Info Market CPO
🗓 Update: Senin, 4 Mei 2026 |15:05 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • FOB TDUKU • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO NGABANG • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15415 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15145 EUP ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K · FOB TDUKU
15198 (PRISCOLIN) 15097 (PAA) 15100 (AGM) 15215 PRISCOLIN ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14875 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
14850 14589 (MNA) 14600 (PBI) 14965 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15035 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • PRISCOLIN unggul pada FOB TDUKU
  • Segmen LOCO masih cenderung melemah dan belum merata
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Nasional

10 Negara Termiskin di Dunia 2025 Versi Global Finance, Indonesia Termasuk?

sudan selatan, burundi, hingga republik afrika tengah menempati daftar negara termiskin di dunia pada tahun 2025.
Sudan Selatan, Burundi, hingga Republik Afrika Tengah menempati daftar negara termiskin di dunia pada tahun 2025. (Ilustrasi)

Sinata.id – Di tengah melonjaknya kekayaan global dan pesatnya kemajuan teknologi, jurang ketimpangan justru semakin melebar. Jutaan penduduk di sejumlah negara masih terperangkap dalam kemiskinan ekstrem akibat konflik berkepanjangan, rapuhnya pemerintahan, hingga krisis pangan yang tak berkesudahan, menjadikan Sudan Selatan, Burundi, dan Republik Afrika Tengah berada di posisi terburuk dalam daftar negara termiskin di dunia.

Gegap gempita kemajuan teknologi dan geliat ekonomi global yang terus mencetak rekor, masih saja ada realitas pahit yang tak bisa dipungkiri. Jutaan manusia di berbagai belahan dunia masih berjuang hanya untuk bertahan hidup.

Advertisement

Gambaran tersebut paling terlihat di negara-negara yang terkunci dalam lingkaran konflik, rapuh secara politik, dan tercekik minimnya kesempatan ekonomi.

Pandemi COVID-19, lonjakan inflasi dunia, serta pemangkasan drastis bantuan internasional membuat luka sosial semakin menganga.

Ironinya, di saat para negara adidaya menikmati ledakan kekayaan, banyak negara justru semakin tenggelam dalam kemiskinan ekstrem.

Baca Juga: 45 Jemaah Umrah India Tewas dalam Kecelakaan Bus Maut

Burundi, Sudan Selatan, hingga Republik Afrika Tengah menjadi potret bagaimana ketidakstabilan politik dapat meruntuhkan segala upaya pembangunan.

Laporan Global Finance kembali menyoroti kesenjangan tersebut melalui tolok ukur Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita berbasis purchasing power parity (PPP), metode yang menilai kemampuan daya beli masyarakat setelah disesuaikan biaya hidup masing-masing negara.

Namun angka bukan satu-satunya cerita. Di balik statistik itu, ada jejak sejarah panjang yang penuh luka, seperti kolonialisme, perang saudara, kekeringan beruntun, hingga pemerintahan yang rapuh.

Baca Juga  DPR RI Setujui Anggota Dewan Pengawas BPJS 2026–2031

Di negara yang gagal menyediakan pendidikan layak, kemiskinan bukan sekadar masalah hari ini, melainkan warisan yang terus diwariskan antar-generasi.

Pandemi menjadi babak kelam berikutnya. Di kawasan dengan sektor informal yang mendominasi, ketiadaan perlindungan sosial membuat jutaan keluarga jatuh bebas tanpa pegangan.

Bank Dunia memprediksi generasi pelajar dari negara miskin dan berkembang kehilangan sekitar 10% potensi pendapatan masa depan mereka.

Sebelum dunia tersapu virus, jumlah penduduk miskin ekstrem sempat turun drastis dari 35% pada 1990 menjadi di bawah 10%.

Namun COVID-19 membalikkan pencapaian tiga dekade tersebut.

Baca Juga: Gadis di Kepahiang Bongkar Aksi Bejat Kakak Ipar: Dirudapaksa Belasan Kali Selama Tujuh Tahun

Pada akhir 2022, sekitar 200 juta orang kembali terjun ke jurang kemiskinan ekstrem.

Belum pulih dari krisis itu, perang di Ukraina memicu gelombang baru, yakni harga pangan melambung, energi melesat liar, dan banyak negara kaya justru mengurangi bantuan luar negeri.

Pembubaran sebagian program kemanusiaan bahkan diperkirakan bisa memicu jutaan kematian yang sebenarnya dapat dicegah hingga tahun 2030.

Di sisi lain, jurang antara negara kaya dan miskin terus melebar.

Hutang luar negeri menggunung, perubahan iklim menghantam tanpa ampun, perdagangan global timpang, dan akses terhadap teknologi makin tidak merata.

Negara-negara kaya menikmati daya beli lebih dari USD118.000 per tahun, sementara di jajaran negara termiskin, angka itu bahkan tak tembus USD2.000.

Baca Juga  BAKN Telaah Tata Kelola Pelistrikan untuk Wujudkan Swasembada Energi

Daftar 10 Negara Termiskin di Dunia (PPP per kapita) – 2025

Dikutip Sinata.id dari Laporan Global Finance pada Selasa (18/11/2025), inilah 10 negara termiskin di dunia:

10. Madagaskar – USD2.043 (± Rp34,2 juta)

Sejak kemerdekaan pada 1960, negeri kepulauan ini tak pernah benar-benar pulih dari pergolakan politik. Korupsi, badai topan, kekeringan, dan banjir silih berganti merusak lahan pangan, mendorong 75% penduduk hidup dalam kemiskinan.

9. Liberia – USD2.005 (± Rp33,5 juta)

Meski menjadi republik tertua di Afrika, stabilitas ekonomi belum pernah benar-benar tercapai. Harapan sempat muncul saat pemerintahan baru terbentuk pasca 2023, tetapi tantangan seperti korupsi, infrastruktur buruk, dan sektor informal yang dominan masih menekan laju ekonomi.

8. Somalia – USD1.915 (± Rp32 juta)

Bangkit di tengah konflik dan bencana bukan perkara mudah. Hampir 70% warganya hidup di bawah garis kemiskinan global. Kekeringan, banjir, dan ancaman kelompok bersenjata terus membayangi.

7. Republik Demokratik Kongo – USD1.884 (± Rp31,5 juta)

Negara dengan salah satu cadangan mineral terbesar di dunia ini justru terseok di kubangan korupsi dan instabilitas selama puluhan tahun. Kekayaan tembaga, kobalt, hingga hutan tropis belum mampu mengerek kesejahteraan rakyat.

6. Malawi – USD1.777 (± Rp29,8 juta)

Ekonominya bertumpu pada pertanian tadah hujan. Ketika cuaca tak berpihak, inflasi melonjak, mata uang terjun bebas, dan krisis pangan tak terhindarkan.

Baca Juga  Bahlil: Saya Sudah Biasa Dihina Sejak Kecil

5. Mozambik – USD1.728 (± Rp28,9 juta)

Meski dianugerahi cadangan gas besar, negara ini masih kesulitan bangkit akibat serangan kelompok ekstremis, ketidakstabilan politik, dan dampak perubahan iklim.

4. Yaman – USD1.674 (± Rp28 juta)

Konflik sejak 2014 memporakporandakan hampir seluruh sektor ekonomi. Minyak berhenti diekspor, pendapatan negara runtuh, dan kelaparan ekstrem mengintai lebih dari separuh penduduk.

3. Republik Afrika Tengah – USD1.329 (± Rp22,2 juta)

Meski kaya emas dan berlian, perpecahan internal dan lemahnya kontrol pemerintah membuat rakyat tetap hidup dalam kemiskinan akut.

2. Burundi – USD1.015 (± Rp17 juta)

Sumber daya alam terbatas, perang saudara berkepanjangan, dan inflasi yang bisa menembus 40% menjadi faktor pembentuk kemelaratan struktural negara ini.

1. Sudan Selatan – USD716 (± Rp12 juta)

Negara termuda di dunia ini justru menghadapi masa depan paling suram. Kekayaan minyak berubah menjadi sumber konflik berkepanjangan. Infrastruktur rusak, inflasi gila-gilaan, dan hampir seluruh populasi terancam jatuh di bawah garis kemiskinan tahun ini.

Posisi Indonesia di Peta Global

Indonesia berada di peringkat 83 sebagai negara termiskin jika dihitung berdasarkan PPP per kapita, yakni USD17.611 (± Rp295 juta).

Artinya, Indonesia jauh di atas kelompok negara termiskin, namun masih menghadapi PR besar, seperti ketimpangan wilayah, akses pendidikan, hingga persoalan pembangunan yang belum sepenuhnya merata. [a46]

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini