Info Market CPO
🗓 Update: Kamis, 7 Mei 2026 |18:20 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 1K DMI • LOCO PARINDU • LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14782 14455 (MNA) 14600 (PBI) 15000 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 1K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Harga relatif stabil pada transaksi DMI
  • Selisih harga antar bidder sangat tipis
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Nasional

Diabetes Mengancam Anak, Perlu Edukasi Bahaya Gula ke Orang Tua

diabetes mengancam anak, perlu edukasi bahaya gula ke orang tua
Muhammad Habibur Rochman

Jakarta, Sinata.id – Anggota Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI, Muhammad Habibur Rochman, menilai pengendalian konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) tidak dapat bertumpu semata pada kebijakan cukai.

Ia menegaskan, peran edukasi publik—terutama kepada orang tua—menjadi kunci utama untuk melindungi generasi muda dari ancaman gula berlebih.

Advertisement

Pernyataan tersebut disampaikan Habib usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) BAM DPR RI bersama Forum Warga Kota Indonesia (FAKTA) dan Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Menurutnya, persoalan konsumsi gula pada anak bukan isu sederhana, melainkan masalah yang memerlukan pendekatan komprehensif.

“Kebijakan cukai memang penting sebagai alat pengendali. Namun tanpa dibarengi sosialisasi yang masif dan kesadaran dari keluarga, dampaknya tidak akan maksimal,” ujar legislator Fraksi Partai NasDem itu.

Baca Juga  Eyang Meri Dimakamkan di Bogor, Berdampingan dengan Jenderal Hoegeng

Ia mengungkapkan, dalam keseharian, anak-anak sering kali mengonsumsi minuman manis tanpa batas yang jelas. Tanpa pengawasan ketat dari rumah, kebiasaan ini berpotensi menimbulkan dampak kesehatan serius di kemudian hari.

“Orang tua perlu lebih peka terhadap apa yang masuk ke tubuh anak-anaknya. Ini bukan sekadar soal kebiasaan, tetapi menyangkut masa depan kesehatan mereka,” katanya.

Habib juga mengaitkan konsumsi gula berlebih dengan meningkatnya kasus gangguan ginjal dan kebutuhan cuci darah yang kini mulai ditemukan pada usia muda.

Ia menilai, langkah pencegahan harus lebih diutamakan daripada sekadar penanganan ketika penyakit sudah muncul.

“Kita tidak boleh menunggu sampai anak-anak jatuh sakit. Pencegahan melalui edukasi jauh lebih efektif. Peran sekolah dan keluarga harus diperkuat,” tegas wakil rakyat dari daerah pemilihan Jawa Timur VIII tersebut.

Baca Juga  Guru Dapat Angin Segar, Beasiswa hingga Tunjangan Naik di Hardiknas 2026

Di akhir, Habib menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan pemerintah, pengawasan, serta kampanye gaya hidup sehat. Ia menilai, perubahan perilaku di tingkat keluarga merupakan fondasi agar kebijakan negara benar-benar memberi dampak.

“Negara bisa mengatur lewat regulasi, tetapi keluarga juga wajib hadir melalui pengawasan dan kesadaran,” pungkasnya. (A18)

Sumber: Parlementaria

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini