Info Market CPO
🗓 Update: Kamis, 30 April 2026 |18:09 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • FOB TDUKU • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO NGABANG • LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15312 15225 (KJA) 15400 (AGM) 15450 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15312 15225 (KJA) 15205 15450 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K · FOB TDUKU
15112 (PRISCOLIN) 14995 (MM) 15000 (AGM) 15250 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14787 14490 (MNA) 14600 (PBI) 15100 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
14762 14490 (MNA) 14500 (PBI) 15000 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
14947 14490 (MNA) 14600 (PBI) 15100 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Pasar cenderung melemah pada beberapa lokasi LOCO
  • Persaingan harga cukup ketat antar bidder
  • Masih terdapat beberapa grade tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Ekonomi & Bisnis

Rupiah Menguat di Tengah Tekanan IHSG, Dolar AS Terpuruk ke Level Terendah

rupiah menguat di tengah tekanan ihsg, dolar as terpuruk ke level terendah
Ilustrasi mata uang Rupiah. (antara)

Jakarta, Sinata.id – Nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka menguat pada perdagangan Rabu (28/1/2026).

Mata uang Garuda dibuka di level Rp16.717 per dolar AS, menguat 0,31 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp16.768 per dolar AS.

Advertisement

Namun, hingga pukul 09.24 WIB, rupiah terpantau bergerak melemah tipis dan berada di level Rp16.741 per dolar AS. Pergerakan rupiah terjadi di tengah dinamika pasar global dan tekanan di pasar saham domestik.

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terpantau bervariasi. Ringgit Malaysia mencatat penguatan tertinggi dengan kenaikan 0,76 persen, disusul dolar Taiwan yang naik 0,49 persen, won Korea Selatan menguat 0,36 persen, peso Filipina naik 0,35 persen, serta yuan China yang menguat tipis 0,08 persen.

Baca juga:Awal Tahun Langsung Panas, IHSG Pecah Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah

Sementara itu, yen Jepang menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah turun 0,52 persen. Pelemahan juga dialami baht Thailand yang terkoreksi 0,06 persen, diikuti dolar Singapura yang melemah 0,03 persen, serta dolar Hong Kong yang turun tipis 0,006 persen.

Prospek Rupiah

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan nilai tukar rupiah masih berpeluang melanjutkan penguatan terhadap dolar AS. Hal ini seiring dengan tekanan yang kembali meningkat pada mata uang Paman Sam.

Baca Juga  Misbakhun Bantah Isu Jadi Ketua OJK, Tegaskan Fokus Pimpin Komisi XI DPR

Indeks dolar AS tercatat turun ke level terendah dalam hampir empat tahun terakhir, mencerminkan berlanjutnya sentimen sell America trade di pasar global. Kondisi tersebut membuka ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Rupiah diperkirakan menguat seiring dolar AS yang kembali melemah cukup tajam. Indeks dolar AS sudah berada di level terendah dalam hampir empat tahun di tengah berlanjutnya sentimen sell America trade,” ujar Lukman.

IHSG Anjlok Tajam

Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat sejak awal perdagangan Rabu pagi. Pada pukul 09.02 WIB, IHSG anjlok 6,51 persen atau turun 584,87 poin ke level 8.395,36.

Baca juga:IHSG Cetak Rekor Baru, Indeks Sentuh Level Tertingginya Sepanjang Sejarah

IHSG dibuka di posisi 8.393,51 dan hanya sempat bergerak terbatas dengan level tertinggi di 8.405,10, sebelum kembali tertekan hingga menyentuh level terendah harian di 8.349,66.

Volume transaksi tercatat sekitar 6,07 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp4,13 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 323.895 kali. Dari total saham yang diperdagangkan, 39 saham menguat, 549 saham melemah, dan 88 saham stagnan.

Baca Juga  Harga Emas Antam Cetak Rekor Tertinggi

Koreksi tajam IHSG turut berdampak pada kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia yang menyusut menjadi sekitar Rp15.217,74 triliun.

Faktor Global dan Domestik

Pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah dipengaruhi fokus pelaku pasar terhadap hasil pertemuan kebijakan The Federal Reserve yang diumumkan pada Rabu (28/1/2026).

“Pelaku pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tetap stabil setelah sebelumnya melakukan tiga kali pemotongan berturut-turut,” ujar Ibrahim.

Baca juga:IHSG Ditutup Melemah, Panggung Saham Justru Dikuasai UNVR hingga DCII

Selain itu, perselisihan antara Presiden AS Donald Trump dan Ketua The Fed Jerome Powell turut menimbulkan kekhawatiran terkait independensi bank sentral AS dari tekanan politik.

Dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti tantangan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan utang pada 2026. Meski target pembiayaan utang neto dalam RAPBN 2026 tercatat Rp832,21 triliun, kebutuhan pembiayaan bruto diperkirakan mencapai Rp1.650 triliun.

Baca Juga  Turunnya Harga Emas Dunia Bikin Logam Mulia Antam “Merosot”

Risiko pembiayaan kembali (refinancing risk) dinilai meningkat seiring memendeknya rata-rata jatuh tempo utang (Average Time to Maturity/ATM) dari 9,73 tahun pada 2014 menjadi sekitar 7,7 tahun pada 2026.

Dolar AS Tertekan

Penguatan rupiah juga terjadi seiring pelemahan dolar AS ke level terendah sejak awal 2022. Tekanan terhadap dolar meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak khawatir dengan pelemahan nilai tukar mata uang tersebut.

Pernyataan tersebut dipandang sebagai sinyal bagi investor global untuk melepas dolar AS. Indeks Spot Dolar Bloomberg sempat anjlok hingga 1,2 persen, sebelum bergerak stabil dalam perdagangan Asia.

Baca juga:IHSG Diprediksi Lanjut Melemah Pada 23 Oktober 2025

Tekanan di pasar saham domestik diperparah oleh pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait perubahan metodologi perhitungan porsi saham publik atau free float. MSCI memutuskan membekukan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan saham-saham Indonesia.

Kebijakan tersebut dipicu kekhawatiran investor global terhadap transparansi data kepemilikan saham serta aspek kelayakan investasi pasar. Kondisi ini mendorong aksi jual investor asing yang mencatatkan net sell sekitar Rp1,6 triliun. (A02)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini