Oleh : PS Dion Ponomban
Perubahan hidup rohani tidak hanya dimulai dari tindakan, tetapi juga dari perubahan pola pikir. Dalam kehidupan kekristenan, pikiran menjadi salah satu medan utama yang menentukan seseorang semakin mengenal Tuhan atau justru menjauh dari-Nya.
Hal tersebut disampaikan dalam renungan “Saat Teduh Abba Home Family” edisi Kamis, 4 Juni 2026, yang mengangkat pembacaan Alkitab dari 2 Corinthians 10:4-6. Melalui bagian firman ini, jemaat diajak memahami pentingnya meruntuhkan “benteng-benteng” dalam pikiran yang dapat menghambat pertumbuhan rohani.
Dalam renungan dijelaskan bahwa Rasul Paulus menegaskan senjata orang percaya bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata rohani yang berasal dari kuasa Allah. Senjata tersebut diyakini mampu menghancurkan berbagai kubu pemikiran yang dibangun oleh keangkuhan manusia dan yang menentang pengenalan akan Tuhan.
Paulus juga menekankan pentingnya menawan setiap pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus. Pesan ini menjadi pengingat bahwa pergumulan terbesar manusia sering kali terjadi di dalam batin dan pikirannya sendiri, seperti ketakutan, kekhawatiran, trauma, rasa rendah diri, maupun pikiran negatif lainnya.
Melalui proses pemuridan dan pendampingan rohani, perubahan paradigma dinilai menjadi salah satu tujuan penting agar seseorang dapat memahami kehendak Tuhan yang baik, berkenan, dan sempurna sebagaimana tertulis dalam Epistle to the Romans 12:2.
Renungan tersebut juga mengajak setiap orang untuk melakukan evaluasi diri melalui sejumlah pertanyaan perenungan, di antaranya mengenai perbedaan senjata duniawi dan senjata Allah, arti benteng-benteng dalam kehidupan rohani, hingga kondisi pikiran pribadi yang mungkin masih dipenuhi hal-hal negatif.
Firman Tuhan dalam 2 Corinthians 10:4-6 menegaskan bahwa kuasa Allah sanggup meruntuhkan segala bentuk kubu yang menghalangi manusia mengenal-Nya secara benar. Karena itu, setiap orang percaya diajak untuk terus menjaga pikiran agar tetap tertuju kepada Kristus dan tidak dikuasai oleh ketakutan maupun kekhawatiran.
Pertumbuhan rohani dimulai dari pikiran yang diperbarui oleh firman Tuhan. Ketika setiap ketakutan, kekhawatiran, dan pikiran negatif ditaklukkan kepada Kristus, maka hidup akan dipenuhi damai sejahtera dan pengenalan yang benar akan Allah. Sebab kemenangan sejati bukan hanya terlihat dari apa yang dilakukan manusia, tetapi dari bagaimana ia menjaga hati dan pikirannya tetap berada dalam kehendak Tuhan. (A27)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini