Washington, Sinata.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan ancaman akan mengaktifkan Undang-Undang Pemberontakan (Insurrection Act) guna mengerahkan militer ke Minnesota, menyusul memanasnya aksi demonstrasi yang menentang kehadiran agen Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) di Minneapolis. Pernyataan itu disampaikan Trump pada Kamis, 15 Januari 2026.
Situasi di Minnesota kian tegang sejak insiden penembakan terhadap Renee Good, seorang warga negara AS, oleh agen ICE di dalam mobilnya di Minneapolis delapan hari sebelumnya. Peristiwa tersebut memicu kemarahan publik dan memunculkan aksi protes yang kemudian menjalar ke berbagai kota lain.
Ancaman dari Trump muncul tak lama setelah seorang petugas imigrasi menembak seorang pria asal Venezuela di Minneapolis.
Pihak berwenang menyebutkan, penembakan terjadi ketika pria tersebut mencoba kabur saat petugas hendak menghentikan kendaraannya. Korban dilaporkan mengalami luka tembak di bagian kaki.
“Jika para politisi Minnesota yang korup tidak menegakkan hukum dan gagal menghentikan para provokator serta pemberontak yang menyerang patriot ICE yang sedang menjalankan tugasnya, saya akan memberlakukan INSURRECTION ACT,” tulis Trump melalui media sosialnya, dikutip dari AsiaOne, Jumat, 16 Januari 2026.
Dalam beberapa pekan terakhir, presiden dari Partai Republik itu secara terbuka melontarkan kritik keras terhadap para pemimpin Minnesota yang berasal dari Partai Demokrat.
Ia juga menuai kecaman luas setelah menyebut komunitas keturunan Somalia di negara bagian tersebut dengan istilah merendahkan dan menyarankan agar mereka dikeluarkan dari AS.
Bentrokan antara Warga dan Aparat Federal
Pemerintah federal telah mengirim hampir 3.000 personel penegak hukum ke wilayah Minneapolis.
Aparat tersebut tampak berpatroli dengan senjata api, mengenakan perlengkapan kamuflase bergaya militer, serta penutup wajah, meski cuaca kota sedang berada pada suhu dingin ekstrem.
Kehadiran mereka memicu aksi perlawanan warga yang berlangsung hampir tanpa henti, siang dan malam. Para demonstran meniup peluit dan memukul tamborin sebagai simbol penolakan.
Pada Rabu malam, massa berkumpul di sekitar lokasi penembakan pria asal Venezuela itu. Sebagian besar aksi berjalan damai, namun aparat membubarkan kerumunan dengan granat kejut dan gas air mata.
Setelah situasi relatif terkendali, sekelompok kecil orang dilaporkan merusak sebuah kendaraan yang diduga milik petugas federal.
Salah satu pelaku menuliskan grafiti merah bertuliskan “Hang Kristi Noem”, merujuk pada Menteri Keamanan Dalam Negeri AS yang membawahi ICE.
Sejak operasi penegakan hukum diperluas, agen federal telah menahan sejumlah imigran dan peserta demonstrasi.
Dalam beberapa kejadian, petugas memecahkan kaca mobil dan menyeret orang keluar secara paksa. Aparat juga mendapat kecaman karena menghentikan warga negara AS berkulit hitam dan Latino untuk pemeriksaan identitas.
Pemerintahan Trump dan otoritas Minnesota saling menyalahkan atas meningkatnya eskalasi kekerasan.
Salah satu kasus yang menyedot perhatian publik melibatkan Aliya Rahman, seorang warga negara AS, yang pada Selasa ditarik secara paksa dari mobilnya oleh petugas imigrasi bermasker di dekat lokasi tewasnya Renee Good.
Kepada Reuters, Rahman mengaku diperlakukan secara tidak manusiawi. “Mereka menyeret saya keluar dari mobil dan memborgol saya seperti hewan, padahal saya sudah menjelaskan bahwa saya penyandang disabilitas,” ujarnya.
Ia mengatakan sempat berulang kali meminta bantuan medis setelah ditahan oleh ICE, namun justru dibawa ke fasilitas terpencil. Rahman mengaku sempat pingsan di dalam sel sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit.
Menanggapi tudingan tersebut, juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menyebut Rahman sebagai “provokator” yang menolak perintah petugas untuk memindahkan kendaraannya dari area operasi, sehingga ditangkap dengan tuduhan menghalangi tugas aparat.
Kronologi Penembakan Pria Venezuela
DHS mengungkap identitas pria Venezuela yang ditembak sebagai Julio Cesar Sosa-Celis.
Ia sebelumnya memasuki AS pada 2022 melalui program pembebasan bersyarat kemanusiaan yang diberlakukan di era Presiden Joe Biden. Program tersebut kemudian dicabut oleh pemerintahan Trump, termasuk bagi warga Venezuela dan kelompok lainnya.
Menurut versi DHS, petugas federal berusaha menghentikan kendaraan Sosa-Celis, namun ia melarikan diri hingga menabrak mobil yang terparkir, lalu kabur dengan berjalan kaki.
Seorang petugas sempat menangkapnya, tetapi saat keduanya bergumul di tanah, dua pria Venezuela lain keluar dari apartemen terdekat dan menyerang petugas menggunakan alat seperti pengikis salju dan gagang sapu.
Sosa-Celis kemudian berhasil melepaskan diri dan kembali menyerang petugas dengan sekop atau gagang sapu. Dalam kondisi tersebut, petugas melepaskan tembakan untuk membela diri, demikian pernyataan resmi DHS. (A18)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini