Info Market CPO
🗓 Update: Selasa, 5 Mei 2026 |14:54 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • LOCO NGABANG • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15260 14693 14800 15275 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
15075 14693 14700 15175 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • Segmen LOCO masih dalam tekanan harga
  • Belum ada transaksi pada beberapa titik lokasi
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Nasional

BMKG Ungkap Penyebab Hujan Lebat Mei 2026, Ini Daftar Wilayah Terdampak

bmkg ungkap penyebab hujan lebat mei 2026, ini daftar wilayah terdampak
Ilustrasi hujan deras. (beritanasional)

Jakarta, Sinata.id — Sejumlah wilayah di Indonesia masih diguyur hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem dalam beberapa hari terakhir.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai fenomena atmosfer.

Advertisement

Pada periode 1–3 Mei 2026, BMKG mencatat curah hujan sangat lebat hingga ekstrem di beberapa wilayah, antara lain Jawa Barat (166,5 mm/hari), Jambi (131,2 mm/hari), Kalimantan Barat (113,8 mm/hari), Sumatera Utara (129,5 mm/hari), dan Maluku (103,1 mm/hari).

Dipicu Gelombang Atmosfer

BMKG menjelaskan, kondisi tersebut dipicu oleh aktivitas gelombang atmosfer seperti Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) yang melintasi wilayah Indonesia.

Fenomena ini berperan dalam meningkatkan proses konveksi udara sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan di berbagai daerah.

Selain itu, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang berada pada fase 2 turut berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan, terutama di wilayah barat Indonesia, termasuk pesisir barat Sumatera.

Baca Juga  BMKG: Potensi Curah Hujan Lebat Periode 11-13 April 2026

Aktivitas MJO juga terpantau memengaruhi wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, hingga Maluku.

Pengaruh Sirkulasi Siklonik

BMKG juga mencatat adanya sirkulasi siklonik di beberapa wilayah, seperti pesisir barat dan utara Sumatera, Kalimantan bagian utara, perairan utara Maluku, serta pesisir utara Papua.

Kondisi ini turut meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan.

Selain faktor global, kondisi lokal seperti pemanasan permukaan yang cukup kuat pada siang hari dan kelembapan udara yang tinggi juga mendukung terbentuknya awan hujan.

Suhu Tetap Tinggi

Di tengah hujan lebat, suhu maksimum harian di sejumlah wilayah masih tergolong tinggi. BMKG mencatat suhu mencapai 37,1 derajat Celsius di Kalimantan Timur, 36,6 derajat Celsius di Kalimantan Utara, 36,2 derajat Celsius di Sulawesi Tengah, 36,0 derajat Celsius di Papua, dan 36,6 derajat Celsius di Kalimantan Barat.

Baca Juga  Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Bisa Disaksikan di Indonesia, Catat Waktunya

Kondisi ini menunjukkan bahwa pemanasan pada siang hari masih cukup kuat, dipengaruhi oleh tingginya radiasi matahari dan mulai menguatnya monsun Australia.

Monsun tersebut ditandai dengan dominasi angin timuran yang membawa massa udara lebih kering, sehingga tutupan awan berkurang pada pagi hingga siang hari dan suhu udara meningkat.

Potensi Hujan Masih Tinggi

BMKG memperkirakan potensi hujan masih tinggi di sebagian besar wilayah Indonesia selama sepekan ke depan.

Fenomena MJO yang masih aktif, serta gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial, diprediksi terus memicu pembentukan awan hujan.

Selain itu, bibit siklon tropis 92W terpantau berada di Samudra Pasifik utara Papua dengan kecepatan angin maksimum 15 knot dan tekanan minimum 1008 hPa, bergerak ke arah barat.

Baca Juga  Babak Baru Hukum Pidana: KUHP Baru Resmi Berlaku, Alarm Bahaya bagi Demokrasi?

Sirkulasi siklonik juga diprediksi terbentuk di Perairan Barat Laut Aceh, Selat Malaka bagian utara, perairan barat Bengkulu, Selat Makassar, dan Laut Banda.

“Kondisi ini dapat meningkatkan potensi pembentukan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan sepanjang daerah konvergensi,” jelas BMKG.

Wilayah Berpotensi Hujan Lebat

Periode 5–7 Mei 2026: Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Banten, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Maluku, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.

Periode 8–11 Mei 2026: Aceh, Sulawesi Barat, dan Papua Pegunungan.

Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, seperti hujan lebat disertai angin kencang dan petir yang dapat terjadi sewaktu-waktu. (A02)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini