Jakarta, Sinata.id – Upaya memperkuat kemitraan strategis Indonesia–Uni Eropa tak cukup hanya bertumpu pada jalur pemerintah. Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Ravindra Airlangga, menegaskan bahwa diplomasi parlemen harus menjadi motor penggerak baru dalam memastikan keberlanjutan kemitraan kedua kawasan, khususnya melalui skema Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).
Pesan tersebut ia sampaikan saat menerima kunjungan Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, H.E. Denis Chaibi, bersama jajaran Delegasi Uni Eropa, di Kompleks Parlemen, Senayan, Kamis (12/2/2026).
Menurut Ravindra, keterlibatan aktif parlemen dari kedua belah pihak akan menjadi jembatan strategis untuk menjaga konsistensi kerja sama lintas pemerintahan.
“Hubungan Indonesia dan Uni Eropa tidak lagi berdiri sebagai relasi dua negara, melainkan telah menjadi bagian dari kemitraan strategis kawasan. Diplomasi parlemen adalah pilar yang memastikan kemitraan ini tetap relevan dan berkelanjutan,” ujarnya.
IEU-CEPA, Penanda Babak Baru
Ravindra menilai kesepakatan IEU-CEPA yang tercapai pada 13 Juli 2025 sebagai tonggak penting dalam sejarah hubungan Indonesia–Uni Eropa. Perjanjian tersebut lahir setelah hampir satu dekade negosiasi dan kini menjadi fondasi utama kerja sama ekonomi kedua pihak.
Bagi Indonesia, IEU-CEPA bukan sekadar perjanjian dagang, melainkan instrumen untuk memperluas akses pasar, menarik investasi, serta memperkuat posisi Indonesia di kawasan Asia Tenggara.
Perdagangan Tembus US$30 Miliar
Data terbaru menunjukkan hubungan ekonomi kedua pihak terus menguat. Pada 2024, nilai perdagangan Indonesia–Uni Eropa mencapai US$30,1 miliar, dengan Indonesia mencatat surplus sekitar US$4,5 miliar.
Ravindra optimistis implementasi IEU-CEPA akan menjadi akselerator baru bagi ekspor nasional sekaligus membuka ruang investasi yang lebih luas dan berkelanjutan.
Dimensi Geopolitik dan Stabilitas Kawasan
Tak hanya ekonomi, kerja sama Indonesia–Uni Eropa juga dinilai memiliki bobot strategis dalam menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Kedua pihak disebut memiliki kepentingan yang sejalan dalam mendukung ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) sebagai kerangka perdamaian dan keseimbangan kawasan.
Keterlibatan Uni Eropa dalam berbagai forum ASEAN, kata Ravindra, menjadi modal penting dalam membangun kepercayaan jangka panjang.
Potensi Komplementaritas Ekonomi
Ravindra melihat adanya komplementaritas kuat antara kedua pihak. Uni Eropa unggul dalam teknologi hijau, energi terbarukan, serta ekonomi maritim berkelanjutan. Sementara Indonesia memiliki kekuatan pada hilirisasi sumber daya alam, industri pertambangan, hingga produk turunan kelapa sawit dan mineral strategis.
Dengan basis pasar lebih dari 685 juta jiwa, kombinasi ini diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Parlemen sebagai Ruang Strategis
Menutup pertemuan, Ravindra menegaskan bahwa parlemen harus menjadi ruang dialog terbuka untuk membahas isu lintas kawasan, memperdalam pemahaman, dan mendorong kerja sama konkret.
Ia meyakini, penguatan hubungan Indonesia–Uni Eropa melalui jalur parlemen akan menjadi fondasi penting bagi kemitraan jangka panjang yang lebih adil dan saling menguntungkan. (A18)
Sumber: Parlementaria








Jadilah yang pertama berkomentar di sini