Jakarta, Sinata.id – Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan peranannya dalam menghentikan eskalasi konflik antara India dan Pakistan tahun lalu dengan mengancam tarif perdagangan sebagai alat tekanan. Pernyataan ini disampaikan Trump dalam wawancara dengan Fox Business, dikutip Rabu (11/2/2026).
“Menurut saya, itu akan menjadi perang nuklir. Tanpa tarif, hal itu tidak akan terjadi,” ujar Trump.
Konflik bersenjata antara kedua negara tetangga yang sama-sama memiliki senjata nuklir itu terjadi pada Mei 2025, menandai bentrokan terparah dalam beberapa dekade. Selama empat hari, kedua pihak saling menyerang target militer dan sipil menggunakan pesawat tempur, drone, dan artileri, setelah insiden penembakan di Kashmir yang menewaskan 26 orang, sebagian besar turis India. India menuding Pakistan sebagai pihak bertanggung jawab, sementara gencatan senjata akhirnya tercapai pada 10 Mei.
Baca Juga: Prabowo Geram, OJK Telusuri Surat MSCI yang Diduga Tak Dibalas
Klaim Trump muncul beberapa hari setelah Amerika Serikat mengumumkan kesepakatan perdagangan dengan India, yang menurunkan tarif Washington menjadi 18% terkait pembelian minyak Rusia, dari level hukuman 50% yang berlaku sejak Agustus 2025. Meski negosiasi kedua negara masih berjalan, pernyataan Trump menimbulkan pertanyaan apakah hal itu akan memengaruhi jalannya kesepakatan.
Trump menekankan bahwa perdagangan digunakan sebagai “alat tawar-menawar” untuk mencegah permusuhan lebih lanjut. Ia mengutip pernyataan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang menurut Trump menyatakan intervensi AS telah menyelamatkan jutaan nyawa.
“Presiden Trump menyelamatkan setidaknya 10 juta nyawa ketika dia membuat kita menghentikan pertempuran,” kata Trump menirukan pernyataan Sharif.
Klaim Trump disambut Pakistan, tetapi ditolak keras oleh India. New Delhi menegaskan bahwa Islamabad yang mencari perdamaian setelah India menargetkan instalasi militer utama. Hubungan antara Washington dan New Delhi sempat memanas sepanjang tahun terakhir akibat kontroversi ini.
Menteri Informasi Pakistan Attaullah Tarar hingga kini belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan Trump. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini