Jakarta, Sinata.id – Anggota Komisi V DPR RI Sudjatmiko menyatakan bahwa banjir yang berulang di banyak daerah tidak bisa semata-mata disalahkan pada tingginya intensitas hujan.
Ia menilai persoalan utama terletak pada buruknya pengelolaan siklus air serta kerusakan wilayah resapan akibat alih fungsi lahan yang tidak terkendali. Kondisi tersebut membuat air yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru berubah menjadi pemicu bencana.
Menurut Sudjatmiko, air hujan idealnya ditahan di permukaan dan diserap ke dalam tanah untuk menjadi cadangan air. Namun, praktik yang terjadi saat ini justru membiarkan air langsung mengalir sebagai limpasan, sehingga meningkatkan potensi genangan dan banjir.
Pernyataan tersebut disampaikannya dalam Diskusi Dialektika Demokrasi bertajuk “Cuaca Ekstrem, Sinergi dan Kolaborasi Bersama Atasi Bencana” yang diselenggarakan Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) bersama Biro Pemberitaan DPR RI di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Ia menambahkan, upaya untuk meningkatkan daya serap tanah selama ini masih sangat terbatas. Akibatnya, hujan dengan intensitas tinggi—yang sejatinya merupakan siklus alam dengan periode lima hingga seratus tahunan—langsung menimbulkan banjir di berbagai wilayah.
Sudjatmiko juga mengkritisi pembangunan infrastruktur dan kawasan hunian yang kerap mengesampingkan prinsip kelestarian lingkungan. Berkurangnya daerah resapan dan ruang terbuka hijau, lanjutnya, secara signifikan meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor.
Ia menegaskan bahwa kawasan daerah aliran sungai semestinya tidak dialihfungsikan menjadi permukiman atau area komersial karena dampaknya bisa meluas hingga ke wilayah yang sebelumnya relatif aman dari banjir.
Untuk itu, Sudjatmiko mengajak pemerintah dan masyarakat bersama-sama menjaga kawasan lindung serta ruang terbuka hijau sebagai bagian dari strategi mitigasi bencana jangka panjang.
Politisi Fraksi PKB tersebut menutup dengan peringatan bahwa mengorbankan lingkungan demi keuntungan ekonomi sesaat hanya akan membuat bencana terus berulang dan berdampak semakin besar di masa mendatang. (A18)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini