Ngada, Sinata.id – Kepolisian masih mengusut penyebab kematian seorang bocah sekolah dasar yang ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Penyelidikan dilakukan untuk memastikan ada atau tidaknya dugaan perundungan (bullying) terhadap korban.
Kapolres Ngada AKBP Andrey Valentino mengatakan penyidik tengah mendalami kasus tersebut dengan meminta keterangan sejumlah pihak, termasuk guru di sekolah tempat korban menempuh pendidikan.
“Penyidik telah memeriksa pihak sekolah, termasuk guru korban, untuk mengetahui apakah yang bersangkutan mengalami perundungan. Hal ini masih terus kami selidiki,” ujar Andrey, Rabu (4/2/2026).
Baca juga:Pria yang Gantung Diri Tinggalkan Pesan Haru di Dinding Gubuk
Ia menegaskan proses penyelidikan dilakukan secara profesional. Berdasarkan hasil visum sementara, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban.
“Motif sementara diduga karena korban merasa putus asa dan mengakhiri hidupnya. Sejauh ini tidak ditemukan indikasi kekerasan,” katanya.
Sempat Dinasehati Sang Ibu
Korban berinisial YBS (10), siswa kelas IV sekolah dasar, diketahui sempat tidur bersama ibunya pada malam sebelum ditemukan meninggal dunia. Berdasarkan keterangan ibunya, MGT (47), korban tidak masuk sekolah selama beberapa hari terakhir dengan alasan sakit setelah mandi hujan.
“Ibunya sempat menasehati agar korban kembali bersekolah dan tidak mandi hujan,” jelas Kapolres.
Seorang saksi mata bernama Gregorius Kodo mengungkapkan kondisi keluarga korban yang hidup dalam keterbatasan. Korban diketahui lebih sering tinggal bersama neneknya di sebuah pondok sederhana.
Baca juga:Penemuan Mayat Gantung Diri Gegerkan Nagori Purba Tongah
Kondisi Keluarga dan Latar Belakang
Saat kejadian, nenek korban yang berusia sekitar 80 tahun sedang berada di rumah tetangga. Ayah korban diketahui telah meninggal dunia sejak korban masih dalam kandungan. Korban merupakan salah satu dari lima anak yang diasuh oleh ibunya.
Sebelum kejadian, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan alat tulis. Namun permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.
DPR Minta Pendalaman Menyeluruh
Wakil Ketua DPR RI Cucun Sjamsurijal meminta aparat penegak hukum mendalami kasus ini secara menyeluruh agar penyebabnya menjadi terang.
“Pendalaman dari aparat penegak hukum sangat penting agar permasalahan ini jelas dan tidak disimpulkan secara sepihak,” ujar Cucun di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (4/2/2026).
Cucun menilai ketidakmampuan membeli perlengkapan sekolah tidak boleh menjadi satu-satunya kesimpulan. Ia membuka kemungkinan adanya faktor lain, termasuk perundungan atau tekanan psikologis.
“Jangan hanya disederhanakan pada persoalan alat tulis. Bisa jadi ada masalah lain yang lebih kompleks,” katanya.
Baca juga:Polsek Panei Tongah Evakuasi Warga Tewas Gantung Diri di Ladang Jagung
Ia juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa tersebut dan mendorong penguatan peran sekolah, terutama interaksi guru dengan siswa, guna mencegah kejadian serupa terulang. Menurutnya, aspek tersebut perlu mendapat perhatian serius dalam sistem pendidikan nasional.
Cucun meminta Komisi X DPR bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyiapkan langkah pencegahan yang lebih konkret, khususnya bagi anak-anak di wilayah dengan kondisi sosial ekonomi rentan.
Sebelumnya, Kapolda NTT Irjen Rudi Darmoko mengonfirmasi korban ditemukan meninggal dunia di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada. Berdasarkan penyelidikan awal, korban diduga merasa putus asa karena permintaannya terkait perlengkapan sekolah tidak dapat dipenuhi.
Kapolda NTT juga menyatakan telah memerintahkan Kapolres Ngada untuk memberikan bantuan material serta pendampingan psikologis kepada keluarga korban.
“Peristiwa ini bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga menyangkut aspek kemanusiaan dan kesehatan mental,” ujar Rudi.
*
Artikel ini memuat pembahasan mengenai bunuh diri. Informasi yang disajikan tidak dimaksudkan untuk menginspirasi, membenarkan, maupun mendorong tindakan tersebut dalam bentuk apa pun.
Apabila Anda atau orang terdekat sedang mengalami tekanan psikologis, gangguan kesehatan mental, atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segeralah mencari bantuan profesional. Konsultasi dapat dilakukan dengan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan jiwa di puskesmas maupun rumah sakit terdekat guna memperoleh pendampingan dan penanganan yang tepat. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini