Oleh : Erayadi MPd
Tuan Guru Bah Yoga
Dosen STAI Samora
I. Pendahuluan
Thoriqoh yang dalam kamus Besar Bahasa Indoneia ditulis ‘Tarekat”, dan kata Tarekat ini akan menjadi pembahasan pada tulisan ini.
Tulisan ini memang tidak kaya dengan referensi, tetapi cukup memberikan gambaran pada para pembaca tentang apa dan bagaimana tarekat sebenarnya.
Tulisan ini juga merupakan refleksi dari perjalanan spiritual penulis. Di awal perjalanan bertarekat, penulis menerima penjelasan dari pengajar tarekat (pengajar disebut Khalifah).
Khalifah dari sebuah tarekat yang bernama tarekat Naqsyabandiyah. Khalifah tersebut menjelaskan bahwa tarekat adalah jalan. Jalan menuju Allah, untuk sampai kepada Allah dan bertemu dengan Allah,serta mendapat kasih sayang Allah.
Jalan menuju Allah diawali dengan berbai’at tarekat naqsyabandiyah. Bai’at berarti berjanji setia dihadapan guru, untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah, serta mencintai Allah dan RasulNya dengan segenap jiwa dan raga.
Amalan utama setelah bai’at ini adalah “Zikrullah”. Zikrullah berarti mengingat Allah. Hal ini untuk mengamalkan firman Allah, surat Al Ahzab ayat 41 “Hai orang-rang yang beriman, ingatlah Allah dengan ingatan yang sebanyak- banyaknya”.
Tentu saja, mengamalkan zikrullah dengan tata cara yang sudah diajarkan secara khusus oleh guru.
Sampai kepada Allah dalam arti bahwa, seperti yang tertera pada surat Al Hijr ayat 99 “ Dan beribadah lah pada Tuhan mu sampai datang keyakinan”.
Serta mengamalkan hadits rasul “Sembahlah Allah seolah-olah engkau malihat Nya, dan apabila engkau tidak melihat Nya, yakinilah pasti Allah melihat mu” (HR Muslim dari Umar Bin Khattab).
Bertemu dengan Allah adalah harapan dan cita cita sejati semua orang yang beriman. Ini sangat sesuai dengan firman Allah, surat Al Kahfi ayat 110 “… maka barangsiapa yang ingin bertemu dengan Tuhannya, maka beramal soleh dan jangan sekali kali menyekutukan Nya dengan sesuatu”.
Mendapat kasih sayang Allah merupakan hadiah terbaik dari Allah. Kasih dan sayang Allah diberikan kepada orang orang yang takut kepada Nya. Firman Allah surat Al Bayyinah ayat 8 “… Allah Ridho kepada mereka, dan merekapun ridho kepada Nya…”. Kemudian surat Al Fajr ayat 27-28 “Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah epada Tuhanmu dengan Ridho dan diridhoi Nya”.
Rangkaian kalimat berjalan menuju kepada Allah, sampai kepada Allah, bertemu dengan Allah dan mendapat kasih sayang Allah merupakan terjemahan dari kata tarekat sekaligus juga untuk mengenal Nya.
II. Pembahasan
Analisis kata “Berjalan”
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Berjalan berarti melangkahkan kaki maju, bergerak dari satu titik ke titik lain, atau (secara kiasan) berlangsung/berlaku (tentang peraturan/proses). Maknanya bisa harfiah (bergerak kaki) atau kiasan (sesuatu sedang berjalan/berproses). Kata dasar dari Berjalan adalah Jalan.
Jalan dalam KBBI memiliki arti tempat lalu lintas kendaraan atau orang (kata benda), arah atau rute untuk mencapai suatu tempat, perlintasan, atau cara / metode untuk mencapai sesuatu (kata benda). Secara harfiah, berjalan adalah pergerakan tubuh dengan melangkahkan kaki dari satu titik ke titik lain, namun maknanya berkembang untu menggambarkan berbagai proses yang berjalan atau berlangsung.
Berjalan menuju Allah adalah perjalanan spiritual atau sering juga disebut perjalanan ruhani atau perjalanan batin seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah. Waktu perjalanannya berlangsung berkekalan berkepanjangan seumur hidup.
Mendekatkan diri kepada Allah mealui ibadah zahir dan batin, diistilahkan oleh pengamal tarekat dengan “Dawamul Ubudiyah Zohiron wa batinan ma’a Dawamil Khudhuril Qolbi Ma’Allah (Berkekalan berkepanjangan ibadah kepada Allah zahir batin dan berkekalan berkepanjangan hadir hati akan Allah).”
Pengamalannya diawali dengan taubat an nashuha, dilanjutkan dengan zikrullah, Solat, dan amaliya yang lain.
Dalam perspektif tarekat, berjalan menuju Allah adalah perjalanan spiritual yang dibimbing guru (yang disebut Mursyid) untu menyucikan diri (tazkiyatun Nafs), mendekatkan diri kepada Allah (taqorrub), pengenalan hakiki (ma’rifat), dan mengikis keakuan melalui riyadho dan mujahadah.
Analisis kata “Sampai”
“Sampai” menurut KBBI frasa yang sering digunakan untuk menyatakan ketibaan (tiba di suatu tempat), pencapaian (cita-cita), atau batas (waktu/jumlah), dengan sampai berfungsi sebagai kata kerja atau preposisi, dan dalam konteks formal sering ditulis “sampai dengan” untuk menunjukkan batas waktu, tempat, atau jumlah dengan lebih jelas dan resmi.
Penggunaan yang benar tergantung konteks kalimat, bisa berarti “hingga tiba” (e. g., sampai di rumah) atau “hingga batas” (e. g., sampai am 5).
“Sampai kepada Allah” berarti mencapai tingkatan spiritual yang mendalam, merasakan kedekatan dan pengetahuan hakiki tentang Allah melalui pengalaman batin, bukan penyatuan fisik, dicapai melalui ketaatan, zikir, dan tawakkal, yang menghasilkan ketenangan hati dan pemahaman mendalam tentang Allah.
Ini adalah pengalaman makrifat yang melampaui batas indera, di mana seseorang menyadari pengawasan Allah dan merasa tenang dengan mengingat Nya, mencapai puncak keimanan dan ketakwaan.
Hakikat “sampai kepada Allah” yaitu :
Pengetahuan Hakiki (ma’rifat), yakni mendapatkan pengetahuan langsung (penyaksian mata batin) tentang hakikat, kebesara dan keagungan Allah.
Wushul Ilallah (kedekatan batin/ruhani/spiritual), yakni merasakan kedekatan batin, pengalaman ruhani, dan perjalanan spiritual.
Jiwa Muthmainna, yakni jiwa yang tenang karena senantiasa mengingat Allah.
Ketundukan dan Ketaatan, yakni mengutamakan kehendak Allah di atas kehendak diri sendiri, serta taat saat sendiri maupun ramai dan senantiasa memohon kepada Allah agar hati istiqamah dalam ketaatan.
Kesadaran Pengawasan (Muroqobah), yakni merasa selalu dalam pengawasan dan pengetahuan Allah, sehingga mengarahkan ucapan dan perbuatan dalam keadaan baik.
Analisis kata “Bertemu”
Masih menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bertemu berarti berjumpa, bersua, berhadapan muka, menemui, atau menjadi satu (bersambung), bisa karena kesepakatan (janji) atau tidak sengaja (kebetulan), dan bisa juga berarti mencapai (harapan) atau terkena (bahaya). Kata ini memiliki banyak makna tergantung konteksnya, seperti “betemu muka” (tatap muka), “bertemu ujung” (bersambung), atau “bertemu duga” (wawancara).
Bertemu Allah adalah keyakinan setiap insan akan kembali dan bertemu dengan Allah. Bagi kalangan tarekat pertemuan terjadi tidak hanya di akhirat saja tetapi di dunia juga bisa bertemu. Syarat bertemu Allah : Beramal saleh dan tidak syirik, surah Al Kahfi ayat 110
“Katakanlah (Muhammad), “Sesungghnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepada Ku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan yang Esa.” Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah beramal saleh dan tidak menjadikan sesuatu apapun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.
Kembali kepada-Nya
Mengutip potongan ayat dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 156 “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Ro Ji’un “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada Nya kami akan kembali. Ha ini menunjukkan ketundukkan pada Allah SWT atas segala perintah dan ketetuan Nya.
Analisis kalimat “Mendapat Ridho (Kasih dan Sayang) Allah”
Mendapat ridho Allah berarti menerima apapun kehendak dan ketentuan Alllah dengan bahagia, karena semua kehendak dan ketentuan Allah adalah manifestasi dari kasih sayang Nya. Tujuan hidup manusia sebenarnya adalah mencari ridho Allah. Kalau Allah sudah ridho terhadap apa yang kita lakukan pasti hasilnya baik.
Bahkan dalam ilmu tasawuf selalu diajarkan, yang kita cari dalam ibadah bukanlah surga atau karena takut neraka, tetapi ridho Allah SWT. Oleh karena itu, tak heran bila ada yang menyatakan kalaupun pada akhirnya masuk neraka, itu tidak akan menjadi masalah karena itu memang ridho Allah.
Mengutip uraian Gus Baha dalam pengajiannya mengingatkan bahwa ridho Allah bisa dicapai dengan perbuatan yang kita lakukan sehari hari. Apa contohnya ? Makan dan minum.
Allah meridhoi hamba Nya yang ketika makan selalu memuji Allah. Hamba yang ketika minum memuji Allah dalam tiap tegukannya. Kalau Allah sudah ridho, apapun yang dilakukan selalu direstui.
Beliau menambahkan, bahwa “Rasulullah sudah meberi panduan di mana untuk menggapai ridho Allah itu banyak hal yang bersifat keseharian. Contohnya, jika kamu punya uang dan istrimu bisa makan dari uang tersebut, Allah meridhoinya dan itu juga dianggap Ibadah.
Penjelasan Gus Baha tentang konsep ridho Allah sangat relevan dengan apa yang dirasakan dan difahami penulis tentang mendapat ridho Allah.
Suluk
Kata Suluk berarti “menjalani”, yakni praktek spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ibadah. Suluk merupakan kegiatan lanjutan dari tarekat. Sehingga antara tarekat dan suluk tidak bisa dipisahkan.
Kalau diistilahkan, adanya jalan bila tidak dijalani maka tidak akan sampai ke tujuan. Inilah tarekat dan suluk, adanya jalan maka harus dijalani agar sampai ke tujuan.
Terkait dengan suluk, pelaksanaannya sangat tertib, rapi dan teratur. Hal ini terlihat dari adanya adab adab pra pelaksanaan, saat pelaksanaan dan paska pelaksanaan. Berikut ini adab adab terkait suluk.
Di dalam buku Metode Alternatif Thariqat Naqsyabandiyah yang ditulis oleh Tuan Guru Buyah DR. Syekh Salman Da’im jilid IV hal 25-27 menjelaskan adab tentang suluk terbagi 3, yaitu : Adab sebelum suluk terdiri dari 7 hal, yakni : Hendaklah cari guru yang mursyid, artinya guru yang telah terkenal kesana kemari. Yaitu guru yang telah masyhur ilmunya dan tidak dicela orang pengajarannya dan guru itu mendapat ilmu dari guru tertentu hingga silsilahnya sampai kepada Rasulullah.
Guru tersebut tidak pernah durhaka kepada gurunya, dan sangat tertib adabnya serta luas faham dan ilmunya.
Guru tersebut tidak kasih akan dunia dan pekerjaan yang harus pada syara’
Hendaklah diselesaikan urusan pekerjaan dunia maupun ahirat.
Hendaklah membawa bekal yang halal lagi suci.
Hendaklah dii’tikadkan suluk itu pergi meminta izin kepada ibu, ayah, sanak keluarga, tetangga, jiran dan lain-lain.
Kita menyadari bahwa pergi suluk itu dengan membawa dosa yang tiada terhingga banyaknya, serta taksir yang tiada terhingga, sembari mengharapkan rahmat dan magfiroh Allah yang maha Pengampun lagi maha Penyayang hamba Nya yang bertaubat.
Apabila bertemu dengan gurunya, hendaklah dia menyerahkan dirinya kepada tuan Guru seraya berkata “Minta ijin hamba tuan, hamba datang dari alam jahil dan lautan dosa, hamba pulangkan diri hamba kepada tuan, kiranya hamba diberi teladan bimbingan untuk segera keluar dari alam jahil lautan dosa, serta masukkan hamba ke alam yang terang benderang dengan berkat bimbingan dan bela tuan hamba beserta Allah dan Rasul Nya dan para masyaikh kiram.
Adab di dalam suluk ada 21 hal, yakni ;
Hendaklah mensucikan niat daripada segala karena dan kehendak walau hendak menjadi khalifah sekalipun, karena sesuatu itu dipandang dari niatnya, maka akan baik pula hasilnya. Tetapi hendaklah niat suluk itu semata mata beramal ibadah kepada Allah. Mutlak berhampir diri kepada Allah guna mendapat ridho Allah.
Hendaklah bertaubat daripada maksiat zahir maupun batin. Hendaknya berniat masuk suluk 10 hari atau 20 hari dan selanjutnya.
Hendaknya mengurangi makan dan minum serta berkata kata. Dilarang makan daging atau ikan serta semua yang berbangsa bernyawa. Dilarang berkata kata hanya bagi sesama suluk 14 kalimat dan kepada yang tidak suluk 7 kalimat.
Tidur hendaklah melentur seperti keadaan di dalam perut ibu, dan sebenarnya orang yang suluk itu di dalam perut gurunya.
Hendaknya berkekalan wudhu’ dan berkekalan shalat jamaa’ah serta berkekalan menungggu waktu shalat.
Hendaklah kita yang dahulu duduk di tempat khatam dan tawajjuh, dan terlebih baiknya kita pula yang kemudian bangkit dari pada sekalian jama’ah.
Jangan bersandar pada sesuatu waktu berzikir sama ada waktu sendirian, maupun waktu berjama’ah.
Hendaklah istiqamah duduk pada tempatnya dan keluar ke sana ke mari kecuali dengan hajat.
Jika berhajat keluar dari tempatnya hendaklah badan diselubungi dengan kain supaya tidak kena panas mata hari dan tiupan angin, supaya tidak mudah sakit.
Hendaklah menghentikan amalan sunatnya karena membanyakkan zikrullah.
Hendaklah banyak menuntut rahmat kepada Allah ta’ala pada tiap-tiap kelakuan.
Perbuatlah segala kebajikan terutama kepada sesama ikhwan yang suluk supaya mendapatan doa’a mereka itu.
Dikuati membawa adab kepada Khalifah yang di bawah gurunya seperti kepada gurunya juga.
Hendaknya banyak memberikan shodaqoh sewaktu kita ber-suluk supaya segera terbuka hijab kepada Allah ta’ala.
Apabila terjadi atas diri kita sesuatu di dalam berzikir, jangan dikabarkan kepada orang lain walapun kepada yang sesama suluk, tetapi hendaklah diberitahukan kepada siapa Khalifah yang dibawah gurunya, dan jangan ditanya apa-apa artinya yang tersebut itu.
Apabila berubah perasaan ketika berzikir itu, hendaklah dinafikan dengan segera. Jangan diputuskan zikirnya dan dikuati wukuf qalbi dan dihadirkan Robithoh. Hendaklah mengekalkan ingat kepada gurunya dan tiada bercerai tiliknya selama-lamanya.
Senantiasa ber-zikrullah yang diajarkan gurunya. Hendaklah berkekalan wukuf qalbi walau ke jamban sekalipun, selanjutnya senantiasa mensucikan hati dari pada maksud dan tujuan suluk, seperti hendak melihat sorga maupun neraka atau hendak melihat arwah Ibu Bapaknya di dalam kubur dan lain-lain, tetapi hendaknya semata-mata menuju Allah dan sampai bertemu dengan Allah serta mendapat keridhoan Allah, maka ingatlah tujuan doa munajat kita.
Adab Kemudian dari pada Suluk 9 hal, yakni : Dikuati zikrullah pada waktu lapang seperti selesai shalat magrib hingga waktu shalat isya, atau pada waktu sahur, dan apabila tidak dikuati zikir pada waktu tersebut mudah gelap mata hati kita, maka akan dustalah kasafnya, akhirnya sulit menjaga jama’ah dan lainnya.
Hendaklah malazimi berkhatam dan tawajuh pada hari selasa dan jum’at pada siang harinya ataupun malamnya di mana ada majlis zikir yang terdekat.
Hendaklah kasih sayang ia akan apa yang didapatinya dalam suluk itu lebih dari pada mengasihi yang lainnya, sebab semua harta itu tinggal kepada orang jika kita mati tetapi hasil dan pendapatan didalam itu dibawa mati.
Hendaklah diperbanyak amal ibadahnya di luar suluk dan jangan kembali kepada pekerjaannya dahulu, sebab jika kembali kepada pekerjaanya yang dahulu alamat suluknya tidak makbul.
Jangan bersahabat dengan orang yang mencela-cela suluk, sebab siapa yang mencela pekerjaan suluk itu alamat tanggal imannya waktu mati, sebab suluk itu pekerjaan Nabi-nabi dan Ulama yang shaleh.
Hendaknya rajin mengajak orang untuk ber-thariqat dan suluk supaya mudah mendapatkan kebajikan. Hendaknya kelakuan dan I’tiqadnya seperti didalam suluk juga.
Hendaklah melazimi bersama-sama dengan gurunya serta I’tiqadnya yang yaqin dia tiada hendak bercerai dengan gurunya dan diharapkan mati di dalam bimbingan gurunya hingga sempurna matinya.
Hendaklah di I’tiqadkannya gurunya itu adalah Khalifah Rasulullah yang amat besar di dunia ini dan tiada yang dapat menyamainya walau dia seorang anak-anak dan sedikit ilmunya sekalipun. Dan lagi di dalam hatinya, gurunya inilah yang memberi bekas zohir dan batin pada memelihara dirinya dan menyampaikan ma’rifat kepada Allah SWT dengan sebenarnya, dan jika dicari beberapa banyak guru lagi tiada akan dapat menyamainya juga.
Demikianlah I’tiqadnya kepada gurunya supaya mendapat kesempurnaan hingga akhir zaman.
III. Penutup
Penulis berharap dengan adanya tulisan tarekat dan suluk ini, para pembaca mendapat informasi yang jelas tentang nya. InsyaAllah setelah tulisan ini, akan ada tulisan – tulisan selanjutnya tentang tarekat dan suluk dari penulis yang sama. Karena pada tulisan perdana ini, pembaca masih diperkenalkan dengan tarekat dan suluk.
Bila ditinjau dari ilmu filsafat, ini masih seputar “Ontologi” tarekat dan suluk. Masih ada “Epistemologi” dan “Aksiologi” tarekat dan suluk. Wassalamu’alaikum. (A18)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini