Info Market CPO
πŸ—“ Update: Senin, 4 Mei 2026 |15:05 WIB |Volume: 0.5K β€’ 0.3K β€’ 0.2K β€’DMI β€’ FOB TDUKU β€’ LOCO PARINDU β€’ LOCO KEMBAYAN β€’ LOCO NGABANG β€’ LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K Β· DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15415 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K Β· DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15145 EUP ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K Β· FOB TDUKU
15198 (PRISCOLIN) 15097 (PAA) 15100 (AGM) 15215 PRISCOLIN ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K Β· LOCO PARINDU
14875 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K Β· LOCO KEMBAYAN
14850 14589 (MNA) 14600 (PBI) 14965 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K Β· LOCO NGABANG
15035 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K Β· LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • PRISCOLIN unggul pada FOB TDUKU
  • Segmen LOCO masih cenderung melemah dan belum merata
πŸ‘₯Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
News

Utang Negara Melonjak 31,7 Persen, Purbaya Pertimbangkan Stop Penerbitan SBN

menteri keuangan purbaya yudhi sadewa menyatakan pemerintah mempertimbangkan pengurangan penarikan utang negara dalam apbn 2025 demi efisiensi anggaran. utang tidak akan diterbitkan jika tidak diperlukan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah mempertimbangkan pengurangan penarikan utang negara dalam APBN 2025 demi efisiensi anggaran. Utang tidak akan diterbitkan jika tidak diperlukan. (Ist)

Sinata.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberi sinyal bahwa pemerintah tidak akan memaksakan penarikan utang baru dalam APBN 2025 jika anggaran negara masih mampu ditutup tanpa tambahan utang. Kebijakan efisiensi ini disebut sebagai upaya menghindari pemborosan bunga utang dan memastikan setiap rupiah APBN digunakan secara efektif.

Pernyataan itu disampaikan Purbaya menjawab pertanyaan awak media mengenai strategi pemerintah mengelola ruang fiskal dan mencegah keborosan anggaran, terutama pada pos belanja yang realisasinya sering meleset dari perencanaan.

Advertisement

β€œKalau ada anggaran yang tidak dipakai, kenapa harus dipaksakan diterbitkan utang? Daripada uangnya menganggur, lebih baik saya gunakan untuk mengurangi penarikan Surat Berharga Negara (SBN),” tegas Purbaya, dikutip Kamis (16/10/2025).

Baca Juga  Total Kekayaan Rp39 Miliar, Menkeu Purbaya Masuk Radar Sorotan Publik

Purbaya menegaskan bahwa utang bukan keharusan dalam APBN, melainkan instrumen pembiayaan yang penggunaannya harus logis dan terukur. Menurutnya, efisiensi anggaran tidak hanya bisa dilakukan melalui pengalihan pos belanja, tetapi juga dengan memangkas kebutuhan utang sejak awal.

β€œKalau tidak perlu, kenapa harus diterbitkan sesuai target? Justru itu bentuk inefisiensi. Terbitkan surat utang tapi dananya tidak terpakai, malah menambah beban bunga di masa depan,” ujarnya.

Ia bahkan membuka kemungkinan menghentikan penerbitan utang baru hingga akhir tahun jika kas negara masih mencukupi.

Baca Juga:Β Menkeu Purbaya Sentil Danantara Terlalu Nyaman di Obligasi

Utang Negara Melonjak 31,7 Persen

Sikap tegas Purbaya ini bukan tanpa alasan. Data Kementerian Keuangan menunjukkan total pembiayaan utang hingga September 2025 sudah mencapai Rp458 triliun, atau 69,2 persen dari target pembiayaan APBN tahun ini yang mencapai Rp662 triliun.

Baca Juga  Purbaya Blacklist Importir Balpres, Sinyal Perang Terhadap Thrifting Ilegal

Dalam satu tahun, angka itu sudah melompat 31,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, APBN masih mencatat defisit Rp371,5 triliun atau setara 1,56 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Meski begitu, keseimbangan primer masih aman, mencatat surplus Rp18 triliun, angka yang dianggap positif oleh pasar keuangan.

Penerimaan Negara Turun, Belanja Tetap Tinggi

Defisit fiskal makin melebar karena pendapatan negara menurun, sementara belanja negara tetap besar.

Komponen APBN 2025 (s.d. September) Realisasi Perbandingan Tahun Lalu
Penerimaan Negara Rp1.863,3 triliun Turun 7,2%
Belanja Negara Rp2.234,8 triliun Turun 0,8%
Defisit Anggaran Rp371,5 triliun Naik 52,7%

Meski angka defisit meningkat, pemerintah memastikan APBN tetap terkendali dan berada pada jalurnya. Purbaya menegaskan bahwa disiplin fiskal akan menjadi prioritas, terlebih memasuki tahun politik yang sensitif.

Baca Juga  Iklan Media Sosial Ungkap Jejak Balpres dari China, Purbaya: Segera Kita Sikat!

β€œYang penting efisiensi, tidak memboroskan uang rakyat, dan memastikan setiap rupiah tepat sasaran,” tutupnya. [zainal/a46]

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini