Washington, Sinata.id — Koper kecil milik anak-anak, sepatu seluncur es, hingga puing-puing pesawat yang terapung di Sungai Potomac menjadi simbol duka mendalam dari tragedi tabrakan pesawat penumpang dan helikopter militer yang terjadi setahun lalu.
Malam itu, sebuah pesawat American Airlines dan helikopter Black Hawk Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) bertabrakan hanya beberapa detik sebelum mendarat, menewaskan seluruh penumpang dan awak.
Kamis (29/1/2026), keluarga korban memperingati satu tahun kecelakaan yang tercatat sebagai insiden penerbangan paling mematikan di AS dalam lebih dari dua dekade. Selain keluarga, peringatan juga diikuti para petugas tanggap darurat yang menjadi saksi langsung upaya evakuasi di tengah kondisi ekstrem.
Tidak Ada Korban Selamat
Baca juga:Ketegangan AS–Iran Kerek Harga Minyak Global, Pasar Energi Bergejolak
Pesawat American Airlines Flight 5342 yang terbang dari Wichita, Kansas, menuju Washington bertabrakan dengan helikopter Black Hawk di atas Sungai Potomac pada 29 Januari 2025. Seluruh 64 penumpang dan awak pesawat, serta tiga awak helikopter, dinyatakan tewas.
“Kami menyadari sejak satu jam pertama bahwa tidak akan ada korban selamat,” ujar Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Layanan Medis Darurat Distrik Columbia, John Donnelly.
Menurut Donnelly, fokus utama saat itu adalah mengevakuasi jenazah dan barang-barang pribadi korban, sekaligus mengamankan bukti untuk keperluan investigasi kecelakaan.
Upaya Evakuasi di Tengah Kondisi Ekstrem
Selama hampir satu pekan, para penyelam dan petugas darurat menyisir sungai dengan kedalaman sekitar 2,5 meter. Jarak pandang nyaris nol, suhu air sangat dingin, serta paparan bahan bakar jet dan puing-puing tajam menjadi tantangan utama dalam proses evakuasi.
“Tidak ada keajaiban malam itu, hanya tugas berat untuk membawa pulang para korban kepada keluarga mereka,” kata Donnelly.
Pencarian barang-barang pribadi korban bahkan berlanjut hingga berbulan-bulan setelah kejadian.
Baca juga:AS Kerahkan 10 Kapal Perang, Trump Ancam Serang Iran Jika Negosiasi Gagal
Kenangan yang Sulit Dilupakan
Tim Lilley, ayah dari Sam Lilley (28), kopilot penerbangan tersebut, mengaku terharu dengan dedikasi para petugas penyelamat. Ia menyebut Sungai Potomac bukan lokasi yang aman untuk penyelaman, bahkan dalam kondisi terbaik sekalipun.
“Namun pada malam itu, mereka masuk ke air dan melakukan segala yang mereka bisa. Itu sungguh luar biasa,” ujarnya.
Beberapa bulan setelah kejadian, keluarga korban difasilitasi untuk kembali ke lokasi kecelakaan dan menaburkan bunga sebagai bentuk penghormatan terakhir.
“Itu pengalaman yang sangat emosional, sekaligus membantu proses penyembuhan,” tambahnya.
Respons Darurat Terbesar Sejak 11 September
Panggilan darurat pertama dari menara kontrol Bandara Nasional Ronald Reagan Washington diterima pada pukul 20.48 waktu setempat, dengan laporan singkat: “tabrakan, tabrakan, tabrakan”.
Respons tersebut memicu pengerahan besar-besaran aparat, menjadi operasi darurat terbesar di wilayah Washington sejak tragedi 11 September 2001. Sekitar 350 petugas dari puluhan instansi, termasuk puluhan penyelam, dikerahkan ke lokasi.
Baca juga:Pesawat Militer Amerika Serikat Semakin Dekat Serang Venezuela
“Kami tahu ini bukan kejadian biasa,” ujar Robert Varga, penyelam Departemen Kepolisian Metropolitan yang tiba di lokasi kurang dari satu jam setelah panggilan diterima.
Luka Lama Sungai Potomac
Tragedi ini mengingatkan kembali pada kecelakaan besar sebelumnya di Sungai Potomac pada Januari 1982, ketika pesawat Air Florida jatuh saat lepas landas dan menewaskan 78 orang.
Bagi para petugas dan keluarga korban, kenangan malam kelam itu masih membekas hingga kini. Cuaca dingin, suara pesawat, bahkan sepatu seluncur es di rumah anak-anak mereka kerap memicu ingatan yang menyakitkan.
“Kami hanya berharap dapat memberi sedikit kelegaan bagi keluarga,” ujar Donnelly. “Itu yang terpenting.”. (A02)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini