Jakarta, Sinata.id – Nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka menguat pada perdagangan Rabu (28/1/2026).
Mata uang Garuda dibuka di level Rp16.717 per dolar AS, menguat 0,31 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp16.768 per dolar AS.
Namun, hingga pukul 09.24 WIB, rupiah terpantau bergerak melemah tipis dan berada di level Rp16.741 per dolar AS. Pergerakan rupiah terjadi di tengah dinamika pasar global dan tekanan di pasar saham domestik.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terpantau bervariasi. Ringgit Malaysia mencatat penguatan tertinggi dengan kenaikan 0,76 persen, disusul dolar Taiwan yang naik 0,49 persen, won Korea Selatan menguat 0,36 persen, peso Filipina naik 0,35 persen, serta yuan China yang menguat tipis 0,08 persen.
Baca juga:Awal Tahun Langsung Panas, IHSG Pecah Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah
Sementara itu, yen Jepang menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah turun 0,52 persen. Pelemahan juga dialami baht Thailand yang terkoreksi 0,06 persen, diikuti dolar Singapura yang melemah 0,03 persen, serta dolar Hong Kong yang turun tipis 0,006 persen.
Prospek Rupiah
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan nilai tukar rupiah masih berpeluang melanjutkan penguatan terhadap dolar AS. Hal ini seiring dengan tekanan yang kembali meningkat pada mata uang Paman Sam.
Indeks dolar AS tercatat turun ke level terendah dalam hampir empat tahun terakhir, mencerminkan berlanjutnya sentimen sell America trade di pasar global. Kondisi tersebut membuka ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Rupiah diperkirakan menguat seiring dolar AS yang kembali melemah cukup tajam. Indeks dolar AS sudah berada di level terendah dalam hampir empat tahun di tengah berlanjutnya sentimen sell America trade,” ujar Lukman.
IHSG Anjlok Tajam
Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat sejak awal perdagangan Rabu pagi. Pada pukul 09.02 WIB, IHSG anjlok 6,51 persen atau turun 584,87 poin ke level 8.395,36.
Baca juga:IHSG Cetak Rekor Baru, Indeks Sentuh Level Tertingginya Sepanjang Sejarah
IHSG dibuka di posisi 8.393,51 dan hanya sempat bergerak terbatas dengan level tertinggi di 8.405,10, sebelum kembali tertekan hingga menyentuh level terendah harian di 8.349,66.
Volume transaksi tercatat sekitar 6,07 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp4,13 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 323.895 kali. Dari total saham yang diperdagangkan, 39 saham menguat, 549 saham melemah, dan 88 saham stagnan.
Koreksi tajam IHSG turut berdampak pada kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia yang menyusut menjadi sekitar Rp15.217,74 triliun.
Faktor Global dan Domestik
Pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah dipengaruhi fokus pelaku pasar terhadap hasil pertemuan kebijakan The Federal Reserve yang diumumkan pada Rabu (28/1/2026).
“Pelaku pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tetap stabil setelah sebelumnya melakukan tiga kali pemotongan berturut-turut,” ujar Ibrahim.
Baca juga:IHSG Ditutup Melemah, Panggung Saham Justru Dikuasai UNVR hingga DCII
Selain itu, perselisihan antara Presiden AS Donald Trump dan Ketua The Fed Jerome Powell turut menimbulkan kekhawatiran terkait independensi bank sentral AS dari tekanan politik.
Dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti tantangan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan utang pada 2026. Meski target pembiayaan utang neto dalam RAPBN 2026 tercatat Rp832,21 triliun, kebutuhan pembiayaan bruto diperkirakan mencapai Rp1.650 triliun.
Risiko pembiayaan kembali (refinancing risk) dinilai meningkat seiring memendeknya rata-rata jatuh tempo utang (Average Time to Maturity/ATM) dari 9,73 tahun pada 2014 menjadi sekitar 7,7 tahun pada 2026.
Dolar AS Tertekan
Penguatan rupiah juga terjadi seiring pelemahan dolar AS ke level terendah sejak awal 2022. Tekanan terhadap dolar meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak khawatir dengan pelemahan nilai tukar mata uang tersebut.
Pernyataan tersebut dipandang sebagai sinyal bagi investor global untuk melepas dolar AS. Indeks Spot Dolar Bloomberg sempat anjlok hingga 1,2 persen, sebelum bergerak stabil dalam perdagangan Asia.
Baca juga:IHSG Diprediksi Lanjut Melemah Pada 23 Oktober 2025
Tekanan di pasar saham domestik diperparah oleh pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait perubahan metodologi perhitungan porsi saham publik atau free float. MSCI memutuskan membekukan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan saham-saham Indonesia.
Kebijakan tersebut dipicu kekhawatiran investor global terhadap transparansi data kepemilikan saham serta aspek kelayakan investasi pasar. Kondisi ini mendorong aksi jual investor asing yang mencatatkan net sell sekitar Rp1,6 triliun. (A02)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini