Menurutnya, kritik tersebut tidak memberikan solusi yang konstruktif dan cenderung mengabaikan kondisi geopolitik serta geoekonomi global yang saat ini terus berkembang.
Habiburokhman juga menanggapi saran Dino yang mengusulkan agar Presiden lebih banyak menerima kunjungan pemimpin negara lain ke Indonesia dibandingkan melakukan lawatan ke luar negeri.
Ia berpendapat bahwa dalam situasi global yang dinamis, seorang kepala negara perlu aktif melakukan diplomasi secara langsung untuk memperjuangkan kepentingan nasional dan memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional.
βMenurut kami, Presiden Prabowo perlu proaktif, baik menerima kunjungan pemimpin negara lain maupun melakukan kunjungan ke berbagai negara sebagai bagian dari diplomasi Indonesia,β ujarnya.
Selain itu, Habiburokhman menilai terdapat etika yang perlu dijaga oleh mantan pejabat negara saat memberikan penilaian terhadap penerus yang sedang menjalankan tugas pemerintahan.
Sebelumnya, Dino melalui unggahan video di media sosial pada Sabtu (30/5/2026) menyampaikan pandangannya mengenai frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo. Ia menilai intensitas perjalanan internasional Presiden cukup tinggi sejak awal masa pemerintahannya.
Dino berpendapat bahwa frekuensi kunjungan tersebut perlu dievaluasi agar tetap sejalan dengan kebutuhan dan prioritas nasional. Pandangan tersebut kemudian memicu perdebatan di ruang publik mengenai efektivitas diplomasi luar negeri dan penggunaan anggaran negara.
Hingga kini, polemik tersebut masih menjadi perhatian publik, dengan berbagai pihak menyampaikan pandangan berbeda mengenai strategi diplomasi yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo.Β (A02)
Β










Jadilah yang pertama berkomentar di sini