Info Market CPO
🗓 Update: Kamis, 04 Juni 2026 |17:08 WIB |Volume: 0.5K • 0.5K • 0.5K • 0.5K • 0.5K • 0.5K DMI • BLW • FOB TDUKU • FRC TBAYUR • FRC PLMBG • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
MERANTI7 N4 (MERANTI7)
Vol: 0.5K · DMI
15025 (AGM) 15010 (IBP) 14921 (EUP) 15075 AGM ACC
N4 N4 (N4)
Vol: 0.5K · BLW
15025 (ARM) 15010 (MM) 14951 (EOP) 15075 ARM ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K · FOB TDUKU
14825 (AGM) 14785 (MM) 14736 (PRISCOLIN) 14875 AGM ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K · FRC TBAYUR
14880 (WIRA) 14759 (WNI) 8000 (PRCW) 14945 WIRA ACC
N7 N4 (N7)
Vol: 0.5K · FRC PLMBG
14875 (AGM) 14860 (MM) 14771 (PRISCOLIN) 14925 AGM ACC
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Tender PTPN didominasi transaksi ACC dengan persaingan harga yang cukup ketat antar bidder. AGM memenangkan tender DMI, FOB TDUKU, dan FRC PLMBG, sementara ARM unggul di BLW dan WIRA memenangkan tender FRC TBAYUR. Tender LOCO LUWU belum terdapat bidder.
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Ekonomi & Bisnis

Harga BBM Berpotensi Naik 1 April 2026, Ini Faktor Penyebabnya

harga bbm berpotensi naik 1 april 2026, ini faktor penyebabnya
Ilustrasi pengisian BBM di SPBU. (ptpertamina)

Jakarta, Sinata.id – Pemerintah berpotensi melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) mulai 1 April 2026 pukul 00.00 WIB.

Masyarakat diimbau untuk menunggu pengumuman resmi terkait perubahan harga BBM yang biasanya dilakukan setiap tanggal 1 setiap bulannya. Informasi terbaru dapat dipantau melalui laman resmi Pertamina di masing-masing wilayah.

Advertisement

Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah harga BBM bersubsidi maupun non-subsidi akan mengalami kenaikan atau penurunan.

Ketidakpastian tersebut dipengaruhi oleh dinamika pasar minyak dunia, termasuk meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang berdampak pada jalur perdagangan minyak global, seperti Selat Hormuz.

Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia dalam beberapa waktu terakhir, sehingga berpotensi memengaruhi kebijakan penyesuaian harga BBM di dalam negeri.

Selain itu, penyesuaian harga BBM juga mengacu pada formula dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022, yang mempertimbangkan harga acuan, nilai tukar rupiah, serta komponen pajak.

Pada periode Februari ke Maret 2026, sejumlah BBM non-subsidi mengalami kenaikan harga. Pertamax naik dari Rp11.800 menjadi Rp12.300 per liter, Pertamax Green (RON 95) dari Rp12.450 menjadi Rp12.900, dan Pertamax Turbo dari Rp12.700 menjadi Rp13.100 per liter.

Baca Juga  Harga CPO Tender PTPN Turun Rp114 per Kg, Berlaku hingga 15 Desember 2025

Untuk jenis solar non-subsidi, Dexlite naik dari Rp13.250 menjadi Rp14.200 per liter, sedangkan Pertamina Dex meningkat dari Rp13.500 menjadi Rp14.500 per liter.

Sementara itu, BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar masih dipertahankan masing-masing di harga Rp10.000 dan Rp6.800 per liter.

Ekonom: Kenaikan Harga BBM Cukup Logis

Kenaikan harga minyak mentah global yang telah melampaui 100 dolar AS per barel mulai berdampak pada penyesuaian harga BBM non-subsidi di dalam negeri.

Ekonom Universitas Airlangga (Unair), Wisnu Wibowo, menilai kenaikan tersebut merupakan konsekuensi logis karena skema penetapan harga mengikuti mekanisme pasar internasional.

“Kenaikan harga BBM non-subsidi merupakan konsekuensi karena penetapannya mengikuti harga pasar global,” ujar Wisnu, Senin (30/3/2026).

Ia memprediksi kenaikan harga BBM non-subsidi masih berada dalam kisaran moderat, yakni sekitar 5 hingga 10 persen.

Baca Juga  Harga BBM 1 Mei 2026 Tak Naik, Pertamina Pertahankan Tarif Pertamax hingga Solar

Menurutnya, penyesuaian harga BBM mengacu pada indikator Mean of Platts Singapore (MOPS) dan Argus, serta dipengaruhi nilai tukar rupiah yang dinamis.

“Variabel harga acuan dan kurs sangat dinamis, sehingga wajar jika terjadi penyesuaian harga di tingkat eceran,” jelasnya.

Wisnu menambahkan, badan usaha juga memiliki kewenangan dalam menentukan harga jual BBM non-subsidi dengan tetap melaporkannya kepada pemerintah.

Tekanan Global dan Dampak Fiskal

Lonjakan harga minyak dunia yang menembus 100 dolar AS per barel turut memberikan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Setiap kenaikan 1 dolar AS harga minyak diperkirakan dapat menambah beban negara hingga Rp6,7 triliun.

Meski demikian, pemerintah diperkirakan tidak akan terburu-buru menaikkan harga BBM secara luas, terutama untuk jenis bersubsidi. Penyesuaian harga menjadi opsi terakhir jika tekanan fiskal semakin meningkat.

Di kawasan Asia Tenggara, sejumlah negara telah lebih dulu menaikkan harga BBM sejak akhir Februari 2026. Negara dengan mekanisme pasar penuh seperti Thailand dan Vietnam mengalami kenaikan lebih tajam.

Baca Juga  Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.650 per Liter di Pematangsiantar, Warga Mengeluh

Sementara itu, Malaysia yang masih memberikan subsidi mampu menahan kenaikan harga, sedangkan Singapura mencatat harga BBM tertinggi di kawasan karena tidak menerapkan subsidi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia masih relatif stabil di tengah tekanan global, dengan kenaikan BBM non-subsidi yang moderat serta BBM bersubsidi yang tetap menjadi penopang daya beli masyarakat.

Proyeksi Analis

Sejumlah analis memproyeksikan kenaikan harga BBM non-subsidi mulai April 2026. Pertamax diperkirakan bisa mencapai kisaran Rp13.500 hingga Rp14.500 per liter.

Sementara itu, Pertamina Dex diprediksi naik hingga Rp16.000–Rp16.500 per liter.

Kenaikan ini dipicu oleh harga minyak mentah Brent yang mencapai sekitar 115 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi harga minyak dalam APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel.

Meski demikian, pemerintah masih memiliki opsi untuk menahan kenaikan harga, terutama untuk BBM bersubsidi, guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat. (A02)

 

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini