Pematangsiantar, Sinata.id – Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Dr. Sanjay Bhojraj mengingatkan bahwa kebiasaan berdiam diri selama berjam-jam dapat meningkatkan risiko serangan jantung.
“Kebiasaan sehari-hari ini menggandakan risiko serangan jantung Anda, dan kebanyakan orang tidak memikirkannya dua kali,” ujar Sanjay, mengutip siaran Hindustan Times pada Senin (6/4/2026) waktu setempat.
Melalui unggahan di Instagram, ia menyampaikan bahwa berdiam diri merupakan salah satu masalah kesehatan yang kerap diabaikan masyarakat. Banyak orang lebih fokus pada isu diet atau merokok, padahal kurangnya aktivitas fisik menjadi pemicu utama penyakit jantung.
Selama lebih dari 20 tahun praktik, Sanjay mengamati bahwa kebiasaan tidak bergerak dalam waktu lama dapat memperlambat sirkulasi darah, meningkatkan kadar gula darah, serta memperbesar risiko pembekuan darah.
“Itulah yang menyebabkan risiko serangan jantung dan stroke meningkat,” jelasnya.
Solusi Sederhana, Tak Perlu Olahraga Berat
Sanjay menegaskan bahwa solusi untuk mengurangi risiko tersebut tidak harus melalui latihan berat di gym. Langkah sederhana seperti berdiri setiap 30–60 menit, berjalan kaki, atau melakukan beberapa gerakan squat sudah cukup membantu menjaga kesehatan jantung.
Didukung Data WHO
Temuan ini sejalan dengan data dari Organisasi Kesehatan Dunia. Dalam lembar fakta tahun 2024, WHO menyebut kurangnya aktivitas fisik sebagai salah satu faktor risiko utama kematian akibat penyakit tidak menular.
WHO melaporkan bahwa orang dewasa yang tidak memenuhi tingkat aktivitas fisik yang direkomendasikan memiliki risiko kematian 20 hingga 30 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang aktif.
Selain itu, perilaku sedentari (kurang gerak) menjadi kontributor langsung terhadap hipertensi dan obesitas, yang merupakan faktor utama pemicu gagal jantung.
Dampak Ekonomi dan Kesehatan Global
Studi yang dikutip WHO pada 2022 menunjukkan bahwa gaya hidup tidak aktif menyebabkan biaya perawatan kesehatan global mencapai sekitar 27 miliar dolar AS per tahun. Hal ini dipicu oleh meningkatnya kasus diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.
Para ahli juga menjelaskan bahwa duduk terlalu lama dapat memperlambat metabolisme tubuh. Ketika tubuh tidak bergerak, enzim yang berfungsi memecah lemak (lipid) dalam darah akan menurun.
Kondisi ini memperjelas bahwa gaya hidup modern yang didominasi aktivitas duduk di depan meja atau bersantai di sofa bertentangan dengan kebutuhan biologis tubuh manusia.
Sering duduk dalam waktu lama merupakan kebiasaan yang berbahaya dan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, termasuk serangan jantung. Oleh karena itu, penting untuk mulai menerapkan pola hidup aktif dengan cara sederhana dalam aktivitas sehari-hari. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini