JAKARTA, Sinata.id – Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyoroti masih lebarnya kesenjangan penanganan penyakit hati kronis di Indonesia dibandingkan target yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO), khususnya dalam aspek deteksi dini dan akses pengobatan.
WHO menargetkan 90 persen penderita hepatitis dapat ditemukan melalui skrining dan 80 persen di antaranya memperoleh tata laksana medis yang memadai.
Namun, capaian Indonesia saat ini masih jauh dari target tersebut.
“Gap-nya masih sangat besar,” kata Budi dalam dialog kesehatan Solid Habit Strong Liver di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Menurut Menkes, angka skrining hepatitis di Indonesia saat ini baru mencapai sekitar 10 persen.
Sementara itu, akses pengobatan bagi penderita hanya berada pada kisaran 1 hingga 5 persen.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut menjadi tantangan serius mengingat jumlah penduduk yang diperkirakan terpapar hepatitis di Indonesia mencapai sekitar 70 juta jiwa.
Rendahnya angka klaim layanan kesehatan juga menunjukkan masih banyak kasus yang belum teridentifikasi dalam sistem kesehatan nasional.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah terus memperkuat strategi promotif dan preventif yang dinilai lebih efektif dibandingkan pendekatan kuratif.
Sejumlah langkah telah dilakukan, di antaranya pemberian vaksinasi Hepatitis B bagi tenaga kesehatan sejak 2023.










Jadilah yang pertama berkomentar di sini