Jakarta, Sinata.id – Mantan Wakil Presiden (Wapres) ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), buka-bukaan mengenai perannya dalam perjalanan karier politik Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).
Ia mengaku sebagai sosok yang membawa Jokowi dari Solo ke Jakarta hingga akhirnya menjadi presiden.
Pernyataan tersebut disampaikan JK dalam konferensi pers di kediamannya di Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026). Ia ingin agar para “Termul” alias kelompok loyalis Jokowi mengetahui peran tersebut.
Hal ini juga merupakan klarifikasi atas polemik ceramahnya di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 5 Maret 2026 dalam rangka Ramadan 1447 Hijriah, yang turut menyinggung konflik di Ambon dan Poso.
JK menyebut polemik ceramah itu mencuat setelah dirinya melaporkan Rismon Sianipar ke polisi serta menyinggung isu ijazah Jokowi. Ia mengaku heran karena para pendukung Jokowi seolah menuduhnya melawan Jokowi.
“Siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta? Saya yang bawa ke Jakarta dari Solo untuk jadi gubernur. Saya yang bawa,” ujar JK.
Ia menjelaskan bahwa dirinya yang menemui langsung Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, untuk meyakinkan agar Jokowi diusung sebagai calon Gubernur DKI Jakarta.
“Saya bertemu Ibu Mega. Saya bilang, ini calon yang baik. Awalnya ragu, tapi akhirnya setuju. Setelah itu, jadilah gubernur,” tuturnya.
JK juga menunjukkan foto saat Jokowi datang menyampaikan ucapan terima kasih usai memenangkan Pilkada DKI Jakarta 2012, ketika berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Lebih lanjut, JK menegaskan bahwa perannya tidak berhenti di situ. Ia bahkan diminta oleh Megawati untuk mendampingi Jokowi sebagai wakil presiden karena Jokowi dinilai belum memiliki pengalaman nasional.
“Apa kurangnya saya coba? Saya yang bawa ke Jakarta. Kasih tahu semua itu Termul-termul itu, Jokowi jadi presiden karena saya. Tanpa jadi gubernur, mana bisa jadi presiden,” ujarnya.
Meski demikian, JK membantah adanya konflik pribadi dengan Jokowi. Ia menegaskan bahwa komentarnya terkait polemik ijazah semata-mata sebagai nasihat dari sosok yang lebih senior agar persoalan tidak berlarut-larut.
“Saya lebih tua dari dia. Jadi sebagai orang yang lebih senior, saya hanya menasihati. Saya tidak menuduh, tidak melawan. Tapi kenapa jadi sensitif,” katanya.
Klarifikasi Ceramah UGM dan Laporan Ormas
Dalam kesempatan yang sama, JK juga menanggapi laporan dari Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) bersama puluhan organisasi masyarakat ke Mabes Polri pada 12 April 2026.
Laporan tersebut terkait ceramah JK di Masjid Kampus UGM yang menyinggung istilah “mati syahid” dalam konflik Poso dan Ambon.
JK membantah tuduhan penistaan agama. Ia menegaskan bahwa pernyataannya merupakan analisis sosiologis mengenai konflik, bukan membahas doktrin teologis agama tertentu.
Menurut JK, dalam konflik tersebut, kedua belah pihak sama-sama keliru memahami ajaran agama sehingga terjadi kekerasan atas nama keyakinan.
Sementara itu, Ketua Umum GAMKI, Sahat Sinurat, mengecam pernyataan tersebut karena dinilai menyesatkan dan menyakiti umat Kristen.
Pertimbangkan Langkah Hukum
JK mengaku saat ini menjadi sasaran fitnah yang masif. Meski sempat meredam rencana aksi demonstrasi dari sejumlah pihak yang ingin membelanya, ia menyatakan tengah mempertimbangkan langkah hukum.
“Kami akan pertimbangkan langkah hukum. Kalau tidak dituntut, ini bisa terulang lagi,” tegasnya.
Kronologi Singkat Polemik Jusuf Kalla (April 2026)
12 April 2026: GAMKI dan puluhan ormas melaporkan JK ke polisi terkait ceramah di UGM.
15–17 April 2026: Polemik dan perdebatan di media sosial terkait peran JK dan isu ijazah Jokowi mencuat.
18 April 2026: JK menggelar konferensi pers untuk memberikan klarifikasi. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini