Jakarta, Sinata.id – Situasi geopolitik di kawasan Arktik kembali memanas setelah NATO memutuskan mengerahkan personel militernya ke Greenland. Langkah ini langsung memicu reaksi keras dari Rusia yang menyatakan kewaspadaan tinggi terhadap perkembangan tersebut.
Greenland, wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark yang kaya sumber daya mineral, belakangan menjadi sorotan dunia internasional. Pulau strategis itu disebut-sebut masuk dalam radar kepentingan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, terutama terkait isu keamanan dan persaingan global di kawasan Arktik.
Ketegangan meningkat setelah Prancis, Swedia, Jerman, dan Norwegia mengumumkan rencana pengiriman personel militer ke ibu kota Greenland, Nuuk, pada Rabu (15/1/2026). Misi tersebut diklaim sebagai bagian dari operasi pengintaian dan pemantauan keamanan.
Pengerahan pasukan ini muncul tak lama setelah pertemuan antara pejabat Amerika Serikat, Denmark, dan Greenland di Washington gagal menghasilkan kesepakatan untuk meredam pernyataan kontroversial Trump terkait keinginannya mengambil alih wilayah tersebut.
Trump sebelumnya menilai Greenland memiliki nilai strategis penting bagi keamanan nasional Amerika Serikat. Ia bahkan mengklaim pulau itu berpotensi jatuh ke pengaruh China atau Rusia jika Washington tidak memperkuat kendali geopolitiknya.
Menanggapi situasi itu, Kedutaan Besar Rusia di Belgia menyampaikan keprihatinan mendalam. Moskwa menilai dinamika militer di wilayah lintang tinggi Arktik semakin mengarah pada eskalasi yang berbahaya.
Rusia juga menuding NATO memperluas kehadiran militernya dengan alasan ancaman keamanan yang dinilai dilebih-lebihkan, khususnya yang dikaitkan dengan Moskwa dan Beijing. Meski demikian, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Rusia maupun Kremlin terkait langkah NATO tersebut.
Pengamat menilai absennya pernyataan langsung dari Kremlin membuat sikap Rusia masih terbuka, namun tetap menunjukkan sinyal siaga terhadap perkembangan militer di kawasan Arktik.
Dalam beberapa tahun terakhir, Arktik memang menjadi arena persaingan baru antara Rusia dan NATO. Mencairnya es laut akibat perubahan iklim membuka peluang jalur pelayaran baru sekaligus eksploitasi sumber daya alam, mulai dari energi hingga pertambangan.
Di sisi lain, sikap Trump terhadap Greenland disebut memicu tekanan internal di tubuh NATO. Perbedaan pandangan antarnegara anggota mengenai masa depan pulau tersebut dinilai berpotensi mengganggu soliditas aliansi dalam mengambil keputusan bersama.
Kini, Greenland tak sekadar wilayah es di utara dunia, tetapi telah menjelma menjadi simbol baru perebutan pengaruh global, tempat kepentingan keamanan, ekonomi, dan rivalitas kekuatan besar saling beririsan. (A18)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini