Info Market CPO
πŸ—“ Update: Senin, 4 Mei 2026 |15:05 WIB |Volume: 0.5K β€’ 0.3K β€’ 0.2K β€’DMI β€’ FOB TDUKU β€’ LOCO PARINDU β€’ LOCO KEMBAYAN β€’ LOCO NGABANG β€’ LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K Β· DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15415 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K Β· DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15145 EUP ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K Β· FOB TDUKU
15198 (PRISCOLIN) 15097 (PAA) 15100 (AGM) 15215 PRISCOLIN ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K Β· LOCO PARINDU
14875 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K Β· LOCO KEMBAYAN
14850 14589 (MNA) 14600 (PBI) 14965 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K Β· LOCO NGABANG
15035 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K Β· LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • PRISCOLIN unggul pada FOB TDUKU
  • Segmen LOCO masih cenderung melemah dan belum merata
πŸ‘₯Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Nasional

Pesona Gebyak Wayang Topeng Malang 2025 yang Penuh Getaran Gaib

boon pring berubah menjadi ruang spiritual saat gebyak wayang topeng malang digelar. asap dupa dan musik gamelan menciptakan energi gaib.
Boon Pring berubah menjadi ruang spiritual saat Gebyak Wayang Topeng Malang digelar. Asap dupa dan musik gamelan menciptakan energi gaib. (Ist)

Sinata.id – Suara gamelan berpadu dengan desir angin sore di Boon Pring, Turen. Di bawah cahaya lampu panggung yang hangat, derap langkah para penari topeng menggema pelan namun pasti, membawa ribuan penonton menyelami kisah Panji yang hidup kembali dalam balutan gerak dan warna. Begitulah pesona Gebyak Wayang Topeng Malang 2025, perayaan budaya yang digelar pada 8–9 November di kawasan wisata Boon Pring, Kabupaten Malang.

Tak sekadar pertunjukan, gebyak kali ini menjadi puncak kemeriahan Festival Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kabupaten Malang 2025, sekaligus bukti nyata bahwa seni tradisi masih berdetak di tengah laju modernisasi. Tari Topeng Malang, yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2014 dan kisah Panji-nya masuk daftar Memory of the World UNESCO pada 2017, kembali menegaskan kejayaannya sebagai ikon budaya Jawa Timur.

Advertisement

Panggung Kolosal Bernuansa Mistis dan Elegan

Hari pertama festival dibuka dengan penampilan lima sanggar tari, yakni Madyo Utomo, Dharmo Langgeng, Sailendra, Bayu Candra Kirana, dan Condro Kirono. Gerak tubuh mereka lembut namun berwibawa, setiap topeng menyimpan karakter, dari kegagahan Panji hingga kelembutan Candrakirana.

Baca Juga  Legislasi Berkualitas Butuh Penataran Berkelanjutan

Di balik gemerlap itu, maestro Topeng Malang, Ki Soleh Adi Pramono, menjadi pengarah artistik, sementara Eko Ujang dari Komunitas Tari Laras Aji memandu jalannya pertunjukan dengan narasi penuh jiwa.

Ribuan pasang mata terpaku pada setiap lenggokan penari. Alunan gamelan mengalir, seolah menjadi denyut nadi yang menghidupkan ruang dan waktu. Malam di Boon Pring pun berubah menjadi panggung magis tempat seni, spiritualitas, dan kebanggaan lokal bertemu.

Baca Juga:Β Akademisi UB Raih Penghargaan Dunia Lewat Inovasi Alat Bedah Domy Brush Suction

Warisan yang Terus Bernapas

Kepala Bidang Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Hartono, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi strategi pelestarian budaya yang terintegrasi dengan pariwisata daerah.

Baca Juga  Pemimpin Desa Diminta Perkuat Partisipasi Masyarakat Lewat Forum Diskusi di Bantur

β€œTari Topeng Malang punya daya tarik luar biasa. Melalui gebyak ini, kami ingin menghidupkan kembali ruang publik sebagai panggung seni tradisi agar generasi muda ikut mencintai dan melestarikannya,” ujarnya, Minggu (9/11/2025).

Senada dengan itu, Ketua Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur, Suroso, menyebut para seniman Topeng Malang sebagai penjaga identitas budaya.

β€œBagi kami, para pelaku topeng bukan hanya penari, tapi pewaris nilai luhur masyarakat Jawa Timur. Gebyak bukan sekadar pertunjukan, melainkan napas kehidupan dalam tradisi bersih desa dan hajatan rakyat,” tuturnya.

Kolaborasi Seni dan Ekonomi Kreatif

Pada hari kedua, panggung kembali hidup dengan lima kelompok lain, yakni Padepokan Mangun Dharma, Asmoro Bangun, Madyo Laras, Ngesti Pandowo, dan Mantraloka. Masing-masing menghadirkan kekhasan tersendiri, memperkaya ragam gaya Topeng Malang yang terbentuk dari karakter tiap wilayahnya.

Baca Juga  Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Ini Rincian Santunan dan Hak Keluarga

Namun pesona festival tak berhenti di panggung. Di area Boon Pring, masyarakat menikmati Pasar Deling yang menampilkan produk UMKM, pameran Ekraf, lomba band pelajar, hingga pemutaran film lokal. Semua berpadu menjadi ekosistem budaya yang menghidupkan kembali denyut ekonomi kreatif daerah.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Purwoto, menegaskan pentingnya menjadikan budaya sebagai motor penggerak ekonomi rakyat.

β€œFestival Ekraf adalah wujud sinergi antara seniman, pelaku usaha kreatif, dan masyarakat. Kesenian seperti Tari Topeng Malang tidak hanya harus lestari, tapi juga memberi manfaat nyata bagi pariwisata dan ekonomi lokal,” jelasnya.

Festival ini menjadi bukti bahwa Kabupaten Malang bukan hanya punya alam indah, tapi juga jiwa yang menari di antara tradisi dan kemajuan. Dan dari panggung kecil di Turen, gema Topeng Malang kembali menggema, dari desa hingga dunia. [a46]


penulis: zainal efendi
sumber: –

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini