Jakarta, Sinata.id – Gelombang penipuan berkedok jasa ekspedisi kembali menghantui ruang digital. Kali ini, modus “paket tertukar” menyebar cepat lewat WhatsApp dan media sosial, memancing korban untuk menyerahkan data transaksi hingga saldo dompet digital.
Kasus ini mencuat setelah sineas Fajar Nugros membagikan tangkapan layar pesan mencurigakan yang mengatasnamakan perusahaan logistik. Dalam pesan itu, pengirim mengklaim kiriman Fajar “bermasalah” dan tidak dapat dilanjutkan karena tertukar dengan paket pelanggan lain.
Pesan tersebut tampak meyakinkan. Ada nama penerima, nomor resi, bahkan alasan teknis yang seolah berasal dari sistem ekspedisi.
“Paket kakak sekarang ketukar sama customer lain, dari expedisi salah input nomor resi,” bunyi pesan itu, dikutip Kamis (5/2/2026).
Tak berhenti di situ, pengirim kemudian mengarahkan agar paket diklaim sebagai retur dan menjanjikan pengembalian dana melalui dompet digital. Syaratnya: korban diminta mengirim tangkapan layar riwayat pesanan, nominal pembayaran, lalu mengklik tautan menuju “admin” via WhatsApp.
Namun, langkah cepat dilakukan pihak resmi. JNE menegaskan pesan tersebut bukan berasal dari sistem mereka dan mengandung indikasi kuat penipuan.
“Hai kak @fajarnugros, mohon maaf. Perihal tersebut indikasi penipuan ya kak, mohon diabaikan. Untuk pengecekan lebih lanjut kiriman kakak bisa diinfokan nomor resinya ya. Thanks,” tulis akun resmi JNE.
Target: Data dan Uang Digital
Pakar keamanan siber menyebut modus ini sebagai evolusi penipuan lama dengan kemasan lebih rapi. Pelaku tak lagi meminta transfer langsung, melainkan menggiring korban menyerahkan data yang kemudian dipakai untuk menguras akun atau dompet digital.
Sementara itu, Siber Polda Metro Jaya juga mengingatkan publik soal berbagai pola penipuan berbasis paket yang kini marak beredar. Setidaknya ada lima modus yang sering muncul, di antaranya:
- COD Polisi Palsu
- Scan QR Paket Tertukar
- File APK Cek Resi
- Paket Nyasar (COD Fiktif)
- Link Tracking Palsu
Jangan Klik, Jangan Kirim Data
Otoritas dan perusahaan ekspedisi menegaskan, kurir resmi tidak pernah meminta transfer lewat chat, tidak mengirim file APK, dan tidak meminta data transaksi pribadi.
Masyarakat diimbau untuk selalu melakukan pengecekan nomor resi melalui aplikasi atau situs resmi, serta mengabaikan pesan yang mengarahkan ke tautan tidak dikenal. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini