Pematangsiantar, Sinata.id – Badai Matahari selama ini dikenal sebagai fenomena luar angkasa yang memengaruhi satelit dan sistem komunikasi di Bumi.
Namun, penelitian terbaru mengungkap kemungkinan adanya hubungan antara aktivitas Matahari dan gempa bumi.
Penelitian yang dilakukan tim ilmuwan dari Kyoto University menemukan indikasi bahwa gangguan ionosfer akibat badai Matahari berpotensi memengaruhi kestabilan kerak Bumi, khususnya pada zona patahan yang sudah berada dalam kondisi kritis.
Meski belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, penelitian tersebut membuka perspektif baru mengenai kemungkinan keterkaitan antara fenomena luar angkasa dan aktivitas geologi di Bumi.
Gangguan Ionosfer Diduga Pengaruhi Kerak Bumi
Dalam laporan yang dikutip dari Science Daily, Kamis (7/5/2026), para peneliti menjelaskan bahwa aktivitas Matahari seperti solar flare dapat memicu gangguan pada ionosfer, yaitu lapisan atmosfer atas yang bermuatan listrik.
Gangguan tersebut diduga menciptakan efek elektrostatik yang mampu menembus hingga ke dalam kerak Bumi. Zona patahan yang retak dan mengandung fluida bersuhu tinggi disebut dapat bertindak seperti kapasitor raksasa secara elektrik.
Ketika kepadatan elektron di ionosfer meningkat, muncul tekanan elektrostatik di rongga-rongga batuan kerak Bumi. Tekanan ini diperkirakan mencapai beberapa megapascal, setara dengan gaya alam lain yang diketahui memengaruhi kestabilan patahan.
Anomali Ionosfer Sebelum Gempa
Penelitian juga menyoroti sejumlah anomali ionosfer yang kerap muncul sebelum gempa besar terjadi. Fenomena tersebut meliputi peningkatan kepadatan elektron, penurunan ketinggian ionosfer, hingga perlambatan gelombang gangguan ionosfer.
Selama ini, perubahan tersebut dianggap sebagai dampak dari tekanan yang meningkat di dalam kerak Bumi. Namun, studi terbaru mengusulkan kemungkinan hubungan dua arah, yakni ionosfer juga dapat memberikan pengaruh balik terhadap kondisi patahan di Bumi.
Pendekatan ini dinilai membuka cara pandang baru bahwa gempa bumi tidak hanya dipicu dinamika internal planet, tetapi juga kemungkinan dipengaruhi faktor eksternal dari luar angkasa.
Belajar dari Gempa di Jepang
Para ilmuwan turut menyoroti sejumlah gempa besar di Jepang, termasuk gempa di Semenanjung Noto pada 2024 yang terjadi setelah periode aktivitas Matahari tinggi.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa kesamaan waktu tersebut belum bisa dijadikan bukti pasti adanya hubungan langsung antara badai Matahari dan gempa bumi.
Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memahami sejauh mana gangguan ionosfer dapat memengaruhi proses awal terjadinya gempa.
Ke depan, tim peneliti berencana menggabungkan teknologi tomografi ionosfer berbasis GNSS dengan data cuaca antariksa guna mempelajari hubungan tersebut secara lebih mendalam. (A02)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini