 |15:20 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • LOCO NGABANG • LOCO KEMBAYAN • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15325 15217 (PAA) 15203 - EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15325 15217 (PAA) 15203 - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
14975 14774 (MNA) 14550 (PBI) - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO KEMBAYAN
14875 14624 (MNA) 14450 (PBI) - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO PARINDU
14885 14699 (MNA) 14550 (PBI) 14975 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI dan segmen LOCO
  • Persaingan harga masih cukup ketat antar bidder
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Dunia

Trump Frustrasi Iran Tolak Proposal AS, Negosiasi Nuklir Kian Memanas

trump frustrasi iran tolak proposal as, negosiasi nuklir kian memanas
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (gettyimages)

Washington, Sinata.id – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dikabarkan frustrasi terhadap Iran karena belum menyetujui proposal yang diajukan Washington terkait penghentian konflik dan program nuklir Teheran.

Media AS Axios, melaporkan Trump menggelar pertemuan bersama tim keamanan nasional di Gedung Putih pada Senin (11/5/2026) untuk membahas langkah lanjutan terhadap Iran, termasuk kemungkinan melanjutkan aksi militer apabila negosiasi kembali menemui jalan buntu.

Advertisement

Berdasarkan laporan tersebut, salah satu sumber menyebut Trump kecewa terhadap sikap Iran, terutama terkait blokade di Selat Hormuz dan perbedaan pandangan di internal pemerintahan Teheran yang dinilai menghambat proses negosiasi.

Sumber itu juga menyebut perpecahan politik di Iran membuat pemerintah kesulitan menawarkan konsesi besar dalam perundingan nuklir dengan AS.

Baca Juga  Jepang Tetapkan Status Epidemi Flu Akibat Lonjakan Kasus Dini

Dalam keterangannya kepada media di Gedung Putih, Trump menyebut kondisi gencatan senjata antara AS dan Iran berada dalam situasi kritis.

“Saya akan mengatakan situasinya sangat lemah, seperti berada di ambang kehancuran,” ujar Trump.

Meski proses negosiasi belum mencapai kesepakatan, Trump menegaskan AS tidak akan mundur. Washington bahkan disebut tengah mempertimbangkan operasi “Freedom Project”, yakni misi pengawalan kapal di Selat Hormuz sekaligus upaya mengurangi pengaruh Iran di jalur strategis tersebut.

Iran Tolak Proposal Nuklir AS

AS sebelumnya mengusulkan sejumlah poin untuk mengakhiri konflik, termasuk penghentian program nuklir Iran dan pembukaan akses pelayaran di Selat Hormuz. Namun, pemerintah Iran menolak tuntutan pelucutan program nuklir tersebut.

Baca Juga  Rudal Khorramshahr-4 Iran Muncul Saat Diplomasi Nuklir Dibuka

AS dan Iran diketahui sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan yang dimulai pada 8 April 2026. Kesepakatan itu kemudian diperpanjang, meski tanpa batas waktu yang jelas.

Hingga kini, kedua negara bersama mediator dari Pakistan masih terus melakukan negosiasi guna mencapai gencatan senjata permanen. Namun, perundingan berjalan sulit karena perbedaan pandangan terkait isu nuklir dan keamanan kawasan Teluk Persia.

Trump Dinilai Ingin Kemenangan Mutlak

Sejumlah pengamat politik internasional menilai Trump memiliki pendekatan politik luar negeri yang berorientasi pada kemenangan mutlak atau winner takes all. Sikap itu dinilai terlihat dalam berbagai kebijakan, termasuk pendekatannya terhadap Iran.

Trump juga beberapa kali mendapat kritik dari pemimpin Eropa terkait strategi AS dalam konflik Iran. Kanselir Jerman, Friedrich Merz, bahkan menilai Iran lebih siap menghadapi tekanan dibandingkan AS dalam meja perundingan.

Baca Juga  Trump Klaim Ancaman Tarif AS Cegah Perang Nuklir India-Pakistan

Pernyataan tersebut memicu ketegangan diplomatik baru antara Washington dan sejumlah negara Eropa.

Di sisi lain, tekanan terhadap Trump juga datang dari dalam negeri. Survei terbaru menunjukkan mayoritas warga AS mulai khawatir terhadap dampak perang Iran terhadap ekonomi nasional, termasuk kenaikan harga energi dan inflasi.

Hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos pada akhir April lalu menunjukkan hanya sebagian kecil warga AS yang mendukung keterlibatan negaranya dalam konflik dengan Iran.

Situasi tersebut dinilai dapat memengaruhi posisi Partai Republik menjelang Pemilu Sela AS pada November mendatang. (A02)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini