Info Market CPO
🗓 Update: Selasa, 5 Mei 2026 |14:54 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • LOCO NGABANG • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15260 14693 14800 15275 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
15075 14693 14700 15175 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • Segmen LOCO masih dalam tekanan harga
  • Belum ada transaksi pada beberapa titik lokasi
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Dunia

Lembaga HAM Belanda: Algoritma Iklan Lowongan Kerja Facebook Diskriminatif

facebook
facebook. ist

Amsterdam, Sinata.id – Netherlands Institute for Human Rights, lembaga HAM di Eropa, mengeluarkan putusan krusial yang menyatakan algoritma iklan lowongan kerja Meta (induk perusahaan Facebook) secara sistematis memperkuat stereotip gender, yang berujung pada hilangnya kesempatan kerja bagi pengguna di Eropa. Keputusan ini secara kritis menyoroti kegagalan Meta membuktikan bahwa sistem periklanan mereka bebas dari diskriminasi berbasis gender.

Lembaga tersebut, melalui keputusannya pada 18 Februari, menegaskan bahwa algoritma Meta memperkuat stereotip dengan menampilkan iklan “profesi yang umumnya dikaitkan dengan perempuan” kepada pengguna perempuan di Belanda.

Advertisement

Putusan ini diperkuat oleh hasil investigasi organisasi nirlaba Global Witness pada tahun 2023, yang menemukan bahwa iklan lowongan pekerjaan di Belanda dan lima negara lainnya (Prancis, India, Irlandia, Inggris, dan Afrika Selatan) secara rutin menargetkan pengguna berdasarkan stereotip.

Baca Juga  Satu Diserang, Semua Melawan! Negara-Negara Arab Satukan Kekuatan Hadapi Ancaman Israel

Contohnya, iklan untuk posisi mekanik didominasi oleh pria, sementara iklan guru taman kanak-kanak diutamakan untuk wanita. Temuan Global Witness ini menunjukkan bias algoritma Meta bersifat global.

Menanggapi putusan penting ini, seorang juru bicara Meta memilih untuk tidak memberikan komentar. Sikap diam ini kontras dengan pernyataan Meta sebelumnya pada tahun 2023, di mana juru bicara Ashley Settle mengklaim perusahaan telah menerapkan “batasan penargetan” di lebih dari empat puluh negara dan menegaskan bahwa mereka “tidak mengizinkan pengiklan menargetkan iklan ini berdasarkan jenis kelamin”—klaim yang secara langsung bertentangan dengan temuan Lembaga HAM Belanda.

Implikasi Hukum dan Konteks Diskriminasi Sistemik

Keputusan oleh Institut Hak Asasi Manusia Belanda ini, meski tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat, disambut baik oleh aktivis hak digital. Rosie Sharpe dari Global Witness dan Berty Bannor dari Bureau Clara Wichmann menyebutnya sebagai “langkah penting” dalam menuntut pertanggungjawaban perusahaan teknologi.

Baca Juga  Kecelakaan Pesawat Air Canada di LaGuardia Diduga Akibat Miskomunikasi Fatal

Para ahli hukum Belanda memprediksi putusan ini akan meningkatkan tekanan pengadilan. Anton Ekker, pengacara kecerdasan buatan, menyebut temuan ini dapat berujung pada denda dari otoritas perlindungan data atau perintah untuk mengubah algoritma yang menciptakan ketidaksetaraan dan merugikan kelompok marjinal. Jika Meta tetap abai, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) berpotensi mengambil tindakan hukum lebih lanjut.

Putusan ini muncul di tengah kondisi yang dikritik oleh aktivis sebagai melemahnya perlindungan hak digital, terutama bagi perempuan. Bulan lalu, Meta mengumumkan penghentian program keragaman, kesetaraan, dan inklusi (DEI) serta perubahan kebijakan yang kontroversial, seperti yang kini memungkinkan pengguna untuk merujuk pada “wanita sebagai benda rumah tangga” atau “orang transgender… sebagai ‘itu’”.

Baca Juga  Iran Kembali Ledakkan Bandara hingga Kantor Lembaga Negara di Kuwait

Selama sepuluh tahun terakhir, Meta juga berulang kali menghadapi tuduhan diskriminasi serupa di Amerika Serikat terkait iklan kredit, perumahan, dan ketenagakerjaan, menunjukkan masalah diskriminasi algoritma yang bersifat sistemik dan global. (*)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini