Info Market CPO
🗓 Update: Rabu, 13 Mei 2026 |18:41 WIB |Volume: 0.5K • 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • DMI • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14535 14399 (MNA) 14400 (PBI) 14750 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi transaksi DMI Persaingan harga masih cukup kompetitif antar bidder Tender LOCO PARINDU berakhir WD Tender FOB PALOPO belum terdapat bidder
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Regional

Imbas Keracunan Massal, 106 Dapur MBG Disegel

mbg disetop sementara di awal ramadan & libur idulfitri, ini jadwal penghentian dan waktu distribusi kembali
Penghentian sementara MBG di awal Ramadan menuai perhatian publik. BGN buka suara soal penyesuaian dan jadwal lanjutan. (Ist)

Sinata.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang awalnya digadang-gadang sebagai terobosan pemenuhan gizi anak sekolah, kini justru berubah menjadi badai kontroversi. Kasus keracunan massal di berbagai daerah membuat kepercayaan publik merosot tajam, dan pemerintah akhirnya turun tangan.

Orang tua yang dulu lega anaknya mendapat asupan gizi dari dapur MBG, kini justru dilanda cemas setiap kali jam makan tiba. Di balik slogan “Gizi untuk Generasi Emas”, laporan demi laporan keracunan muncul dari berbagai daerah.

Advertisement

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, akhirnya mengambil langkah tegas. Sebanyak 106 dapur penyedia makanan MBG resmi dihentikan operasionalnya setelah dinilai tidak memenuhi standar kelayakan.

“Sekarang ada 106 dapur yang kami hentikan operasionalnya. Baru 12 yang sudah kami rilis secara resmi,” ujar Dadan, dikutip Selasa (21/10/2025).

Baca Juga  KDM Minta Warga Laporkan SPPG Nakal: Bisa Dipidana

Penutupan massal dapur MBG ini disebut sebagai bentuk tanggung jawab negara dalam melindungi jutaan anak penerima program. Dadan menjelaskan, pihaknya kini bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan untuk memperbarui data keracunan secara real time.

Baca Juga: Indonesia Jadi Negara Pertama Miliki Lahan di Kota Suci Makkah

Data tersebut bahkan akan dibuka untuk publik melalui situs resmi BGN, bertepatan dengan rampungnya Peraturan Presiden tentang Tata Kelola MBG yang akan segera diterbitkan.

“Kita targetkan 82,9 juta penerima bisa tercapai hingga akhir 2025, paling lambat Februari 2026,” tambahnya.

Chef sekaligus podcaster populer Ray Janson menjadi salah satu yang paling vokal menyoroti krisis ini. Dalam tayangan Ray Janson Radio di YouTube, ia menilai langkah pemerintah terlalu lambat.

Baca Juga  Libur Sekolah, MBG Tetap Berjalan: Diambil atau Tidak Terserah

“JPPI mencatat lebih dari 10 ribu anak menjadi korban keracunan MBG. Penutupan 106 dapur seharusnya dilakukan jauh lebih cepat, bukan setelah korban terus bertambah,” tegas Ray.

Sementara itu, Ruben, seorang pengusaha katering sehat, mengusulkan agar Indonesia meniru sistem Kyushoku di Jepang, di mana orang tua ikut turun tangan menyiapkan makanan sekolah.

“Di Jepang, orang tua datang pagi-pagi membantu menyiapkan makanan anak-anak mereka. Sistem ini sudah berjalan sejak tahun 1930-an,” ungkapnya.

Menurut Ruben, keterlibatan langsung orang tua akan menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama dan memperkecil risiko kelalaian dapur besar.

Dua Tim Khusus Turun Tangan

Di sisi lain, BGN memastikan bahwa investigasi tengah berjalan serius. Dua tim khusus telah dibentuk untuk menelusuri penyebab utama gelombang keracunan ini.

Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, menjelaskan bahwa investigasi melibatkan banyak lembaga, yaitu Polri, BIN, BPOM, Kementerian Kesehatan, serta pemerintah daerah.

Baca Juga  Heboh! Uang Ditempel di Tutup Ompreng Makanan Bergizi Gratis, Ini Risiko Kesehatannya

“Dari internal kami ada Deputi Tauwas yang memantau dan mengawasi. Mereka bekerja sama dengan aparat dan lembaga lain agar hasilnya objektif,” jelas Nanik, Senin (29/9/2025) lalu.

Tim independen ini juga diperkuat oleh ahli kimia, farmasi, dan chef profesional. Mereka memeriksa rantai produksi, mulai dari kebersihan dapur, bahan baku, hingga cara penyajian.

Hasil awal menunjukkan bahwa sejak Januari hingga September 2025, sedikitnya 70 kasus keracunan telah dilaporkan, berdampak pada lebih dari 5.900 penerima MBG di berbagai daerah.

“Pendekatan multidisiplin ini penting. Tujuan kami bukan mencari kambing hitam, tapi memperbaiki sistem agar hal seperti ini tidak terulang,” tegas Nanik. [zainal/a46]

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini