Moskow, Sinata.id – Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang mengancam pasokan energi dunia, minyak mentah Rusia justru masih dijual jauh lebih murah dibanding harga pasar global. Fenomena ini menjadi perhatian pelaku pasar energi karena terjadi ketika harga minyak dunia sedang terdorong naik oleh konflik di berbagai kawasan.
Data terbaru yang dikutip pada Kamis (5/3/2026) menunjukkan minyak mentah jenis Urals, salah satu komoditas ekspor utama Rusia, masih diperdagangkan dengan potongan harga sangat besar dibandingkan patokan global. Selisihnya bahkan mencapai sekitar US$30,9 per barel di bawah harga acuan Dated Brent, salah satu diskon terdalam dalam beberapa tahun terakhir.
Situasi ini terjadi ketika konflik geopolitik meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak global.
Baca Juga: Terjaring OTT KPK, Fadia A Rafiq Akui Tak Paham Teknis Birokrasi: “Saya dari Dunia Musik”
Ketegangan geopolitik di berbagai kawasan, termasuk Timur Tengah dan konflik yang masih berlangsung di Ukraina, telah mendorong harga minyak dunia mengalami reli dalam beberapa waktu terakhir.
Namun di tengah lonjakan harga tersebut, minyak Rusia tidak ikut melonjak setara dengan pasar global. Sebaliknya, Moskow tetap menjual minyaknya dengan potongan harga besar untuk mempertahankan aliran ekspor.
Menurut data dari Argus Media yang dikutip Bloomberg, diskon minyak Urals yang diekspor dari pelabuhan barat Rusia justru sedikit melebar dibanding sebelumnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar masih membutuhkan insentif harga agar bersedia membeli minyak Rusia.
Harga diskon besar tersebut tidak lepas dari dampak sanksi Barat yang dijatuhkan kepada Rusia sejak invasi skala penuh ke Ukraina.
Sanksi ekonomi yang berlangsung selama beberapa tahun terakhir membuat jumlah pembeli minyak Rusia semakin terbatas. Banyak negara Barat menghentikan impor atau membatasi transaksi energi dari Moskow.
Akibatnya, Rusia harus menawarkan harga jauh lebih rendah untuk menarik minat pembeli di pasar internasional.
Padahal secara kapasitas produksi, Rusia tetap menjadi salah satu pemain terbesar dalam industri energi global. Negara itu berada di posisi tiga besar produsen minyak mentah dunia, bersaing dengan Amerika Serikat dan Arab Saudi.
Sejak sanksi diberlakukan, peta perdagangan minyak Rusia berubah drastis.
Jika sebelumnya sebagian besar ekspor menuju Eropa, kini pembeli utama minyak Rusia berasal dari negara-negara yang tidak ikut menerapkan sanksi energi, terutama di kawasan Asia.
Namun bahkan di pasar tersebut, diskon harga masih menjadi faktor utama agar minyak Rusia tetap kompetitif.
Para analis menilai diskon besar ini merupakan strategi Moskow untuk menjaga volume ekspor tetap stabil meskipun akses pasar menyusut.
Meski dipenuhi ketegangan geopolitik, pasar minyak global masih sangat bergantung pada pasokan dari Rusia.
Gangguan terhadap ekspor negara tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi dunia, mengingat peran Rusia yang besar dalam rantai pasokan minyak global.
Karena itu, meskipun minyak Rusia dijual dengan harga lebih rendah, keberadaannya tetap menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan pasokan energi dunia. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini