Info Market CPO
🗓 Update: Kamis, 30 April 2026 |18:09 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • FOB TDUKU • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO NGABANG • LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15312 15225 (KJA) 15400 (AGM) 15450 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15312 15225 (KJA) 15205 15450 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K · FOB TDUKU
15112 (PRISCOLIN) 14995 (MM) 15000 (AGM) 15250 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14787 14490 (MNA) 14600 (PBI) 15100 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
14762 14490 (MNA) 14500 (PBI) 15000 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
14947 14490 (MNA) 14600 (PBI) 15100 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Pasar cenderung melemah pada beberapa lokasi LOCO
  • Persaingan harga cukup ketat antar bidder
  • Masih terdapat beberapa grade tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Ekonomi & Bisnis

IHSG Berpotensi Variatif di Tengah Gejolak Global, Ini Analisis dan Proyeksinya

ihsg berpotensi variatif di tengah gejolak global, ini analisis dan proyeksinya
Ilustrasi pergerakan pasar saham. (kabarbursa)

Jakarta, Sinata.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (25/3/2026) diperkirakan bergerak variatif di tengah pelaku pasar yang masih mencermati perkembangan konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG melemah 22,22 poin atau 0,31 persen ke level 7.084,62. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan justru menguat 1,20 poin atau 0,17 persen ke posisi 723,60.

Advertisement

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyebutkan IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan dan menguji level support di kisaran 6.800 hingga 7.000.

“IHSG diperkirakan masih berpeluang melemah dan menguji area support tersebut,” ujarnya dalam kajian di Jakarta, Rabu (25/3/2026).

Dari faktor global, Presiden AS Donald Trump menyatakan rencana penghentian sementara konflik dengan Iran seiring adanya peluang negosiasi. Namun, Iran membantah telah terjadi kesepakatan, meskipun mengakui adanya pesan dari pihak ketiga terkait ajakan dialog.

Sebelumnya, Iran juga mengancam akan menyerang infrastruktur energi, teknologi informasi, dan fasilitas desalinasi milik AS dan Israel apabila terjadi serangan terhadap fasilitas energi mereka.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak dan gas memicu kewaspadaan bank sentral dunia terhadap potensi kenaikan inflasi. Sejumlah bank sentral utama seperti The Fed, European Central Bank (ECB), Bank of England (BoE), Bank of Japan (BoJ), dan Bank of Canada masih mempertahankan suku bunga acuannya.

Baca Juga  IHSG Diproyeksi Melemah Awal Pekan, Analis Waspadai Uji Level Support Kunci

The Fed sendiri masih membuka peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada tahun ini, meskipun pelaku pasar mulai meragukan realisasi kebijakan tersebut akibat kekhawatiran terhadap inflasi.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menurunkan ambang batas pembelian dolar AS yang wajib disertai dokumen pendukung menjadi 50 ribu dolar AS dari sebelumnya 100 ribu dolar AS. Kebijakan ini bertujuan meredam spekulasi yang berpotensi meningkatkan volatilitas rupiah.

Aturan tersebut mulai berlaku pada 1 April 2026 dengan masa transisi hingga 30 April 2026. Di sisi lain, BI juga meningkatkan batas transaksi lindung nilai (hedging) menjadi 10 juta dolar AS per transaksi dari sebelumnya 5 juta dolar AS.

Pemerintah juga tengah mengkaji langkah efisiensi anggaran, khususnya pada belanja Kementerian/Lembaga (K/L), guna menjaga disiplin fiskal di tengah kenaikan harga energi global.

Selain itu, opsi kebijakan work from home (WFH) satu hari per minggu atau penerapan sistem kerja empat hari bagi ASN dan sektor swasta turut dipertimbangkan untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).

“Investor saat ini menantikan arah kebijakan yang akan diambil pemerintah,” kata Ratna.

Baca Juga  IHSG Menguat Pekan Ini, Transaksi Saham BEI Ikut Melonjak

Pada perdagangan Selasa (24/3/2026), bursa saham Eropa bergerak variatif. Indeks Euro Stoxx 50 turun 0,08 persen, FTSE 100 Inggris naik 0,72 persen, DAX Jerman melemah 0,07 persen, dan CAC Prancis menguat 0,23 persen.

Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat di Wall Street ditutup melemah. Indeks S&P 500 turun 0,37 persen ke level 6.556,37, Nasdaq terkoreksi 0,77 persen ke 22.002,45, dan Dow Jones melemah 0,18 persen ke 46.124,06.

Di kawasan Asia, mayoritas indeks menguat pada perdagangan pagi ini. Indeks Nikkei naik 2,90 persen, Shanghai menguat 1,07 persen, Hang Seng bertambah 1,27 persen, dan Strait Times naik 0,72 persen.

Prospek IHSG Pasca Libur Panjang

IHSG juga diproyeksikan berpotensi menguat terbatas pada awal perdagangan pasca libur panjang Nyepi dan Lebaran. Sentimen ini didorong stabilitas pasar global selama periode libur serta peluang terjadinya technical rebound.

Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menjelaskan bahwa pasar saham global cenderung stabil bahkan menguat selama libur panjang, sehingga memberikan sentimen positif awal bagi pasar domestik.

Secara historis, IHSG kerap mengalami technical rebound setelah libur panjang, seiring kembalinya aliran dana ke pasar setelah sebelumnya investor melakukan aksi ambil untung (profit taking).

Baca Juga  IHSG Melonjak Usai Lebaran, Rupiah Menguat, Pasar Keuangan RI Diproyeksi Ceria Hari Ini

“Penguatan berpotensi terjadi, namun masih terbatas karena pasar berada dalam fase konsolidasi,” ujar Hendra.

Ia memperkirakan IHSG akan menguji level resistance di kisaran 7.150 hingga 7.200. Namun, investor tetap perlu mewaspadai risiko eksternal seperti tensi geopolitik, lonjakan harga energi, serta arah kebijakan suku bunga The Fed.

Jika tekanan global meningkat, IHSG berpotensi kembali melemah dan menguji level psikologis di angka 7.000.

Selain itu, pergerakan pasar pada pekan ini diperkirakan masih dipengaruhi perkembangan global selama libur, termasuk fluktuasi harga komoditas seperti emas dan energi.

Dari sisi likuiditas, aktivitas transaksi diperkirakan belum sepenuhnya pulih karena sebagian pelaku pasar masih dalam suasana libur Lebaran. Kondisi ini berpotensi membuat pergerakan indeks menjadi lebih fluktuatif.

Dalam situasi tersebut, investor disarankan untuk lebih selektif dan tidak terlalu agresif dalam transaksi jangka pendek. Strategi yang dapat diterapkan antara lain melakukan akumulasi bertahap pada saham berfundamental kuat serta memanfaatkan momentum technical rebound.

Selain itu, pendekatan buy on weakness juga dinilai lebih bijak dibandingkan pembelian dalam jumlah besar sekaligus. Investor juga perlu mencermati pergerakan dana asing, karena arus modal asing akan sangat memengaruhi arah IHSG ke depan. (A02)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini