Info Market CPO
🗓 Update: Kamis, 7 Mei 2026 |18:20 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 1K DMI • LOCO PARINDU • LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14782 14455 (MNA) 14600 (PBI) 15000 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 1K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Harga relatif stabil pada transaksi DMI
  • Selisih harga antar bidder sangat tipis
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Nasional

Warga Jemaat HKBP Kirim Surat Terbuka ke Ephorus, Usulkan Penulisan Ulang Sejarah Misionaris

warga jemaat hkbp kirim surat terbuka ke ephorus, usulkan penulisan ulang sejarah misionaris
Para misionaris di Tanah Batak dalam Konferensi tahun 1899. Nommensen ketiga dari kiri baris depan. (istimewa)

Jakarta, Sinata.id – Anggota jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Ch. Robin Simanullang, mengirimkan surat terbuka kepada Ephorus HKBP, Pdt. Victor Tinambunan.

Surat tersebut berisi usulan strategis mengenai penulisan ulang dan pelurusan sejarah misionaris di Tanah Batak menuju narasi yang dinilai lebih jujur, adil, dan berpusat pada ajaran Kristus.

Advertisement

“Demi mendukung kerja tim agar menghasilkan karya yang substantif, jujur, dan terbebas dari bias narasi lama yang bernuansa kolonial, izinkan saya menyampaikan sejumlah dasar pertimbangan dan usulan,” ujar Ch. Robin Simanullang di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Penulis buku Hita Batak: A Cultural Strategy itu menilai penulisan ulang sejarah misionaris dapat menjadi momentum “pertobatan sejarah” bagi HKBP maupun gereja-gereja Batak lainnya.

Menurutnya, pengungkapan fakta sejarah secara jujur dan berimbang akan memperlihatkan HKBP sebagai gereja yang merdeka secara intelektual dan spiritual, sekaligus tetap memuliakan Tuhan melalui bahasa dan budaya Batak.

Enam Dasar Pertimbangan

Ketua Dewan Penasihat Perkumpulan Forum Jurnalis Batak (Forjuba) tersebut menguraikan enam poin utama sebagai dasar usulan penulisan ulang sejarah misionaris di Tanah Batak.

  1. Restorasi Fakta Misionaris Perintis

Robin menilai sejarah perlu mencatat secara objektif bahwa Ingwer Ludwig Nommensen bukan satu-satunya misionaris perintis di Tanah Batak.

Baca Juga  Tidak Benar Listrik di Aceh Sudah Pulih 97 Persen, KESDM Didesak Percepat Pemulihan

Sebelum kedatangan Nommensen, sejumlah misionaris lain seperti Gerrit van Asselt, W.F. Betz, Dammerboer, J. Ph. D. Koster, Johann Carl Klemmer, dan Carl Wilhelm Heine disebut telah lebih dahulu melakukan pelayanan Injil dan membaptis masyarakat Batak melalui proses evangelisasi.

Menurutnya, mengabaikan peran mereka merupakan bentuk ketidakadilan sejarah.

  1. Dekolonisasi Narasi Sejarah

Robin juga menyoroti pentingnya memisahkan narasi misi keagamaan dari kolonialisme.

Ia menilai istilah Expeditio Sacra atau “Perang Suci” yang dikaitkan dengan kerja sama misi dan militer kolonial Belanda perlu ditempatkan dalam konteks sejarah yang objektif.

“Hal ini penting agar gereja tidak mewarisi narasi kolonial yang memandang budaya Batak secara negatif,” ujarnya.

  1. Pengakuan terhadap Literasi dan Budaya Batak

Dalam suratnya, Robin menegaskan bahwa masyarakat Batak bukanlah kelompok pasif ketika Injil masuk ke Tanah Batak.

Ia menyebut bangsa Batak telah memiliki aksara, tradisi literasi, sistem religi, dan nilai budaya yang kuat sehingga mampu menerima serta menyesuaikan ajaran baru secara kritis dan adaptif.

Menurutnya, perkembangan peradaban di Tanah Batak merupakan hasil perjumpaan antara Injil dan kesiapan budaya masyarakat Batak sendiri.

Baca Juga  Ephorus HKBP Minta Jusuf Kalla Klarifikasi Ucapannya soal Kristen Membunuh Menjadi Syahid
warga jemaat hkbp kirim surat terbuka ke ephorus, usulkan penulisan ulang sejarah misionaris
Para misionaris di tanah batak sekitar tahun 1900. Nommensen keempat dari kanan baris depan. (istimewa)

  1. Peran Tokoh Lokal dan Guru Jemaat

Robin menilai keberhasilan penyebaran Injil tidak terlepas dari kontribusi guru jemaat, sintua, tokoh adat, dan pelayan gereja lokal.

Mereka disebut menjadi penghubung penting dalam menerjemahkan ajaran Kristus ke dalam bahasa dan budaya Batak.

Ia juga mengingatkan agar sejarah gereja tidak hanya berfokus pada figur asing, melainkan turut menonjolkan kontribusi masyarakat Batak dalam membangun gerejanya sendiri.

  1. Koreksi Paradigma Teologis

Robin menilai publikasi yang terlalu menonjolkan satu tokoh misionaris berpotensi menimbulkan pengultusan individu.

Menurutnya, penulisan ulang sejarah harus menempatkan Kristus sebagai pusat gereja dan Roh Kudus sebagai penggerak utama perjalanan sejarah gereja.

  1. Merayakan Kemandirian HKBP

Ia juga menyoroti sejarah kemandirian HKBP sebagai gereja lokal di Nusantara.

Menurut Robin, HKBP telah mampu berdiri mandiri secara yuridis sejak 1930 dan secara faktual pada 1940, sebagai bagian dari perjalanan panjang gereja Batak melepaskan diri dari dominasi zending Eropa.

Surat Ditembuskan ke Berbagai Kalangan

Selain ditujukan kepada Ephorus HKBP, surat terbuka tersebut juga ditembuskan kepada para pendeta, pelayan gereja, majelis jemaat, cendekiawan HKBP, gereja-gereja Batak lainnya, hingga insan pers dan media.

Baca Juga  Komdigi Ungkap 8 Aplikasi Pembiayaan Digital Sebar Data Nasabah

Ketua Dewan Pembina DPP Forum Penulis dan Wartawan Indonesia (FPWI) itu berharap pembahasan sejarah misionaris dapat dilakukan secara terbuka, akademis, dan independen.

Usulan Substansi Penulisan Ulang

Dalam surat tersebut, Robin mengusulkan tiga poin utama terkait substansi penulisan ulang sejarah misionaris di Tanah Batak.

Pertama, penggunaan metodologi induktif yang mengutamakan dokumen primer dan manuskrip objektif.

Kedua, penguatan narasi inkulturasi dan jati diri Batak, yakni Injil hadir untuk melengkapi dan menguduskan nilai luhur budaya Batak seperti Dalihan Na Tolu.

Ketiga, perubahan pola visualisasi sejarah dari konsep “pahlawan tunggal” menjadi pengakuan kolektif terhadap para misionaris dan tokoh lokal Batak.

“Demikian usulan ini saya sampaikan dengan harapan tim yang dibentuk dapat bekerja secara independen demi kemuliaan Tuhan,” tutup Robin.

Sebelumnya, Robin Simanullang juga diketahui telah bertemu langsung dengan Ephorus HKBP Pdt. Victor Tinambunan di Sopo Marpingkir, Jakarta, pada 1 Mei 2026. Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan pentingnya pelurusan sejarah misionaris dan mengapresiasi pembentukan Tim Sejarah Misionaris oleh HKBP. (SN22)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini