Teheran, Sinata.id – Iran meningkatkan tekanan terhadap Washington dengan mengeluarkan peringatan langsung kepada unit elit Divisi Lintas Udara ke-82 menyusul laporan rencana pengerahan sekitar 3.000 tentara Amerika Serikat ke kawasan Timur Tengah.
Peringatan itu disampaikan di tengah eskalasi militer yang ditandai serangan rudal Iran ke Israel dan berkurangnya kehadiran kapal induk AS di wilayah tersebut.
Pejabat Iran menyatakan penambahan pasukan tidak akan mengubah keseimbangan kekuatan di lapangan, melainkan berpotensi membuka risiko konfrontasi langsung yang lebih luas.
Pernyataan itu juga menyinggung penarikan dua kapal induk utama AS—USS Gerald R. Ford dan USS Abraham Lincoln—yang disebut sebagai indikasi tekanan terhadap kehadiran militer Washington di kawasan.
Di pihak lain, laporan sejumlah pejabat AS menyebut Pentagon tengah mempertimbangkan berbagai skenario operasi, termasuk pengamanan infrastruktur strategis. Salah satu lokasi yang disebut dalam diskusi internal adalah Pulau Kharg di Iran, yang merupakan pusat utama ekspor energi negara tersebut.
Sementara itu, militer Iran mengumumkan peluncuran gelombang baru serangan rudal dan drone yang menargetkan sejumlah lokasi di Israel. Serangan tersebut mencakup area sekitar Bandara Ben Gurion, fasilitas industri militer di Haifa, serta titik-titik yang dikaitkan dengan aktivitas intelijen di wilayah tengah dan selatan Israel.
Menurut pernyataan resmi, operasi tersebut menggunakan berbagai sistem rudal balistik, termasuk Emad, Qadr, Sejjil, dan Kheibar Shekan, yang dikombinasikan dengan serangan drone terkoordinasi.
Iran menyatakan serangan itu dirancang untuk melemahkan kemampuan operasional jangka panjang, terutama pada sektor penerbangan, logistik, dan intelijen.
Iran juga mengklaim sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat sejumlah ancaman, termasuk rudal jelajah dan drone yang memasuki wilayah udaranya. Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Di laut, dinamika kekuatan turut berubah setelah USS Gerald R Ford ditarik dari operasi aktif akibat insiden kebakaran di atas kapal dan dialihkan menuju wilayah Kreta.
Penarikan itu terjadi setelah sebelumnya USS Abraham Lincoln juga meninggalkan kawasan, sehingga mengurangi jumlah kelompok tempur kapal induk AS yang beroperasi di Timur Tengah.
Di sisi lain, Iran memanfaatkan situasi tersebut untuk menegaskan posisinya bahwa kehadiran militer AS di Timur Tengah semakin menghadapi tantangan dalam konteks konflik yang berpotensi berkepanjangan. (A58)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini