Jakarta, Sinata.id – PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), emiten milik Hary Tanoesoedibjo dan bagian dari MNC Group, kembali menjadi sorotan pasar setelah muncul kabar bahwa perseroan tengah mempertimbangkan pencatatan saham di Bursa Hong Kong.
Mengutip laporan Bloomberg, Senin (16/2/2026), sumber yang mengetahui pembahasan tersebut menyebutkan diskusi masih berlangsung, termasuk terkait valuasi dan waktu pelaksanaan. Hingga saat ini, manajemen MSIN belum memberikan pernyataan resmi mengenai isu tersebut.
Kontras dengan Keterbukaan Informasi ke BEI
Kabar potensi aksi korporasi di luar negeri itu berbanding terbalik dengan pernyataan manajemen sebelumnya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI).
Corporate Secretary MSIN, Ahmad Alhafiz, dalam keterbukaan informasi tertanggal 11 Februari 2026 menegaskan bahwa perseroan tidak memiliki rencana aksi korporasi dalam waktu dekat yang dapat berdampak pada pencatatan saham, setidaknya dalam tiga bulan mendatang.
Baca juga:Langkah Mengejutkan Tommy Soeharto: Seluruh Saham HITS Dilepas
Ia menyatakan satu-satunya rencana yang telah diumumkan kepada publik adalah penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) sebagaimana disampaikan pada 7 Agustus 2025 untuk memenuhi ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Rencana Private Placement
PMTHMETD atau private placement tersebut mencakup penerbitan maksimal sekitar 6,1 miliar saham baru dengan potensi dilusi hingga 9,09 persen. Dana hasil aksi korporasi ini akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan perseroan. Hingga kini, harga pelaksanaan dan calon investor belum diumumkan.
Peluang Dual Listing di Hong Kong
Secara regulasi, peluang dual listing di Hong Kong memang semakin terbuka. Pada 20 Juni 2024, BEI bersama Hong Kong Exchanges and Clearing Limited (HKEX) menggelar seminar bertajuk Roadmap to Additional Liquidity via Dual Listing di Main Hall BEI.
Kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut nota kesepahaman terkait dual listing IPO yang ditandatangani pada Juli 2023. Sejak November 2023, HKEX juga telah mengakui BEI sebagai salah satu “Recognized Stock Exchanges”, membuka peluang bagi emiten Indonesia untuk memperluas basis investor global.
Sebelumnya, emiten tambang PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) juga dikabarkan tengah menjajaki rencana IPO di Hong Kong pada tahap awal.
Baca juga:IHSG Anjlok hingga 7,35%, Menkeu Purbaya Ungkap Peran MSCI dan Praktik Goreng Saham
Saham MSIN Melonjak
Di tengah beredarnya isu tersebut, saham MSIN melonjak 62,33 persen atau naik 182 poin ke level Rp474 per saham selama periode perdagangan 9–13 Februari 2026. Kenaikan ini mendorong kapitalisasi pasar perseroan menjadi sekitar Rp28,76 triliun dengan rasio price to earnings (P/E) mencapai 63,34.
Menanggapi volatilitas harga saham, Ahmad Alhafiz menegaskan perseroan tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang dapat mempengaruhi nilai efek maupun keputusan investasi pemodal, sebagaimana diatur dalam POJK Nomor 31/POJK.04/2015.
Ia juga memastikan tidak terdapat informasi material lain yang belum diungkapkan kepada publik serta tidak mengetahui adanya aktivitas pemegang saham tertentu sebagaimana diatur dalam POJK Nomor 11/POJK.04/2017.
Hingga saat ini, pasar masih menantikan klarifikasi resmi manajemen terkait kabar pencatatan saham kedua di Hong Kong. (A02)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini