Bogor, Sinata.id – Meriyati Hoegeng atau yang akrab disapa Eyang Meri dijadwalkan dimakamkan pada Rabu, 4 Februari 2026, di kawasan Tajur Halang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Almarhumah akan dimakamkan di dekat pusara mendiang suaminya, Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, mantan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri).
Kapolres Metro Kota Depok Kombes Pol Abdul Waras mengatakan, berdasarkan informasi dari pihak keluarga, prosesi pemakaman akan dilangsungkan di Bogor.
“Informasi dari keluarga, almarhumah akan dimakamkan besok di Tajur Halang, Bogor, berdekatan dengan makam Bapak Hoegeng,” ujar Abdul Waras saat ditemui di rumah duka di Perumahan Pesona Khayangan, Kota Depok, Selasa (3/2/2026).
Baca juga:Jenazah Antasari Azhar Dimakamkan di San Diego Hills
Berdasarkan pantauan di lokasi sekitar pukul 16.00 WIB, rumah duka mulai didatangi kerabat, tokoh masyarakat, serta aparat kepolisian dari Polres Metro Depok untuk melakukan pengamanan.
Meri meninggal dunia pada Selasa (3/2/2026) sekitar pukul 13.24 WIB di RS Bhayangkara Polri, Kramatjati, Jakarta Timur, setelah menjalani perawatan intensif akibat sakit. Almarhumah wafat pada usia 100 tahun.
Meri lahir pada 23 Juni 1925 dari pasangan Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe. Ia menikah dengan Hoegeng Iman Santoso pada 31 Oktober 1946 di Yogyakarta. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai tiga orang anak, yakni Sri Pamujining Rahayu, Reni Soerjanti, dan Aditya Soegeng Roeslani.
Putra almarhumah, Aditya Soetanto, menyampaikan bahwa prosesi pemakaman direncanakan berlangsung sebelum azan Zuhur.
“Almarhumah akan dimakamkan di samping makam almarhum Bapak, di pemakaman Giritama, Tonjong, Parung. Insyaallah sebelum Zuhur prosesi pemakaman sudah dapat dilaksanakan,” ujar Aditya.
Baca juga:Pelaku Teror Pantai Bondi Ditolak Dimakamkan Secara Islam
Hoegeng merupakan Kapolri kelima Republik Indonesia yang menjabat pada periode 1968–1971. Semasa hidupnya, Hoegeng dikenal luas sebagai simbol integritas, kesederhanaan, serta ketegasan dalam memberantas korupsi dan praktik gratifikasi di lingkungan kepolisian.
Selain berkarier di kepolisian, Hoegeng juga pernah dipercaya menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pada 1965 dan Menteri Sekretaris Kabinet Inti pada 1966 di era Presiden pertama RI, Sukarno.
Hingga wafat pada 14 Juli 2004, nama Hoegeng tetap dikenang sebagai teladan moral bagi aparat penegak hukum. Bahkan, Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah berseloroh, “Polisi yang baik itu cuma tiga: Pak Hoegeng, patung polisi, dan polisi tidur.”
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo turut menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Eyang Meri. Menurutnya, almarhumah merupakan sosok panutan dan sumber inspirasi bagi Korps Bhayangkara dan Bhayangkari.
“Polri sangat kehilangan sosok Meri. Beliau bukan hanya saksi sejarah, tetapi juga pelita keteladanan bagi kami. Semasa hidupnya, beliau menjadi inspirasi nyata bagi generasi penerus Polri untuk menjaga marwah institusi,” ujar Kapolri dalam keterangan resminya.
Baca juga:Remaja Korban Kecelakaan Kereta Api di Pematangsiantar Dimakamkan Hari Ini
Kapolri berharap seluruh amal ibadah almarhumah diterima di sisi Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.
Kesederhanaan dan keteguhan prinsip Meri menjadikannya figur yang dihormati banyak kalangan. Tidak sedikit tokoh nasional yang kerap bersilaturahmi ke kediamannya, terutama menjelang peringatan Hari Bhayangkara setiap 1 Juli. (A02)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini