Jakarta, Sinata.id – Sumatera kini berada dalam sorotan tajam para peneliti iklim. Berdasarkan proyeksi terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) hingga tahun 2040, Pulau Andalas ini diprediksi menjadi wilayah yang paling rentan dihantam cuaca ekstrem di Indonesia.
Profesor Erma Yulihastin dari Pusat Riset Klimatologi dan Perubahan Iklim BRIN menjelaskan bahwa ancaman ini merupakan dampak nyata dari krisis iklim global.
Dengan suhu bumi yang meningkat sekitar 1,5°C, frekuensi hujan badai dan angin kencang akan menjadi “normal baru” yang lebih intens.
”Kesiapsiagaan dan mitigasi tidak boleh lagi sekadar rutinitas. Kita butuh pembaruan data ilmiah secara berkala agar langkah pencegahan tetap relevan dengan perubahan alam yang cepat,” kata Erma (2/1/2026).
Menambal “Lubang” di Masa Pemulihan
Belajar dari tragedi besar seperti Tsunami Aceh dan gempa Palu, fase transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan jangka panjang sering kali menjadi titik terlemah.
Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) BRIN, M. Najib Azka, menyoroti adanya kesenjangan yang sering terjadi.
- Kesenjangan Kebijakan: Ketidaksinkronan antara instruksi pusat dengan realitas di lapangan.
- Kesenjangan Kebutuhan: Program bantuan yang terkadang tidak menyentuh kebutuhan rill masyarakat terdampak.
Menurut Najib, pemulihan sejati bukan hanya soal membangun kembali gedung yang runtuh, melainkan juga memulihkan ekonomi, kesehatan mental, dan mengembalikan rasa aman warga.
Dampak Sosial: Bukan Sekadar Angka
Bencana selalu meninggalkan jejak perubahan pada tatanan kependudukan. Ali Yansyah Abdurrahim, Kepala Pusat Riset Kependudukan BRIN, mengingatkan bahwa bencana akan mengubah struktur rumah tangga hingga memicu gelombang migrasi.
Fokus utama pemerintah harus diarahkan pada kelompok paling rentan agar pemulihan tidak tebang pilih.
Dalam hal ini, Universitas Syiah Kuala (USK) menekankan dua pilar krusial untuk anak-anak di wilayah bencana:
Pendidikan Darurat: Agar proses belajar tetap berjalan meski dalam keterbatasan.
Dukungan Psikososial: Menyembuhkan trauma demi masa depan jangka panjang.
Strategi “Buku Putih” dan R3P Sumatera
Pemerintah kini tengah mematangkan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) sebagai peta jalan pemulihan Sumatera.
Program ini dirancang kolaboratif, melibatkan pemerintah daerah, akademisi, hingga masyarakat sipil untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
Sebagai penguat, BRIN juga tengah menyusun “Buku Putih Pemulihan Pascabencana Sumatera”.
Dokumen strategis ini disusun melalui serangkaian diskusi lintas sektor untuk menghimpun pembelajaran dari berbagai perspektif sosial dan kependudukan.
Tujuannya satu: menciptakan sistem pemulihan yang inklusif, adil, dan berkelanjutan bagi seluruh warga Sumatera. []









Jadilah yang pertama berkomentar di sini