Tapanuli Selatan, Sinata.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapanuli Selatan (Tapsel) mempercepat pemulihan pascabencana dengan memulai pembangunan hunian tetap (huntap) tahap II bagi 227 kepala keluarga terdampak.
Pembangunan ini ditandai dengan penandatanganan kontrak kerja antara Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dan CV Reynand Utama di Desa Hapesong Baru, Kecamatan Batangtoru, Selasa (28/4/2026), yang disaksikan langsung oleh Bupati Tapsel, Gus Irawan Pasaribu.
Pembangunan tahap II merupakan lanjutan dari huntap tahap I yang telah rampung sebanyak 227 unit, dan sebagian besar sudah ditempati warga.
Bupati Gus Irawan menegaskan bahwa pembangunan huntap tidak sekadar menyediakan tempat tinggal, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memulihkan kehidupan masyarakat secara menyeluruh.
“Yang dibangun bukan hanya rumah, tetapi juga harapan baru bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi peran Yayasan Buddha Tzu Chi yang dinilai konsisten mendampingi masyarakat sejak masa tanggap darurat hingga tahap rehabilitasi.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan huntap tahap I menjadikan Tapsel sebagai salah satu daerah pertama di wilayah Sumatera Utara (Sumut), Aceh, dan Sumatera Barat yang meresmikan hunian tetap pascabencana.
“Hari ini kita lanjutkan pembangunan 227 unit huntap tahap II. Ini menunjukkan proses pemulihan terus berjalan agar masyarakat dapat kembali hidup normal,” katanya.
Huntap tahap II diperuntukkan bagi warga relokasi dari Desa Simatohir, Dusun Rambangan, serta Desa Panobasan Lombang, Dusun Lobu Uhom.
Fokus Pemulihan Ekonomi
Selain pembangunan fisik, pemerintah daerah juga menyiapkan program pemulihan ekonomi bagi warga penerima huntap.
Pemkab Tapsel berencana memberikan bantuan kolam bioflok untuk budidaya ikan lele dan nila. Hasil produksi akan dipasarkan melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) guna menjamin penyerapan hasil panen.
Selain itu, warga juga akan didorong mengembangkan pertanian tumpang sari jagung di sekitar kawasan permukiman baru dengan dukungan akses pasar dari pemerintah.
Menurut Gus Irawan, tantangan terbesar pascarelokasi adalah memastikan masyarakat kembali mandiri secara ekonomi.
“Rumah bisa dibangun dalam waktu relatif singkat, tetapi memulihkan kehidupan membutuhkan proses yang lebih panjang. Karena itu, pemberdayaan ekonomi menjadi fokus utama,” ujarnya.
Ia juga memastikan seluruh warga terdampak kini telah keluar dari tenda pengungsian. Sebelum Idulfitri lalu, seluruh korban sudah menempati hunian sementara maupun hunian tetap yang disediakan pemerintah bersama mitra kemanusiaan.
Sementara itu, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumut, Mujianto, menyampaikan pihaknya menargetkan pembangunan huntap tahap II dapat selesai lebih cepat.
“Kami berharap proses berjalan lancar sehingga masyarakat dapat segera menempati rumah yang aman dan layak,” katanya.
Kolaborasi antara pemerintah daerah dan lembaga kemanusiaan ini diharapkan tidak hanya mempercepat pembangunan fisik, tetapi juga memulihkan kehidupan masyarakat terdampak bencana secara berkelanjutan. (SN18)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini