New Delhi, Sinata.id — Peta perdagangan energi global kembali berubah cepat. Di tengah ketegangan geopolitik dan ancaman gangguan pasokan dari Timur Tengah, sekitar 15 juta barel minyak mentah Rusia kini dilaporkan sedang mengapung di perairan dekat India, siap memasok kebutuhan energi negara tersebut.
Lonjakan pasokan ini terjadi setelah Amerika Serikat mengeluarkan izin sementara yang memungkinkan transaksi minyak Rusia kembali dilakukan untuk pasar India. Kebijakan itu membuka jalur baru bagi kilang-kilang India yang sedang mencari pasokan cepat di tengah kekhawatiran krisis energi regional.
Data pelacakan kapal menunjukkan minyak Rusia tersebut berada di lebih dari selusin kapal tanker yang saat ini berada di Laut Arab dan Teluk Benggala. Sebagian besar muatan itu belum memiliki tujuan pelabuhan yang pasti, namun posisinya cukup dekat untuk mencapai India dalam waktu singkat.
Selain itu, sekitar 7 juta barel minyak jenis Urals juga tercatat berada di beberapa kapal tanker yang sedang menunggu di sekitar Singapura. Jika dialihkan, muatan tersebut juga berpotensi segera menuju pelabuhan India.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Sanksi untuk Platform Medsos yang Abai Lindungi Anak
Dengan posisi geografis yang relatif dekat, pengiriman minyak ini diperkirakan bisa tiba di kilang India dalam waktu kurang dari satu minggu.
Kembalinya minyak Rusia ke jalur India tidak lepas dari kondisi geopolitik global. Ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah membuat pasar energi global menghadapi risiko gangguan pasokan dari wilayah yang selama ini menjadi produsen utama minyak dunia.
Situasi tersebut memaksa banyak negara konsumen energi mencari sumber alternatif yang lebih cepat dan stabil. Bagi India—salah satu importir minyak terbesar di dunia—pasokan dari Rusia menjadi opsi yang paling realistis dalam jangka pendek.
Departemen Keuangan Amerika Serikat mengeluarkan dispensasi sementara yang mengizinkan kilang India membeli minyak Rusia selama periode terbatas. Kebijakan ini bertujuan menjaga stabilitas pasokan energi global di tengah meningkatnya risiko kekurangan minyak di pasar internasional.
Izin tersebut berlaku sekitar 30 hari, khususnya untuk transaksi minyak yang telah dimuat ke kapal sebelum awal Maret dan akan dikirim ke perusahaan India.
Langkah Washington ini sekaligus menunjukkan dilema geopolitik: di satu sisi AS ingin menekan Rusia melalui sanksi energi, namun di sisi lain dunia tetap membutuhkan pasokan minyak yang stabil agar harga tidak melonjak tajam.
Sebelumnya, beberapa kilang India sempat mengurangi pembelian minyak Rusia karena tekanan politik dan negosiasi perdagangan dengan Amerika Serikat. Namun meningkatnya risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah membuat perusahaan energi India kembali membuka pintu bagi minyak dari Moskow.
Kini, dengan puluhan kapal tanker yang sudah berada di dekat perairannya, India memiliki peluang untuk mendapatkan pasokan minyak dalam jumlah besar secara cepat. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini