Oleh: Pdt Manser Sagala, M.Th
Konsep kekudusan dalam iman Kristiani berakar pada sifat dasar Allah sendiri.
Untuk memahami siapa pemilik kekudusan dan bagaimana hal itu dibagikan kepada ciptaan-Nya, kita perlu melihatnya melalui beberapa dimensi Alkitabiah berikut:
1. Allah Sebagai Sumber dan Pemilik Kekudusan
Secara mutlak, kekudusan adalah milik Allah. Kekudusan bukan sekadar sifat yang dimiliki-Nya, melainkan esensi dari keberadaan-Nya yang membedakan Dia dari segala sesuatu yang diciptakan.
Yesaya 6:3: “Dan mereka berseru seorang kepada yang lain, katanya: ‘Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!’”
Wahyu 4:8: Ayat ini menegaskan bahwa kekudusan Allah bersifat kekal—Dahulu, Sekarang, dan Selamanya.
Allah adalah “Yang Mahakudus.” Kesucian-Nya berarti Ia sepenuhnya terpisah dari dosa, murni, dan tidak bercacat.
2. Kekudusan yang Diberikan kepada Manusia (Umat Allah)
Meskipun kekudusan adalah milik Allah, Ia memanggil umat-Nya untuk menjadi kudus. Kekudusan manusia bukan berasal dari usaha moral semata, melainkan karena hubungan dengan Allah yang kudus.
Imamat 19:2: “Berbicaralah kepada segenap jemaat Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.”
1 Petrus 1:15-16: “Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”
Dalam konteks ini, menjadi kudus berarti “dikhususkan” atau dipisahkan dari cara hidup duniawi untuk dipersembahkan bagi tujuan Allah.
3. Yesus Kristus: Kekudusan yang Menjelma
Dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus dinyatakan sebagai “Yang Kudus dari Allah.” Melalui pengorbanan-Nya, kekudusan Allah yang sebelumnya tidak terjangkau oleh manusia berdosa, kini dipakaikan kepada orang percaya.
Ibrani 10:10: “Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.”
Kekudusan kita saat ini bersifat posisional (kita dianggap kudus di mata Allah karena Kristus) dan praktis (kita berjuang hidup kudus setiap hari dengan bantuan Roh Kudus).
4. Roh Kudus: Agen Pengudusan
Ketiga Pribadi Tritunggal terlibat dalam kekudusan. Roh Kudus (Spritualis Sanctus) bekerja dalam hati manusia untuk mengubahkan karakter kita agar semakin serupa dengan gambaran Allah.
2 Tesalonika 2:13: “…Allah telah memilih kamu dari mulanya untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai.”
Ringkasan:
Secara teologis, kekudusan adalah:
Milik Allah secara esensial: Hanya Ia yang kudus pada diri-Nya sendiri.
Milik Umat-Nya secara derivatif: Manusia menjadi kudus karena “dipanggil keluar” dan disucikan oleh darah Kristus.
Tujuan Hidup: Kekudusan adalah standar yang Allah tetapkan bagi setiap orang yang ingin melihat Dia (Ibrani 12:14).
Catatan Penting:
Kekudusan bukan tentang menjadi “tanpa cela” secara instan, melainkan tentang penyerahan diri secara utuh kepada Allah yang adalah pemilik sah dari seluruh kehidupan kita.
“Kekudusan bukan tentang siapa yang paling sempurna di hadapan manusia, tetapi siapa yang paling sungguh menyerahkan hidupnya kepada Allah. Saat hati melekat kepada Tuhan, hidup akan memancarkan terang kekudusan-Nya bagi dunia.” (A27)
Tuhan Yesus memberkati kita semua cp konseling dan Doa permohonan Pdt Manser sagala MTh gembala sidang Gereja Kemenangan Iman Indonesia GKII Pekanbaru 0811762709.
Manna Ministry










Jadilah yang pertama berkomentar di sini