Info Market CPO
🗓 Update: Rabu, 13 Mei 2026 |18:41 WIB |Volume: 0.5K • 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • DMI • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14535 14399 (MNA) 14400 (PBI) 14750 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi transaksi DMI Persaingan harga masih cukup kompetitif antar bidder Tender LOCO PARINDU berakhir WD Tender FOB PALOPO belum terdapat bidder
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Nasional

Prediksi Musim Kemarau 2026 di Indonesia, Ini Jadwal dan Puncaknya

prediksi musim kemarau 2026 di indonesia, ini jadwal dan puncaknya
Ilustrasi musim kemarau. (great_bru)

Jakarta, Sinata.id – Perubahan cuaca mulai terasa dalam beberapa waktu terakhir. Udara pagi cenderung lebih kering, sementara sinar matahari terasa semakin terik. Kondisi ini menandakan Indonesia tengah memasuki masa peralihan atau pancaroba menuju musim kemarau.

Lalu, seperti apa prediksi musim kemarau 2026 di Indonesia? Apakah akan berlangsung ekstrem seperti tahun-tahun sebelumnya, atau cenderung normal?

Advertisement

Cuaca ekstrem tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga berpengaruh pada ketersediaan air bersih, harga pangan, hingga kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, memahami pola musim menjadi hal penting agar masyarakat dapat bersiap lebih dini.

Prediksi Awal Musim Kemarau 2026

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan datang lebih awal dibandingkan biasanya.

Baca Juga  Presiden Minta BRIN Manfaatkan Periset Hebat Tanah Air

Sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada periode April hingga Juni 2026. Awal kemarau akan terjadi secara bertahap, dimulai dari wilayah Nusa Tenggara, kemudian meluas ke Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.

Pada April 2026, wilayah yang mulai mengalami kemarau antara lain sebagian Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), serta sebagian Sulawesi Selatan.

Memasuki Mei 2026, kemarau meluas ke wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Sementara pada Juni 2026, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan telah memasuki musim kemarau.

Puncak Musim Kemarau 2026

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada bulan Agustus 2026.

Sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami kondisi paling kering pada periode tersebut, termasuk wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Baca Juga  Antisipasi Kemarau Ekstrem 2026, Bupati Taput Usulkan Penguatan Irigasi ke Kementan

Namun, beberapa wilayah lain berpotensi mengalami puncak kemarau lebih awal pada Juli, atau sedikit lebih lambat pada September 2026.

Kondisi dan Dampak Kemarau

Secara umum, musim kemarau 2026 diprediksi cenderung lebih kering dan berlangsung lebih lama di sebagian wilayah Indonesia.

BMKG mencatat sekitar 57,2 persen wilayah akan mengalami durasi kemarau yang lebih panjang dari normal. Selain itu, sekitar 64,5 persen wilayah diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal.

Kondisi ini berpotensi menimbulkan sejumlah dampak, antara lain:

Krisis air bersih, terutama di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan

Penurunan produksi pertanian yang dapat memicu kenaikan harga pangan

Baca Juga  Pemerintah Kucurkan Bantuan Rp8 Juta per KK untuk Korban Banjir di Aceh, Sumut-Sumbar

Gangguan kesehatan, seperti dehidrasi dan infeksi saluran pernapasan

Tips Menghadapi Musim Kemarau

Untuk mengurangi dampak kemarau, masyarakat dapat melakukan beberapa langkah antisipasi, antara lain:

Mengonsumsi air putih minimal 2–3 liter per hari

Menggunakan tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan

Menghemat penggunaan air di rumah

Menyimpan cadangan air bersih

Menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan

Musim kemarau 2026 diperkirakan datang lebih awal, berlangsung lebih lama, dan cenderung lebih kering di sebagian besar wilayah Indonesia.

Dengan memahami pola dan dampaknya, masyarakat diharapkan dapat lebih siap dalam menghadapi perubahan cuaca serta meminimalkan risiko yang ditimbulkan. (A02)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini