Sinata.id – Pasar saham Indonesia membuka tahun 2026 dengan catatan agresif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat tajam dan menutup perdagangan Senin (5/1/2026) di level 8.859,19, naik 1,27 persen sekaligus mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Sejak pembukaan, IHSG nyaris tanpa hambatan bergerak di zona hijau. Indeks sempat bergerak di kisaran 8.732 hingga akhirnya menancap kuat di level tertinggi intraday yang juga menjadi rekor baru. Optimisme pelaku pasar terlihat solid meski tekanan eksternal global belum sepenuhnya mereda.
Aktivitas transaksi turut mencerminkan antusiasme investor. Nilai jual beli saham menembus Rp30,32 triliun dengan volume 70,26 miliar saham yang berpindah tangan dalam 4,01 juta kali transaksi. Di tengah euforia pasar saham, rupiah justru ditutup melemah tipis 0,09 persen ke level Rp16.740 per dolar AS.
Baca Juga:Â IHSG Cetak Rekor Baru, Indeks Sentuh Level Tertingginya Sepanjang Sejarah
Dari sisi pergerakan saham, mayoritas emiten bergerak positif. Tercatat 446 saham menguat, 246 saham melemah, sementara 114 saham stagnan. Kinerja sektor menjadi penopang utama lonjakan indeks.
Sektor barang baku tampil sebagai motor penggerak dengan penguatan 2,62 persen, disusul sektor energi yang naik 2,31 persen dan sektor transportasi menguat 2,01 persen. Sektor konsumen nonprimer juga ikut menanjak 1,66 persen, sementara sektor kesehatan menguat 1,62 persen.
Lonjakan IHSG kali ini tidak lepas dari kontribusi saham-saham berkapitalisasi besar. Emiten tambang dan energi menjadi penyumbang poin terbesar, diikuti saham perbankan dan telekomunikasi papan atas. Pergerakan saham big caps inilah yang membuat laju indeks terlihat begitu percaya diri.
Saham-saham unggulan dalam indeks LQ45 turut menyemarakkan reli pasar. Sejumlah emiten kesehatan, tambang, energi hijau, hingga konsumsi mencatat kenaikan signifikan dan mempertegas dominasi saham-saham berfundamental kuat dalam pembentukan rekor baru IHSG.
Sentimen positif juga datang dari pasar regional. Bursa Asia secara umum ditutup menguat. Indeks Kospi Korea Selatan melonjak lebih dari 3 persen, Nikkei Jepang menguat hampir 3 persen, disusul penguatan bursa China, Thailand, Filipina, Singapura, hingga Hong Kong. Arus optimisme regional ini ikut mengalir ke pasar domestik.
Dari dalam negeri, data inflasi menjadi katalis penting. Inflasi Indonesia pada Desember 2025 tercatat 2,92 persen secara tahunan, dengan inflasi bulanan mencapai 0,64 persen. Indeks Harga Konsumen berada di level 109,92, menandakan permintaan domestik yang tetap kuat di akhir tahun.
“Inflasi bulanan yang lebih tinggi dari perkiraan mencerminkan menguatnya permintaan konsumsi di penghujung tahun, terutama dipicu momen Natal dan libur Tahun Baru,” demikian disampaikan dalam riset MNC Sekuritas.
Tekanan harga tahunan terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat inflasi 4,58 persen secara tahunan. Komoditas emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil hampir 0,8 persen.
Dukungan tambahan datang dari sektor eksternal. Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Indonesia pada November kembali mencetak surplus US$2,66 miliar. Capaian ini memperpanjang rekor surplus menjadi 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, memperkuat persepsi stabilitas ekonomi makro.
Sementara itu, Phintraco Sekuritas menilai penguatan IHSG kali ini mencerminkan kombinasi sentimen domestik dan global. Menurut mereka, sektor basic material mencatat kenaikan paling signifikan seiring menguatnya harga mayoritas komoditas logam.
“Ketegangan geopolitik, termasuk serangan Amerika Serikat ke Venezuela, tidak memberikan tekanan berarti ke pasar saham. Sebaliknya, justru mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas logam,” jelas Phintraco dalam keterangannya, Senin.
Phintraco juga mencatat bahwa mayoritas indeks di Bursa Asia ditutup menguat, meski rupiah melemah sejalan dengan pergerakan mata uang Asia lainnya di pasar spot.
Dari sisi teknikal, peluang penguatan lanjutan masih terbuka. Indikator MACD membentuk sinyal golden cross, diperkuat Stochastic RSI yang bergerak di area pivot serta lonjakan volume beli.
“Kondisi ini membuka peluang bagi IHSG untuk melanjutkan tren naik dan menguji area 8.900 dalam waktu dekat,” tulis Phintraco.
Â
Dengan kombinasi dukungan sektor unggulan, solidnya saham big caps, serta sentimen makro yang relatif kondusif, pasar menilai reli IHSG belum sepenuhnya kehilangan tenaga di awal tahun 2026 ini. [a46]







Jadilah yang pertama berkomentar di sini