Teheran, Sinata.id – Ketegangan militer di kawasan Timur Tengah mulai melumpuhkan salah satu jalur energi terpenting di dunia. Di perairan sekitar Selat Hormuz, kapal-kapal tanker minyak kini terlihat menumpuk, menunggu situasi keamanan membaik sebelum berani melintas.
Informasi dihimpun Selasa (10/3/2026), data pelacakan kapal menunjukkan jumlah tanker yang berkumpul di sekitar Teluk Persia terus bertambah dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini memperburuk gangguan lalu lintas di jalur pelayaran strategis yang menjadi pintu utama ekspor energi dari Timur Tengah ke pasar global.
Situasi tersebut muncul setelah serangkaian serangan terhadap kapal komersial di sekitar kawasan Teluk Oman dan pintu masuk Selat Hormuz. Beberapa kapal dilaporkan menjadi sasaran rudal dan drone, memicu kepanikan di kalangan operator pelayaran internasional.
Baca Juga: Harga Minyak Global Tergelincir, CPO Ikut Terseret Turun di Bursa Komoditas
Akibatnya, banyak kapal tanker memilih berhenti di perairan Teluk Persia atau bahkan memutar haluan sebelum memasuki selat tersebut. Sebagian lainnya mematikan sinyal pelacakan kapal untuk mengurangi risiko menjadi target serangan.
Penurunan lalu lintas terlihat sangat tajam. Data dari platform pemantauan pelayaran menunjukkan hanya empat tanker besar yang melintas di Selat Hormuz pada awal Maret, padahal sehari sebelumnya jumlahnya mencapai 22 kapal.
Pusat Informasi Maritim Gabungan atau Joint Maritime Information Center (JMIC) bahkan menaikkan status keamanan pelayaran di kawasan tersebut ke level “kritis”, level tertinggi dalam sistem peringatan mereka. Langkah itu diambil setelah konfirmasi adanya serangan terhadap sejumlah kapal komersial di wilayah perairan sekitar Teluk.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia yang diangkut lewat laut melewati selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut. Gangguan di jalur ini langsung memicu kekhawatiran pasar energi internasional.
Tidak hanya minyak mentah, jalur ini juga menjadi rute utama pengiriman gas alam cair (LNG), terutama dari Qatar yang merupakan salah satu eksportir terbesar di dunia. Jika gangguan berlangsung lama, rantai pasok energi global berpotensi terguncang.
Para analis memperingatkan, penumpukan kapal tanker di Teluk Persia bisa menimbulkan dampak berantai. Negara produsen energi dapat menghadapi keterbatasan ruang penyimpanan jika ekspor terhambat terlalu lama, sementara negara importir harus bersiap menghadapi lonjakan harga energi.
Dengan meningkatnya jumlah kapal yang menunggu di luar Selat Hormuz, pasar energi kini menatap kawasan tersebut dengan penuh ketegangan. Bagi industri minyak global, apa yang terjadi di jalur sempit itu bukan sekadar gangguan pelayaran—melainkan potensi krisis energi berskala dunia. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini