Washington D.C., Sinata.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat pernyataan mengejutkan dari Gedung Putih, Sabtu (21/2), bahwa ia tengah mempertimbangkan opsi serangan militer terbatas terhadap Iran, sebagai langkah untuk menekan pemerintah Teheran dalam negosiasi terkait program nuklir dan hubungan bilateral kedua negara.
Dalam jumpa pers singkat dengan para wartawan, Trump terbuka soal rencana ini. “Saya kira saya bisa mengatakan bahwa saya sedang mempertimbangkannya,” ujar Trump ketika ditanya apakah serangan militer menjadi salah satu opsi jika kesepakatan dengan Iran gagal dicapai, dikutip Sabtu (21/2/2026).
Keputusan tersebut muncul di tengah ketegangan diplomatik yang memuncak antara Washington dan Teheran, di mana pembicaraan nuklir tidak menunjukkan hasil yang memuaskan dan tenggat waktu diplomatik yang diberikan AS semakin mendekat.
Baca Juga: RI–AS Teken Deal Energi Rp 200 Triliun, Impor LPG dan BBM dari Amerika Melonjak
Menurut laporan media internasional, beberapa opsi militer tengah disiapkan oleh Pentagon, termasuk kemungkinan serangan terarah ke fasilitas pemerintah atau militer Iran, tergantung pada respons dari Teheran dalam beberapa hari ke depan.
Sumber-sumber intelijen AS bahkan menyebut bahwa strategi yang dibahas bisa melampaui serangan kecil: ada pertimbangan untuk menargetkan tokoh rezim tertentu dan bahkan potensi operasi yang dapat mengarah pada perubahan pemerintahan jika negosiasi benar-benar gagal.
Langkah ini, menurut para analis, ditujukan untuk memberi tekanan maksimal sekaligus menghindari eskalasi besar yang bisa memicu perang penuh di kawasan. Namun, banyak pemerhati politik menilai bahwa batas antara serangan “terbatas” dan perang luas bisa cepat hilang.
Sementara itu, dari sisi Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan bahwa Teheran tengah menyiapkan draf proposal balasan untuk negosiasi nuklir, yang diharapkan siap dalam beberapa hari ke depan.
Araghchi menegaskan bahwa Iran tetap membuka ruang diplomasi meski Washington terus meningkatkan tekanan militer, menambahkan bahwa negosiasi tersebut bertujuan mencapai solusi yang adil dan damai bagi kedua belah pihak.
Trump sebelumnya memberi tenggat waktu 10 hingga 15 hari kepada Teheran untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya — yang menurutnya masih terlalu lama untuk menunggu tanpa hasil. “Kita akan membuat kesepakatan atau mendapatkannya, bagaimanapun caranya,” kata Trump seraya menunjukkan ketidakpuasan atas jalannya negosiasi.
Ancaman ini datang bersamaan dengan penempatan dan penyiapan pasukan AS di kawasan Timur Tengah, memicu kekhawatiran di tingkat global soal potensi konflik yang lebih luas.
Reaksi atas potensi serangan AS ini bervariasi tajam. Di dalam negeri AS sendiri, sejumlah anggota parlemen tengah mempertimbangkan resolusi untuk membatasi wewenang Presiden dalam memutuskan serangan militer tanpa persetujuan Kongres — sebuah langkah yang menunjukkan kekhawatiran terhadap eskalasi konflik.
Sementara itu, negara-negara di kawasan dan sekutu AS memperingatkan bahwa konfrontasi militer terbuka dapat mengguncang stabilitas kawasan yang sudah rapuh, memicu lonjakan harga energi dan risiko serangan balasan dari kelompok pro-Iran. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini