Info Market CPO
🗓 Update: Rabu, 13 Mei 2026 |18:41 WIB |Volume: 0.5K • 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • DMI • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14535 14399 (MNA) 14400 (PBI) 14750 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi transaksi DMI Persaingan harga masih cukup kompetitif antar bidder Tender LOCO PARINDU berakhir WD Tender FOB PALOPO belum terdapat bidder
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Nasional

Kisah Nyata Prajurit TNI Jadi Miliarder Berkat SDSB

kisah nyata prajurit tni jadi miliarder berkat sdsb
Ilustrasi TNI kaya mendadak (Istimewa)

Jakarta, Sinata.id –Nasib baik bisa datang tanpa diduga. Hal ini dialami Kapten Marinir Suseno, seorang pra⁸jurit TNI, yang mendadak menjadi kaya raya setelah memenangkan hadiah besar dalam undian Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB).

Peristiwa mengubah hidup Suseno terjadi pada 7 Mei 1991, saat ia dipanggil langsung oleh Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Sudomo, untuk menerima hadiah uang tunai yang fantastis. Keberuntungan ini datang bukan dari prestasi militer, melainkan dari kupon SDSB yang dibelinya seharga Rp5.000.

Advertisement

Berdasarkan laporan Suara Pembaruan edisi 8 Mei 1991, Suseno berhasil meraih Rp1 miliar dari SDSB periode ke-14. Kemenangan ini langsung mengubah hidupnya dari prajurit biasa menjadi miliarder, sebuah prestasi finansial yang luar biasa pada masanya.

Baca Juga  Revisi UU Persaingan Usaha Tekankan Regulasi Dumping Digital dan Predatory Pricing

Nilai Fantastis Rp1 Miliar pada 1991

Uang Rp1 miliar pada 1991 memiliki daya beli yang sangat besar. Sebagai perbandingan:

Harga rumah di kawasan elit Pondok Indah, Jakarta, saat itu hanya Rp80 juta per unit, sehingga Suseno bisa membeli 12 rumah sekaligus.

Harga emas hanya Rp20 ribu per gram, artinya Rp1 miliar setara dengan 50 kg emas. Jika dikonversi ke harga emas saat ini (Rp1 juta per gram), nilai tersebut setara Rp50 miliar.

Dengan kekayaan sebesar itu, Suseno bisa menikmati hidup tanpa bekerja seumur hidupnya.

Mengenal Undian SDSB

SDSB adalah program resmi Kementerian Sosial era Pemerintahan Soeharto, berlaku sejak 1 Januari 1989. Program ini dirancang untuk menarik dana dari masyarakat dan mengalokasikannya untuk pembangunan, sambil menawarkan hadiah uang tunai terbesar hingga Rp1 miliar.

Baca Juga  Perayaan Natal Diharapkan Meneguhkan Semangat Kebhinekaan Bangsa

Cara ikutannya mudah: beli kupon, tunggu pengumuman pemenang yang biasanya dilakukan setiap Rabu malam lewat radio, dan jika nomor sesuai, peserta berhak mendapatkan hadiah. Namun peluang menang sangat kecil, hanya 1-2 orang dari jutaan peserta, menjadikan pemenang seperti Suseno sangat istimewa.

Popularitas SDSB membuat berbagai kalangan, mulai petani hingga prajurit TNI, ikut berlomba membeli kupon. Tak jarang mereka bahkan meminta bantuan dukun untuk menebak nomor pemenang.

Kontroversi dan Akhir SDSB

Meski banyak orang mendadak kaya, SDSB dianggap mirip perjudian. Aktivis Sri Bintang Pamungkas dalam bukunya Ganti Rezim Ganti Sistim (2014) menilai SDSB seperti “judi yang dilegalkan pemerintah”. Karena kontroversi dan protes dari masyarakat, program ini akhirnya dihentikan pada 1993.

Baca Juga  Kebakaran SPBE Cimuning Bekasi: 15 Orang Terluka, Luka Bakar Capai 90 Persen

Kisah Kapten Suseno menjadi bukti nyata bagaimana keberuntungan bisa mengubah hidup seseorang secara drastis, bahkan hanya dengan membeli kupon seharga Rp5.000.

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini