Info Market CPO
🗓 Update: Kamis, 30 April 2026 |18:09 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • FOB TDUKU • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO NGABANG • LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15312 15225 (KJA) 15400 (AGM) 15450 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15312 15225 (KJA) 15205 15450 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K · FOB TDUKU
15112 (PRISCOLIN) 14995 (MM) 15000 (AGM) 15250 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14787 14490 (MNA) 14600 (PBI) 15100 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
14762 14490 (MNA) 14500 (PBI) 15000 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
14947 14490 (MNA) 14600 (PBI) 15100 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Pasar cenderung melemah pada beberapa lokasi LOCO
  • Persaingan harga cukup ketat antar bidder
  • Masih terdapat beberapa grade tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Ekonomi & Bisnis

Harga Minyak Dunia Tembus 126 Dolar AS Lalu Turun, Ini Penyebabnya

harga minyak dunia tembus 126 dolar as lalu turun, ini penyebabnya
Ilustrasi tambang minyak. (reuters)

New York, Sinata.id – Harga minyak dunia bergerak sangat fluktuatif dalam satu hari perdagangan. Sempat melonjak hingga 126,41 dolar AS per barel, harga minyak kemudian terkoreksi tajam saat penutupan.

Berdasarkan laporan Reuters, minyak mentah Brent yang sebelumnya mencapai level tertinggi sejak Maret 2022, ditutup turun 4,02 dolar AS atau 3,41 persen menjadi 114,01 dolar AS per barel.

Advertisement

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga melemah 1,81 dolar AS atau 1,69 persen ke level 105,07 dolar AS per barel, setelah sempat menyentuh 110,93 dolar AS per barel.

Analis PVM, Tamas Varga, menilai penurunan harga lebih disebabkan oleh tingginya volatilitas pasar sejak konflik Iran meningkat, bukan oleh satu faktor spesifik.

Baca Juga  Harga CPO PTPN Hari Ini, WNI Dominasi Kemenangan Tender di Banyak Lokasi

Menurutnya, kondisi pasar saat ini sangat sensitif terhadap perubahan situasi geopolitik, sehingga pergerakan harga dapat berubah drastis dalam waktu singkat.

Di balik fluktuasi harian tersebut, tekanan terhadap pasar energi global belum mereda. Kekhawatiran utama berasal dari potensi gangguan pasokan minyak, khususnya di Selat Hormuz, jalur distribusi energi paling vital di dunia.

Ketidakpastian ini membuat harga minyak tetap berada dalam tren naik selama empat bulan terakhir.

Ketegangan geopolitik semakin memperburuk kondisi pasar. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan tengah menerima pengarahan terkait kemungkinan rencana serangan militer baru terhadap Iran.

Di sisi lain, Iran memperingatkan akan melakukan “serangan panjang dan menyakitkan” jika terjadi eskalasi lanjutan, sekaligus menegaskan kendalinya atas Selat Hormuz.

Baca Juga  Minyak Rusia Tetap Diskon Besar di Tengah Ancaman Perang Global

Sejak konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026, harga minyak Brent tercatat melonjak signifikan, sementara WTI naik sekitar 90 persen.

Analis SEB Research, Ole Hvalbye, menggambarkan kondisi pasar saat ini sebagai sangat ekstrem. Perubahan harga dalam satu hari bahkan bisa setara dengan pergerakan yang biasanya terjadi dalam beberapa bulan.

Kondisi ini membuat pelaku pasar kesulitan membaca arah pergerakan harga secara fundamental.

Data pelayaran menunjukkan penurunan signifikan aktivitas di Selat Hormuz. Dalam 24 jam terakhir, hanya sekitar tujuh kapal yang melintas, jauh di bawah kondisi normal yang mencapai 125 hingga 140 kapal per hari.

Analis IG, Tony Sycamore, menilai peluang meredanya konflik dalam waktu dekat masih kecil. Prospek normalisasi jalur distribusi energi pun dinilai belum terlihat.

Baca Juga  Izin Minimarket di Desa Terancam Dihentikan? Ini Penjelasan Mendag

Lonjakan harga minyak berpotensi memicu efek domino terhadap ekonomi global, mulai dari kenaikan biaya energi hingga tekanan inflasi di berbagai negara.

Selama konflik belum mereda dan distribusi energi global masih terganggu, volatilitas harga minyak diperkirakan akan terus berlanjut.

Pergerakan harga minyak saat ini tidak sekadar mencerminkan dinamika pasar, tetapi juga risiko besar yang merambat ke berbagai sektor ekonomi. Ketidakpastian geopolitik dan gangguan pasokan menjadi faktor utama yang akan terus menentukan arah harga ke depan. (A02)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini