Jakarta, Sinata.id – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperkuat kolaborasi dengan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FF UI) sebagai bagian dari strategi besar untuk mempersiapkan Indonesia menghadapi persaingan global dalam pengembangan obat inovatif dan teknologi kesehatan yang semakin kompetitif di kawasan Asia Tenggara.
Kepala BPOM, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menegaskan bahwa perguruan tinggi merupakan mitra strategis dalam memperluas jangkauan sekaligus meningkatkan efektivitas pengawasan obat dan makanan berbasis ilmu pengetahuan.
Menurutnya, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi produk farmasi global, tetapi harus mampu melahirkan inovasi kesehatan melalui riset dan pengembangan yang kuat.
“Di era inovasi kesehatan yang bergerak sangat cepat, pengambilan keputusan regulatori harus semakin berbasis bukti ilmiah. Karena itu, kolaborasi dengan kampus-kampus unggulan seperti Fakultas Farmasi UI menjadi sangat penting untuk mendukung lahirnya obat-obat inovatif karya anak bangsa,” ujar Taruna Ikrar saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (2/6/2026).
BPOM Kembangkan Regulasi Modern Berbasis Bukti Ilmiah
Taruna Ikrar menjelaskan bahwa BPOM saat ini telah mengembangkan berbagai pendekatan regulatori modern, termasuk mekanisme regulatory reliance, yang memungkinkan percepatan evaluasi obat inovatif melalui pemanfaatan hasil penilaian dari regulator terpercaya dunia.
Menurutnya, dukungan akademisi sangat diperlukan untuk memperkuat pengambilan keputusan berbasis bukti ilmiah, mulai dari penyediaan data, kajian ilmiah, analisis manfaat dan risiko, hingga pengembangan metodologi evaluasi yang sesuai dengan kebutuhan nasional.
Kolaborasi antara BPOM dan perguruan tinggi diharapkan mampu mempercepat proses pengembangan produk kesehatan yang aman, bermutu, dan berdaya saing global.
Dorong Hasil Riset Kampus Menjadi Produk Kesehatan Nasional
Lebih lanjut, Taruna Ikrar menilai tantangan terbesar dunia akademik saat ini adalah memastikan hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat diterjemahkan menjadi produk kesehatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Untuk itu, BPOM terus mendorong pemanfaatan mekanisme Investigational New Drug (IND) sebagai instrumen penting yang menghubungkan hasil penelitian laboratorium dengan tahapan pengembangan klinik hingga menjadi produk kesehatan yang siap digunakan masyarakat.
“Riset yang baik harus sampai kepada masyarakat. Kita ingin hasil penelitian para akademisi Indonesia berkembang menjadi obat baru yang aman, bermutu, berkhasiat, dan mampu bersaing di tingkat global,” kata Taruna.
Perkuat Kapasitas Uji Klinik Nasional
Selain pengembangan riset, BPOM juga mendorong penguatan kapasitas uji klinik nasional melalui kolaborasi yang lebih erat dengan Fakultas Farmasi UI dan Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI).
Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun sentra uji klinik berstandar internasional yang mampu mempercepat lahirnya inovasi kesehatan nasional.
BPOM bahkan tengah menginisiasi pilot project rekognisi sentra uji klinik, yang diharapkan dapat melibatkan RSUI sebagai salah satu kandidat utama.
Menurut Taruna Ikrar, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam pengembangan obat inovatif di kawasan ASEAN.
“Indonesia memiliki talenta, ilmuwan, dan sumber daya yang luar biasa. Yang kita perlukan adalah kolaborasi yang semakin kuat agar hasil-hasil riset nasional dapat berkembang menjadi produk inovatif yang berdaya saing global dan memberi manfaat bagi masyarakat luas,” pungkasnya.
Hadiri Pertemuan Strategis BPOM dan Fakultas Farmasi UI
Pertemuan antara BPOM dan jajaran pimpinan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia turut dihadiri oleh Kepala BPOM Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., Dekan Fakultas Farmasi UI Prof. apt. Silvia Surini, M.Pharm.Sc., Ph.D, Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan Dr. apt. Santi Purna Sari, M.Si., Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Ventura, dan Administrasi Umum apt. Nadia Farhanah Syafhan, M.Si., Ph.D, Manajer Sumber Daya dan Administrasi Umum Dr. apt. Heri Setiawan, M.Sc., CertDA, serta Koordinator Fasilitas, Pengadaan, dan Administrasi Umum Dr. apt. Eme Stepani Sitepu, M.Sc.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem riset dan inovasi kesehatan nasional sekaligus mendorong Indonesia menjadi salah satu kekuatan baru dalam pengembangan obat inovatif di kawasan ASEAN. (SN27)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini