Pematangsiantar, Sinata.id – Bulan Ramadhan identik dengan berbagai ucapan doa dan harapan kebaikan.
Dua ungkapan yang paling sering terdengar saat menyambut bulan suci adalah Ramadhan Kareem dan Ramadhan Mubarak. Keduanya berasal dari bahasa Arab dan digunakan sebagai bentuk sukacita sekaligus doa dalam menyambut ibadah puasa.
Meski sama-sama populer, tidak sedikit masyarakat yang belum memahami perbedaan makna di antara keduanya. Sekilas terdengar serupa, namun secara bahasa dan penekanan teologis, kedua frasa tersebut memiliki arti yang berbeda.
Apa Arti Ramadhan Kareem?
Secara bahasa, kata karim berarti mulia atau murah hati. Dalam ajaran Islam, Al-Karim merupakan salah satu dari Asmaul Husna yang merujuk pada sifat Allah SWT Yang Maha Pemurah.
Baca juga:99 Ucapan Selamat Puasa Ramadhan 1447 H/2026 Penuh Doa dan Makna
Jika diterjemahkan secara harfiah, Ramadhan Kareem berarti “Ramadhan yang murah hati” atau “Ramadhan yang bermurah hati.” Ungkapan ini umumnya dimaknai sebagai doa agar bulan Ramadhan dipenuhi kebaikan, kelapangan rezeki, serta semangat berbagi kepada sesama.
Namun, sebagian ulama menilai bahwa secara makna literal, sifat “karim” lebih tepat disematkan kepada Allah SWT, bukan kepada bulan Ramadhan. Sebab, yang memberi pahala, ampunan, dan keberkahan adalah Allah SWT, sementara Ramadhan hanyalah momentum yang dimuliakan.
Meski demikian, dalam praktik sosial, Ramadhan Kareem tetap dipahami sebagai ungkapan simbolik yang mencerminkan besarnya kemurahan Allah SWT pada bulan suci.
Apa Arti Ramadhan Mubarak?
Sementara itu, kata mubarak berarti diberkahi atau penuh keberkahan. Dengan demikian, Ramadhan Mubarak bermakna “Ramadhan yang diberkahi.”
Ungkapan ini dinilai lebih tepat secara bahasa dan akidah karena tidak menisbatkan sifat memberi kepada bulan Ramadhan. Keberkahan tetap dipahami berasal dari Allah SWT.
Baca juga:Bacaan Niat Puasa Ramadhan 1447 H Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Pendapat ini juga ditegaskan oleh ulama seperti Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin yang menyatakan bahwa yang memberi keutamaan adalah Allah SWT, bukan bulan Ramadhan itu sendiri.
Selain itu, terdapat hadis riwayat Imam Ahmad yang menyebut Ramadhan sebagai “bulan yang diberkahi.” Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa pada bulan Ramadhan pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Hal ini menjadi dasar kuat penggunaan istilah Ramadhan Mubarak.
Perbedaan Penekanan Makna
Secara sederhana, perbedaan keduanya terletak pada penekanan makna:
Ramadhan Kareem menekankan semangat kemurahan hati dan kedermawanan yang identik dengan Ramadhan.
Ramadhan Mubarak menekankan keberkahan dan kesucian bulan Ramadhan.
Meski terdapat perbedaan pandangan, kedua ucapan tersebut tetap dimaksudkan sebagai doa dan ungkapan kebahagiaan dalam menyambut bulan suci. Perbedaan ini sebaiknya disikapi secara bijaksana tanpa menimbulkan perdebatan yang tidak perlu.
Lebih dari Sekadar Ucapan
Pada akhirnya, esensi Ramadhan bukan terletak pada pilihan istilah, melainkan pada peningkatan kualitas ibadah. Ramadhan merupakan momentum untuk memperbanyak amal, memperbaiki diri, memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an, serta meningkatkan kepedulian sosial.
Baca juga:Hukum Mandi Besar Sebelum Puasa Ramadhan 1447 H, Wajib atau Tidak?
Ucapan selamat menyambut Ramadhan seharusnya menjadi pengingat untuk memperbaiki niat dan memperbanyak kebaikan, bukan sekadar tradisi tahunan.
Dengan memahami arti yang tepat, diharapkan setiap ucapan yang disampaikan menjadi doa yang tulus agar Ramadhan benar-benar menjadi bulan penuh keberkahan bagi seluruh umat Muslim. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini